Dikisahkan, seseorang manusia yang bukan dari kasta ksatria, apalagi brahma, tetapi mampu merangkak menjadi pembesar negeri. Ia tidak memiliki turunan bangsawan, ningrat, bahkan nabi. Tetapi, karena dharmanya – sikap dan budi pekertinya – membuat ia dihormati rakyat dan disegani para musuhnya. Di akhir masa hidupnya, setelah memimpin negeri entah berantah, ia memutuskan kembali ke asal jati dirinya; tukang kayu. Ia sadar siapa dirinya, tidak ada pembawaan seorang pembesar, mengharap kemapanan bukan wataknya.

Kembali ke desa dan memulai usaha kayunya adalah pilihannya. Sebab ia tidak ingin dikenal sebagai pembesar, apalagi bangsawan. Ia ingin dikenal sebagai orang biasa, sebagai manusia, hidup sederhana, dan berkecukupan. Sudah. Itu saja. Harta itu titipan, jangan sekali-kali punya sifat iri, begitu pesan ibundanya. Yang membuatnya sulit dikorek-korek kesalahan, bahkan tabiat buruknya, oleh lawan yang nampak dan yang tidak tampak.

Saking sulitnya dikorek kesalahannya, ia pernah tertawa geli ketika mendengar komentar salah seorang dalang di acara debat pada suatu saluran televisi swasta nasional. Dalang itu menerangkan, banyak orang membenarkan perilakunya, dan bila ditemukan kesalahan maka yang diserang bukan dirinya, tapi bawahannya. Resi, mahapatih, dan sederet tim suksesnya.

“Sekarang lebih gawat dari pada rezim lalu, sistem sensor tidak dijalankan oleh negara, tapi oleh rakyat sendiri. Terbukti, saya bikin naskah pedalangan atau drama, kalau isinya atau berkesan mengkritik pemerintah, maka para aktor enggan main. Heran aku,” kata si dalang dengan mimik panik dan bercampur guyon.

Padahal, ia sendiri tidak punya kesaktian, dan jimat-jimat yang menghalaunya dari marabahaya. Ia pun juga tidak memiliki satuan aparat yang khusus menjaga dirinya. Setiap menjalankan kunjungan kerja, diusahakannya lepas dari pengamanan bahkan protokol. Mendengar komentar si dalang itu, ia tidak lantas membuat kepalanya mengembang dan melayang ke angkasa. Ia malah tertawa, karena yang dipuji bukan dirinya, ia tidak yakin dirinya sehebat itu. Ia anggap semua yang sudah ia lakukan itu; biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang baru.

Selepas turun dari tahta, ia punya banyak waktu luang, selain berkebun dan memulai usaha kayunya lagi, sesekali mengunjungi toko buku bersama cucunya. Ah, orang-orang ini berlebihan, batinnya dalam hati ketika melihat beberapa buku yang memuat namanya di halaman sampul dengan judul yang – menurutnya – aneh-aneh. Mengada-ada bahkan. Misal, Tukang Kayu People Power. Ah, masak? Ia bertanya pada diri sendiri. Dan tertawa sambil menunjukkan buku itu kepada cucunya. Si cucu pun tak kalah geli menertawakannya.

Di saat itu, ia terngiang-ngiang ketika ribuan wartawan mengerubunginya, dan menghujaninya pertanyaan. Yang intinya satu soal; bagaimana langkah selanjutnya pasca purna jabatan?

“Apa yang bapak lakukan selepas masa jabatan berakhir?” Tanya salah satu wartawan.

“Ada kah partai yang menawari kursi pimpinan untuk bapak?”

“Bapak berminat membuat partai sendiri?”

“Mungkin bapak punya keinginan membangun bisnis multinasional?”

“Atau bapak punya secuil kepentingan mengamandemen UUD 1945 supaya dinobatkan presiden seumur hidup?”

Semua wartawan terkejut, dan pemirsa yang menonton secara live konferensi pers tersebut, karena jawabannya di luar dugaan. Dan dikira khayalan.

“Saya? Setelah ini ingin kembali jadi tukang kayu,” jawabnya tenang dengan intonasi yang tegas.

Beberapa pimpinan partai dan loyalisnya yang duduk di sampingnya saling berpandangan satu sama lain. Mereka keheranan dengan jawabannya. Sebagian dari mereka menganggap itu gurauan dan gimick belaka. Sebagian lagi memahaminya sebagai suatu keseriusan, karena mereka mengenalnya sebagai orang yang mampu memposisikan diri. Keinginannya jadi tukang kayu, bukan pemanis bibir, atau supaya menjadi viral. Melainkan, asli. Keluar dari pikirannya, dari hatinya, tanpa desakan dan tekanan. Memang sudah ia rencanakan sejak lama.

Tentu, keputusannya itu mengagetkan segenap barisan koalisinya dan relawannya. Sebab, ia sangat diandalkan dan digantungkan supaya kepentingannya tersalurkan. Ketika ia menepi dari belantika dunia persilatan, kepada siapa lagi ujung tombak yang bisa diharapkan? Seorang perempuan, Bu Ketua Partai yang mengusungnya tak kalah cemas. Selain sudah dianggap sebagai anak, ia mengharap kelak jadi penerusnya, mengomando partai terbesar ini.

Dalam hatinya, walau tidak pernah dikatakan, berkatnya lah partai yang ia pimpin mendapat kepercayaan yang luar biasa besar dari rakyat. Namun, rasa terima kasih yang teramat itu ia tutupi karena gengsi kedudukan.

“Nak,” kata Bu Ketua membuka percakapan saat ia diundang ke rumahnya.
Ia hanya mengangguk dan sedikit membungkukkan badan.

“Kamu sungguh ingin kembali menjadi tukang kayu.”

“Betul, Bu.”

“Kalau aku boleh memberi saran. Urungkan niatmu. Aku, maaf, maksudku kami, masih membutuhkan kamu.”

“Membutuhkan, dalam hal apa, Bu?” Tanyanya dengan menatap mata Bu Ketua.

“Memimpin partai ini,” katanya sambil membuka tangan, “Kalau bukan kamu, para pengurus dan loyalis pasti akan pecah.”

Sejenak ia terdiam, memandang secangkir tehnya yang telah dingin. Ia mengambil cangkir itu dan menenggaknya. Pelan sekali. Hingga ia bisa mendengar cegukan di tenggorokannya. Kemudian, meletakkannya kembali di tepi meja. Suasana hening. Hanya derit suara AC yang keluar menghembuskan udara dingin.

Sesaat ia teringat dengan lakon pewayangan yang acap diceritakan oleh bapak maupun ibunya menjelang tidur. Setelah Pandawa memenangkan perang Batarayudha atas Kurawa dan mengambil alih kekuasaan di Astina, tidak lantas membuat Pandawa ingin melanggengkan kekuasaannya. Mereka malah berniat hidup prihatin, jauh dari kenikmatan, dan melakukan perjalanan ke gunung Himalaya.

Di saat itu, semua Pandawa meninggal dalam pendakian, kecuali Yudhistira dan anjingnya. Ketika Dewa Indra akan mengajak Yudhistira ke surga, ia menolak, kecuali anjingnya diikutsertakan. Dewa Indra mengiyakan. Kata ibunya, anjing itu simbol, seseorang bisa selamat dan berhasil bergantung amal perbuatannya. Bukan dari pengaruh dan hak privilege-nya. Sebagai saudara tertua, ia diharap-harapkan bapak dan ibunya, mengilhami sifat Yudhistira tersebut.

Tidak selesai di situ, ketika Yudhistira tiba di surga. Justru ia tidak menyaksikan saudara-saudaranya, malah Duryudana yang ia lihat. Ia bertanya, kemana saudaranya? Di neraka, jawab Dewa Indra. Akhirnya minta turut dijebloskan ke neraka. Lebih baik di neraka, jika itu bersama saudara, dari pada di surga jika hanya sendirian.

Selain cerita pewayangan, banyak hal yang diajarkan oleh ibunya. Seperti mendidiknya supaya mandiri dan disiplin. Kendati di rumah ada pembantu. Ibunya melarangnya untuk menggantungkan urusan pada seseorang, terlebih bila urusan itu menyangkut hajatnya sendiri. Maka, sebenarnya kalau pun toh ia tidak mendapat kepercayaan rakyat menduduki jabatan tertinggi di negeri ini, tidak menjadi persoalan baginya. Tanpa kedudukan pun ia tetap masih bisa hidup. Menjalani hari-hari sebagaimana orang pada umumnya.

“Bu,” ucapnya, memecah keheningan. Bu Ketua yang sedari tadi bermain HP, mendadak terkesiap, dan menanti jawaban.

“Masalah kepemimpinan partai. Sebetulnya banyak yang lebih mumpuni untuk mengisi pos itu. Sementara saya telah selesai, selesai menuntaskan amanat yang dimandatkan oleh partai. Kalau pun saya yang mengisi pos tersebut, bukan kah saya malah menghalangi pengurus-pengurus dan kader-kader yang lebih senior. Asam garam partai mereka lebih banyak menelannya dari pada saya.”

“Nak?”

“Mohon maaf, Bu. Kalau boleh jujur, saya tidak jago berpolitik. Bersilat lidah, saya bukan ahlinya. Sementara pimpinan partai harus menguasai itu.”

“Kan, bisa dipelajari seiring waktu.”

“Selama ini saya sudah belajar, Bu.”

“Lobi-lobimu selalu membuahkan kesuksesan, di tingkat regional bahkan internasional, Nak.”

“Selama itu untuk kepentingan bangsa, saya bisa, Bu.”

“Partai juga kepentingan bangsa.”

“Bu,” ucapnya sambil menunduk kemudian menatap Bu Ketua, “Ada banyak partai, Bu. Dan partai mana yang tidak berjuang untuk kepentingan bangsa? Pasti semua berusaha untuk membangun bangsa, Bu.”

Kalau mengingat perjalanan lika-likunya, dari awal mula menjadi wali kota, dengan biaya pas-pasan. Turun ke masyarakat. Mendapat kritikan. Apalagi tatkala melangkah menjadi gubernur dan presiden, tidak terhitung berapa banyak fitnah yang dilontarkan kepadanya. Dari antek ormas terlarang, asing, hingga tuduhan boneka. Rasanya si tukang kayu itu ingin menitikan air mata. Tapi, tidak sampai hati, setelah apa yang telah ia kerjakan, dan kini berbuah manis. Getir itu berubah menjadi butir. Dan senyum menjuntai di bibirnya yang telah berkeriput.

Saat ini, ia betul-betul menikmati masa istirahatnya. Kembali berjibaku dengan kayu. Usaha yang turun temurun dijalankan oleh keluarganya. Status orang terhormat tidak diikutkan, dimainkan, dimanfaatkan dalam usahanya. Sesekali ia menyembunyikan dan menyamarkan namanya, untuk mengetahui secara nyata apa yang dialami dan dirasakan masyarakat sehari-hari. Tidak melulu bergantung dari media sosial, koran, dan televisi. Apalagi dari katanya.