Pagi-pagi, para wartawan kepresidenan terkejut karena mendapat pesan singkat dari BPMI Sekretariat Kepresidenan, bahwa Presiden Jokowi akan bertemu dengan Prabowo pada pukul 10:00 di Stasiun MRT Lebak Bulus. Sementara tim internal Prabowo pun mengabarkan pertemuan Prabowo-Jokowi pada esok hari, Sabtu pagi itu juga. Saat-saat yang diimpi-impi akan tiba. 

Sederet wartawan kepresidenan pun bertanya-tanya, gumun. Bener nggak? Ah, masak pertemuan antar pemimpin bangsa di stasiun? Mungkin salah dengar? Atau keliru ucap? Oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Bey Machmudin hanya memberi jawaban singkat, “Perjalanan bersejarah.”

Dok. Istimewa
Lambat laun, kabar itu mulai terbukti, ketika Setkab Pramono Anung dan Sekjend Gerindra Ahmad Muzani berada di Stasiun MRT Lebak Bulus. Dan ternyata benar, Prabowo datang dan disambut oleh Pramono Anung dan Ahmad Muzani, dan beberapa saat selanjutnya disusul Jokowi.

Akhirnya, ketegangan politik yang memenuhi seluruh media, cetak hingga online telah disudahi. Pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo menutup kontestasi demokrasi secara kultural. Pertemuan tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh khalayak. Lama sekali. Hingga dikira, antar keduanya sengaja menjaga jarak. Ternyata, keduanya merencanakan, dan tidak disangka-sangka bertemu dan terjadi dalam suasana yang tidak resmi. Di stasiun MRT dan dilanjutkan menumpanginya.

Di hari itu, mimik Prabowo tidak seperti biasa; kusut dan serius. Ia terlihat santai menikmati perjalanan dengan MRT. Dengan pakaian safari ia berbincang hangat dengan pesaing sekaligus sahabatnya; Joko Widodo. Entah, hal-hal apa saja yang dibicarakan. Pasti tidak jauh-jauh dari tema negara.

Sebagai mantan Pangkostrad, tentu ia tidak lupa ajaran kenegarawanan. Demikian pula pada Jokowi, kendati terus memenangi kontestasi demokrasi selama lima kali berturut-turut sejak Wali Kota Solo, tidak membuatnya jumawa. Malah, rupanya ia diam-diam detil mengamati Prabowo yang belum pernah naik MRT. Bisa jadi Jokowi men-stalking, men-tracking, dan mungkin mengerahkan telik sandi. Maka, ia pun mengajak berbincang-bincang di sana. Selalu mencari “pembeda” merupakan ciri Jokowi.

Tensi politik yang tinggi di masyarakat, luruh dengan pernyataan Jokowi maupun Prabowo.

“Sesekali boleh lah kita memberi kritik,” kata Prabowo kemudian memandang Jokowi yang berdiri di sebelahnya.

“Tidak ada lagi 01, tidak ada lagi 02, tidak ada lagi cebong, tidak ada lagi kampret, yang ada hanya Garuda Pancasila,” tegas mantan pengusaha mebel ini.

Publik pun, termasuk warganet, riuh menanggapi pernyataan tersebut. Sebagian menanggapinya dengan memberi apresiasi yang besar kepada kontestan pilpres lalu ini. Karena, setelah kerusuhan 21-22 Mei lalu, membuat persaingan semakin meruncing. Dan di kedua belah pihak memasang tembok tebal. Jalan buntu. Padahal di saat-saat itu lah, sebetulnya, masyarakat mengharap pertemuan seperti di MRT lalu.

Namun, dari kerusuhan di depan gedung Bawaslu RI (dan di sekitar DKI Jakarta) menandai rekonsiliasi. Pertama, Prabowo memerintah kepada pendukungnya yang berunjuk rasa supaya menenangkan diri dan pulang. Kedua, pihak BPN akhirnya mengambil jalan menggugat ke MK. Ketiga, pasca-kerusuhan terjadi perubahan sikap Prabowo yang sebelumnya menuduh petahana melakukan kecurangan secara terstruktur, masif, dan sistematis, hingga enggan mengambil jalan hukum. Tiba-tiba merubah haluan.

Selama persidangan sengketa berlangsung, Prabowo tidak mengemukakan pernyataan-pernyataan kontroversial, demikian pula Jokowi tidak buru-buru mengadakan pidato kemenangan. Pun tidak membahas bagi-bagi kursi kabinet. Persidangan pun berakhir dengan hasil; penolakan terhadap gugatan mantu Pak Harto ini.

Prabowo yang sudah legowo, tapi sangat disayangkan, sebagian pendukungnya malah menyatakan kekecewaan kepada junjungannya. Kekecewaan ini teramat aneh, mengapa pertemuan yang menyatukan, damai, dan sejuk ini malah tidak disukai. Apakah perseteruhan anti-klimaks yang diharapkan oleh mereka? Tentu, itu bukan watak dan tradisi bangsa Indonesia yang memiliki landasan filosofis, Bhinneka Tunggal Ika.

Sebelumnya, dalam masa-masa kampanye, Prabowo kerap dituduh ditunggangi sekaligus mendukung pembentukan khilafah Islamiyyah setelah memenangi pilpres. Tetapi, dalam suatu debat terbuka, ia membantahnya. Ia tegaskan dirinya seorang patriot dan pernah menjadi prajurit, tidak mungkin mengganti dasar negara. Waktu itu, Prabowo belum betul-betul menyadari.

Selain didukung partai, ia juga didukung oleh elit-elit GNPF Ulama dan PA 212. Padahal di antara elit GNPF maupun PA 212 merupakan pendukung khilafah. Dan ada pula yang eks-HTI. Tak ayal, pilpres kemarin tidak hanya dimaknai sebagai ajak kontes demokrasi, tetapi juga pertarungan ideologi. NU sebagai ormas keagamaan yang selalu moderat tetapi kemarin memilih berada di pihak yang berseberangan total mendukung Jokowi, walau tidak ada instruksi langsung. Namun, NU mempersilahkan nahdliyin yang ingin mendukung Prabowo-Sandi.

Di kemudian hari, walau agak terlambat, Prabowo mulai menyadari ketika aksi damainya yang ternyata ditunggangi berubah menjadi kerusuhan. Fasilitas publik dirusak dan bertumpahan korban jiwa. Luluh lantah. Toko dan warung dijarah. Demi keselamatan, beberapa hari aktivitas dinonaktifkan. Kendati hingga sekarang, polisi belum mengemukakan siapa dalang di balik kerusuhan yang sesungguhnya.

Siapa yang menunggangi? Mereka yang menginginkan Indonesia terpecah belah. Mereka memanfaatkan polarisasi masyarakat yang keras sebagai penyulut kaos. Mereka ingin men-Syuriah-kan Indonesia, dengan trigger yang sama; memantik kekecewaan dan kemarahan terhadap pemerintah.

Di saat itu lah, bisa jadi, Prabowo mulai memiliki keinginan bertemu dengan Jokowi. Pada Jum’at malam, sehari sebelum pertemuan, para pendukung Prabowo menyambut kedatangannya di kediamannya dengan teriakan; Presiden! Presiden! Presiden! Prabowo pun turun dari mobil, menyalami, dan meladeni ajakan ber-swa foto. Kemudian kembali naik mobil dan mengatakan (baca: Kompas 14 Juli):

“Jangan ada perpecahan. Jangan ada rasa permusuhan. Jadi kalau saya bertemu dengan Jokowi, itu berarti saya terus akan berjuang untuk rakyat. Saya minta agar kita berupaya untuk kebaikan dan damai... “

“Aminnn,” jawab mereka serentak.

“Jadi, tolonglah. Pada suatu saat saya akan mengundang Pak Jokowi. Kita akan bicara di Hambalang atau di mana. Tapi, saya mohon jangan demo-demo di rumah saya.”

Oleh karenanya, bisa dipastikan, Prabowo menemui Jokowi di MRT tempo hari, tumbuh dari kesadarannya sendiri. Tanpa provokasi, tanpa intervensi, dan tanpa bujukan. Ia sadar, ada di antara pendukungnya yang tidak menyukai ia bertemu dengan Jokowi. Apalagi terjadi dil-dil politik. Pasca-pertemuan itu, mungkin, Prabowo akan membuat pendukungnya kecewa dan benci. Namun, dengan pernyataannya, “Kalau sewaktu-waktu butuh bantuan, kami siap, Pak,” ia sanggup menelan pil pahit resiko yang diterimanya.

Pertemuan fenomenal antara Jokowi dan Prabowo ini, terdapat pelajaran menarik, bahwa sekeras apa pun pergulatan politik; persatuan itu mutlak. Bhinneka, berbeda-beda, Tunggal Ika, tapi tetap satu jua. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Persaingan dan benturan kepentingan jangan menjadi sebab terjadi perpecahan. Dan yang lebih menarik dari pertemuan itu, ternyata yang namanya pendewasaan itu tidak mengenal kata tamat.