Ketika mengepaki
pakaian-pakaian ke dalam kardus yang hendak kusumbangkan ke pulau Majeti yang
tempo hari mengalami gempa dahsyat. Aku menemukan sebuah jas biru di tumpukan
paling dasar. Aku nyaris tidak mengenali lagi jas itu karena penuh debu. Aku
kebat-kebutkan dan terbatuk karena debunya masuk ke liang hidungku. Ada logo
perisai dan bintang berjumlah sembilan. Beberapa saat kemudian, ingatanku
terbang ke masa kuliah.
Jas ini pemberian
seorang senior, bernama Kang Cipta. Jas ini kuperoleh setelah melewati proses
tempaan yang panjang. Seperti, membaca karya-karya pemikir barat dan timur
serta mampu menjelaskannya dengan rinci. Kemudian, aku harus mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari senior-senior yang mengetes. Tidak selesai di situ,
Kang Cipta menyuruhku untuk mengawal masyarakat tertindas. Aku disuruh memilih:
“Aku ngawal kampung
Tanjung, Kang.”
“Kau yakin?” Tanyanya
sambil menghisap rokok.
“Beri waktu aku
sebulan.”
“Apa isu di sana?”
“Banyak, di antaranya
perampasan tanah. Tapi, saya akan mengawal anak-anak putus sekolah supaya
mendapat hak pendidikan seperti amanat konstitusi.”
Maka pada keesokannya,
setelah jam kuliah pungkas. Aku kembali ke kos. Menaruh tas, salat, dan
berganti pakaian yang menyerupai orang pinggiran. Pakaian-pakaian stylies yang
kupakai saat kuliah, diganti dengan kaus dengan sablonan yang sudah merekah dan
warna yang sudah memudar. Ada tiga tempat yang jadi rujukanku, warung kopi,
pangkalan ojek, dan masjid.
Di tempat-tempat itu aku
bisa mendengar keluhan nyata dari masyarakat. Salah satunya Pak Dirman. Pada
hari bertemu pertama kali di sebuah warung kopi, ia kuajak berkenalan,
basa-basi, hingga akhirnya ia cerita tentang anaknya – dan anak-anak yang lain
– yang terpaksa putus sekolah karena tidak kuat bayar SPP. Orang seperti Pak
Dirman tidak tahu, atau mungkin tahu tapi tak berdaya, bahwa setiap anak
dijamin pendidikannya oleh negara.
Sejak sore itu bercakap
dengan Pak Dirman. Aku sering main ke rumahnya, untuk membicarakan hal penting,
sampai sebatas ngobrol santai. Pak Dirman sehari-hari bekerja sebagai pengayuh
becak. Ia banyak menjalin pertemanan dengan beragam orang, baik sesama pengayuh
becak, maupun para penumpang setianya.
Pernah, suatu hari, aku
bertanya, apakah di antara sesama pengayuh becak, ada sebuah ikatan? Katanya,
ada. Pak Dirman mengajak aku berkumpul dengan sesama pengayuh becak. Ujarnya,
supaya tidak hanya ia saja yang memiliki kesadaran. Pak Dirman sendiri mengaku
tidak bisa menjelaskan, apabila dirinya sendiri yang maju.
“Orang-orang sudah tahu
siapa saya, Mas. Kalau saya jelaskan jaminan hak semacam itu, mana mungkin
mereka percaya? Sekolahku cuma sampai SD, tidak seperti Mas, sampai kuliah.
Pasti omonganku dianggap nggedabrus ujung-ujungnya.” Ia tertawa.
Pada sebuah malam dengan
purnama yang sempurna. Cerah. Bintang-bintang gemerlap. Beberapa laki-laki
paruh baya duduk melingkar di emperan rumah Pak Dirman, kebetulan saat
itu jatahnya yang ketempatan. Seorang laki-laki berbadan besar, berperut buncit,
berkepala botak di bagian depan, dan bersuara berat membuka percakapan. Selepas
pertemuan baru kuketahui, bahwa ia ketua perkumpulan pengayuh becak.
Tiba giliran sesi tanya
jawab, Pak Dirman memperkenalkan aku sebagai keponakannya ke teman-teman
senasibnya.
Baru lah aku angkat
bicara. Tapi tidak langsung ke inti. Aku terangkan bahwa aku perantauan dari
pulau Majeti. Jauh di sana. Maksud kedatanganku sebetulnya untuk mencari
sedulur. Ketika kutanya, apakah bapak-bapak bersedia jadi sedulurku? Mereka
semua mengangguk dan tersenyum, kecuali si ketua perkumpulan yang mengernyitkan
dahi sejak tadi.
Mula-mula aku menjelaskan
obrolanku dengan Pak Dirman tentang anaknya yang putus sekolah. Rata-rata
pengayuh-pengayuh becak yang hadir bernasib serupa. Dan mereka tidak tahu
tentang hak pendidikan. Termasuk terobosan pemerintah untuk menanggulangi putus
sekolah. Ketua perkumpulan itu, dengan suara beratnya, bertanya, “Lalu apa
solusinya?”
“Solusinya tidak dari
kita,” kataku kemudian. “Yang bisa mengatasi ini ya negara, karena pendidikan
itu alat negara untuk mencerdaskan warganya.”
“Konkritnya bagaimana?”
Tanya salah seorang penganyuh becak yang masih muda.
“Kalau bapak-bapak
bersedia,” kataku dengan penuh hati-hati, “Ketika bapak-bapak ada waktu senggang.
Kita bersama-sama menuju ke kantor pemerintah. Dan mengajukan tuntutan kita.”
“Masnya, ikut kan?”
Tanya seorang di sebelah Pak Dirman yang seketika menghujam batinku. Di situ, sumpahku
yang pernah kunyatakan kepada Kang Cipta diuji. Untuk bersedia mencurahkan
pikiran, tenaga, dan nyawa bahkan, untuk masyarakat paling rendah.
“Iya Pak, tentu ikut.”
Selepas unjuk rasa
bersama para pengayuh becak di kantor pemerintah. Waktu itu ketua perkumpulan diminta
menghadap ke wali kota, dan ia mengajak aku turut serta. Di ruang kantor wali
kota, udara dingin dari AC memenuhi. Wali kota menyuguhkan segelas air mineral.
Dan mempersilahkan kami minum. Kemudian, wali kota membuka percakapan, kemudian
ditanggapi ketua perkumpulan, dan akhirnya saya. Sempat terjadi perdebatan.
Sengit. Akhirnya wali kota minta kelegowan hati. Kita menolak. Lobi pun
buntu.
Entah setelah itu,
banyak telepon-telepon dan WA-WA bernada ancaman, akan dibunuh bahkan. Datang
kepadaku. Aku merasa terawasi selalu oleh seseorang tak kuketahui. Pengirim WA
tidak menampilkan fotonya. Sekilas dari pesan-pesan yang masuk, kubacai satu
per satu. Nampaknya si pengirim pesan tahu siapa diriku. Dari mana asalku,
tempatku kuliah, tapi ia tidak tahu kosku.
Syukur, ia tidak tahu
tempat menetapku sekarang. Berhari-hari aku tidak keluar dari kos. Jika ingin
makan, aku menelepon teman kampus untuk sedia membelikannya dan kuganti
ongkosnya sewaktu sampai. Sesekali aku meminta teman-teman untuk memantau di
sekitar kos, angkringan, musala, dan gardu, adakah orang yang mencurigakan?
Teman-teman kampus mulai
mencemaskan aku, terutama ketua kelas matkul Hukum Pidana. Bahwa tinggal aku
yang belum presentasi. Dosen pengampu selalu menanyakan keberadaanku, karena
hampir empat kali absen dari perkuliahan. Tapi aku juga tahu dari teman yang
sering menyambangi dan mengirim makanan. Katanya, sebagian teman-teman di kelas
senang aku tidak masuk. Pasalnya, setiap berlangsung presentasi dan diskusi,
aku yang paling sering melempar pertanyaan kritis.
Sampai di situ, aku
masih bisa mencoba tenang, kendati terancam tidak lulus matkul. Tetapi ketika
ibu menanyakan kabarku, di situ aku mulai cemas. Ibu menanyakan kapan aku
pulang, sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kukatakan pada ibu,
kabarku baik, dan sekarang masih banyak tugas. Aku tidak kuasa membayangkan
keadaan ibu yang sudah renta. Ibu menanti-nantikan aku segera lulus dan
menemani hari-harinya di usia senja. Hal-hal sederhana yang ia harapkan padaku,
bukan yang muluk-muluk, seperti jadi pejabat papan atas, tetapi seperti
menemaninya masak, mengantarnya ke pasar, dan mendengarkannya ketika bercerita.
Maka, masalah-masalah kuliahku yang kuanggap enteng, menjadi beban sekarang.
Menyusul tangis ibu yang pecah ketika ia meneleponku.
Dasar jas sialan,
umpatku dalam hati. Kalau tidak gara-gara jas dari Kang Cipta aku tidak akan
bernasib malang seperti ini. Ibu pun tidak akan cemas. Mungkin, sesekali aku
harus berfikir logis. Apa manfaatnya jas itu padaku? Dan apa untungnya? Kalau
sekedar jas, sebenarnya aku bisa membuatnya. Tinggal beli bahan dan menyewa
seorang penjahit untuk membuatnya jas.
Lagian, di mana
keberadaan Kang Cipta sekarang?
Ternyata Kang Cipta tak
ubahnya senior pada umumnya. Yang senang menyuruh tapi tidak bertanggung jawab
dan tidak mempertimbangkan keselamatan kadernya. Semua petuah dan
kesimpulan-kesimpulan diskusi di warung kopi dengan Kang Cipta yang mengendap
di fikiranku hanya tinggal sampai. Percum tak bergun.
Di tengah keputusasaanku,
satu perkataan Kang Cipta menyusup ke ingatanku. Kelak nanti kala kau berjuang,
ujian terberatmu tidak ketika menghadapi lawanmu, tapi bagaimana mempertahankan
keyakinan di tengah kebimbangan. Dan ketidakpastian. Sementara, saat ini,
perkataan Kang Cipta terjadi, dan sekarang sedang kujalani. Tapi, aku tidak
tega melihat ibu menangis. Aku tetap harus pulang. Lupakan ini semua, sejenak.
Ketika baju-baju sudah
kukemasi dan siap menyelinap keluar dari kos. Dari luar pintu kudengar
sayup-sayup derap langkah kaki yang tak asing. Kang Cipta? Ah, nggak mungkin.
“Hei, kau mau kabur
kemana pejuang?” Katanya, sambil berdiri tepat di depan pintu.
“Kang Cipta?”
“Iya.”
Kreek. Pintu terbuka
pelan-pelan. Ia masuk, dengan mengenakan kaus, celana yang sobek di bagian
dengkul, sembari menenteng sebuah buku tebal. Ia berjalan ke arahku dan menyodorkan
buku yang ia bawa. Bacalah, katanya. Aku menerimanya dan kulihat, buku itu
berjudul Rumah Kaca. Katamkan di sini, aku tunggu, katanya selanjutnya.
Kemudian aku buka lembaran terakhir novel itu, tertulis di bagian bawah; 484.
“Tenanglah. Nanti
jelaskan apa isinya,” katanya, menutup percakapan.
Sementara aku membaca,
sampai di halaman 222, Kang Cipta menelepon seseorang. Aku tidak tahu siapa
yang ditelponnya, kelihatannya mereka akrab sekali. Namun, gurauan dan ketawa
Kang Cipta yang terbahak-bahak cukup mengganggu konsentrasi. Mungkin itu
sengaja dilakukannya.
Sudah dua hari, sejak
Kang Cipta memintaku membaca, dan ia masih bergeming di tempatnya. Tidak
kemana-mana. Ia kulirik sesekali membaca buku, membalas chat, membuat story,
dan menelepon. Prasangka burukku padanya, yang kupersamakan dengan senior
yang bermental pesuruh, mulai meluruh. Ia setia menemaniku sampai detik ini ia
tidak makan.
“Sudah?”
“Masih halaman 400,
Kang.”
Kemudian ia mengambil
HP-nya dan mengetik sebuah nama di pencarian kontak.
“Halo, Pak Kapolres.”
Aku sempat menghentikan
membaca. Serius? Ia menelepon Kapolres. Buat apa? Tapi pura-pura kulanjutkan
lagi. Dan diam-diam menguping.
“Halo juga ketua.”
“Bisa minta tolong Pak?”
“Apa ketua?”
“Tolong kondisikan anak
buah njenengan. Yang bernama Jihad, tidak perlu di-uber-uber lagi.
Dia aman bersamaku sekarang.”
“Siap ketua!”
Telpon pun mati. Dan ia
menoleh ke arahku. Segera aku terkesiap membaca lagi. “Kau sudah dengar?”
Katanya.
“Apa, Kang?”
“Kau aman. Kau tidak
perlu lagi berhubungan dengan Dirman. Dia yang mengintaimu.”
Semudah itu kah
mengatakan aman? Semudah itu kah mengondisikan seorang kepala polisi untuk
menghentikan perburuannya? Dan apakah semua ini skenarionya? Aku tidak bisa
membayangkan betapa saktinya seniorku ini. Tapi, bagaimana bisa ia tahu Pak
Dirman? Apa kah ternyata ia memantau pergerakanku selama ini? Ternyata aku
salah duga kepadanya.
Kang Cipta membuka
tasnya, dan ia menyodorkan sebuah jas biru kepadaku. “Kau berhasil,” katanya.
Itu lah ceritaku
mendapatkan jas ini. Entah, bagaimana dengan kader-kader sekarang? Bagaimana ia
memperoleh jasnya? Kulihat di media-media sosial bisnis pembuatan atribut sudah
menjamur. Apakah si penjual tahu pembelinya sudah merampungkan tahap
pengkaderan? Apakah penjual itu paham pengkaderan? Atau kah hanya mampu menjual
dengan target keuntungan sebanyak-banyaknya? Tanda tidak lagi sakral. Atribut
telah berubah sekedar aksesoris, sebab proses mendapatkannya yang instan, tidak
ada perjuangan, tidak ada sejarahnya. Menjadi aktivis tak ubahnya seperti
selebritis.
0 Komentar