Bermula dari pesan WA grub, sebuah flayer, yang dibagikan oleh koordinator Persaudaraan Lintas Agama; Mas Wawan alias Setyawan Budi. Di sana tertera ajakan menghadiri diskusi yang bertema, Jilbabku dan Jubahmu, Bukanlah Sekat untuk (Kita) Tidak Bersaudara. Menarik! Karena yang menjadi pembicara, Mbak Dewi Praswida, mahasiswa yang dapat kehormatan bisa belajar di Vatikan. Dan sedang viral, karena fotonya bersalaman dengan Paus Fransiskus.


Mbak Dewi bersama peserta diskusi. Di antara ada perwakilan Ombudsman Jateng, penghayat kepercayaan, penganut Ahmadiyah, pemuka Kristen, pemuka Katolik, Gusdurian, mahasiswa, dan masyarakat setempat.

 Diskusi malam itu, adalah kesempatan yang sangat saya nantikan sejak hijrah ke tanah kelahiran; Semarang. Berkumpul dan berdiskusi dengan para pegiat toleransi dengan beragam suku, agama, hingga ras di Gereja Santo Mikael, Perum Semarang Indah. Kesempatan itu menjadi obat kerinduan saya pada kota perantauan; Surabaya. Lantaran, saya lama di sana, kurang lebih 10 tahun, sejak lulus SMP th. 2008. Nyaris, saya tidak punya teman di kota sendiri. Beruntung, di Surabaya saya sempat mengikuti Gusdurian. Pada gilirannya tertaut dengan jaringan serupa di kota atlas ini.

Singkat tulisan, dari PRPP, tempat job­-nya adikku motret event, saya bertolak ke lokasi acara. Di muka ruangan, saya disambut seekor anjing yang tidur dan melenguh. Saya melangkah lamat-lamat, setengah menjinjit. Mendadak anjingnya bangun dan aku terpacak. Rupanya ia berniat mengantarkan saya ke ruangan, kami masuk berbarengan. Seorang panitia bermata sipit dan berkaus biru mempersilakan saya menyantap hidangan, tapi saya memberinya senyum dan mengatupkan tangan. Tangannya kemudian menunjuk ke arah lembar-lembar presensi. Saya segera mengisinya dan beranjak mencari tempat duduk.

Sebab saya masih awal terjun ke jaringan baru ini, kursi pojok belakang sendiri adalah pilihan tepat. Sayangnya, saya pendarkan pandangan ke kanan-kiri, setiap kursi bagian belakang ada penghuninya. Seorang pemuda berkaus hitam berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah luar. Belum lama punggung saya bersandar, ia tiba-tiba datang dan mengambil alih, segera saya beringsut. Mau tidak mau harus duduk di kursi depan. Yah!

Saya melangkah ke depan sambil melirik kanan dan kiri, mencari posisi yang pas. Akhirnya saya putuskan duduk di barisan kedua dari depan. Sejenak saya memandangi seorang laki-laki berpeci hitam dan perempuan di sebelahnya. Mungkin ini Mas Wawan? Perhatian saya ternyata memancingnya menoleh ke belakang, ternyata benar. Saya pun menyalaminya. “Mufti, Mas,” kata saya, sebab ini pertama kali kami bertemu, setelah sebelumnya cuma chat di WA. Dari jauh kelihatanya ia pemeluk Islam, dengan simbol peci yang ia kenakan, tapi saya tahu ia pemeluk Kristen. Peci tidak hanya identik Islam, tapi sudah tersemat sebagai busana nasional.

Selepas doa-doa dari beragam tokoh agama, tiba lah sesi diskusi. Ketika MC mempersilakan narasumber maju, tentu Mas Wawan maju, dan ternyata perempuan berbaju kotak-kotak yang duduk di sebelahnya turut menyusul. Duduk di depan, menghadap kami.

Ternyata, dia lah, Dewi Praswida itu!

Mbak Dewi, sebut saja begitu namanya, menjelaskan awal mula mengapa bisa ke Vatikan. Karena mendapat informasi dari Romo Aloys Budi Purnomo tentang acara pre-sinode meeting orang muda sedunia di Vatikan pada 2018. Jadi, jabat tangannya dengan paus pada 26 Juni 2019 bukan kali pertama. Di saat pre-sinode meeting itu lah ia juga bersalaman dengan paus, hanya, tidak ada yang sempat memotretnya. “Romo Tri (pemuka agama di Gereja St. Mikael), Anda pasti belum pernah kan?” Ujarnya, dan disambut gelak tawa hadirin. “Ada yang menyebut, saya ini lebih Katolik dari Katolik,” katanya dengan nada bergurau.

Sebelum akhirnya, Mbak Dewi terbang ke Vatikan, ia adalah penggerak Gusdurian. Sama seperti saya di Surabaya. Keaktifannya di Gusdurian mengantarkannya bertemu dengan pemuka dan penganut agama lain. Keinginannya bergabung karena kesadaran moral, rasa kemanusiaannya, sebab ia mengaku bukan orang Islam yang paham betul ajarannya serta dalil-dalilnya. Namun, dari kenalan dengan asal-usul beragam itu lah, wawasannya pun meluas, dan toleransinya semakin matang. “Pernah dalam suatu kuliah di sana, saya mendebat karena tidak sesuai dengan keyakinan saya. Tapi, lambat laun, saya sadari, saya salah. Seharusnya, apa pun, kalau membahas keyakinan baiknya memposisikan diri sebagai pembelajar, bukan penganut,” katanya.  Dengan menyadari sedang “belajar”, tentu Mbak Dewi lebih mudah menyerap pengertian.

Gaya bicaranya yang tas-tes, suaranya yang keras-lantang, walau berbadan mungil, membuat hadirin khusyuk menyimak.

Kemudian, ia menjelaskan bahwa Indonesia ini baik-baik saja, budaya toleransi masih ada. Cuma, ada segelintir orang saja yang memantik bara api. “Kalau meminjam istilahnya, Mas Wawan. Asu gedhe menang kerahe’,” Katanya sambil menoleh ke Mas Wawan, sepertinya kuatir kalau-kalau keliru yang dikutipnya, tapi Mas Wawan segera mengangguk.

Kesempatan belajar di Vatikan, ia sadar, tidak datang dua-tiga kali, bahkan penganut Katolik pun belum tentu dimampukan bisa ziarah ke kota suci mereka ini. Oleh karenanya, ia tidak menyianyiakan kesempatan istimewa itu. Terlatih tidak menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang), selepas kuliah, bukan lantas pelesir, atau leha-leha di asrama, justru ia pergunakan untuk menemui biarawan dan biarawati. “Mungkin Anda kira saya punya maksud yang canggih, padahal cuma numpang cari makan. Ya, tapi di sela-sela itu saya sempatkan diskusi,” katanya.

Pernah, suatu ketika, ia menjumpai biarawan yang sangat phobia terhadap Islam. Ia tegaskan kalau Islam itu agama yang cinta damai, namun phobia-nya terlanjur ngoyot. Belakangan, usut punya usut, ternyata si biarawan ini sejak kecil hidup dalam komunitas yang homogen. Jarang bersentuhan dengan orang Islam. Ditambah, ia lebih sering menerima berita tentang keburukan Islam. Saya jadi teringat buku, Islamofobia, tulisan Karen Armstrong, John L. Esposito, dkk. Salah satun penyebab phobia pada Islam karena suatu kanal media tidak berimbang dalam menyajikan berita. Misal, 60% memberitakan sisi negatif, sedang 40% positif.

“Akhirnya, setelah diskusi dengan saya, biarawan itu tidak lagi membaca berita yang menampilkan sisi buruk tapi juga mencari sisi baiknya.”

Penggerak Gusdurian sekaligus mahasiswa pascasarjana di Unika ini, sempat menyangka; “Wah, kayaknya puasa saya di Vatikan bakal ngenes. Pasti sahur-sahur sendiri, dan buka-buka sendiri. Apalagi, di sana puasanya sampai 17 jam.” Prasangka itu ternyata tidak terbukti, “Jadi, ada teman-teman yang sengaja menunda makan malamnya demi menemani saya buka. Ada pula yang nonton film berjam-jam buat sahur sama saya.”

Bahkan oleh orang-orang di sana, saat waktu salat tiba, ia disiapkan perlengkapan salat. “Tapi, saya tidak salat di gereja. Saya menghormati fungsi masjid sebagai tempat ibadah, misa, kebaktian. Jangan sampai gereja (kesakralan) turun gara-gara saya menggunakannya sembahyang.” Kendati, menurut, tidak menjadi soal. Ada sebuah hadis, seluruh bumi adalah masjid kecuali makam dan kamar mandi. Sementara gereja, sinagog, kuil, dst tidak termasuk yang dilarang.

Pemahaman agama Mbak Dewi yang unik ini, terdengar aneh, tapi cukup dimengerti maksudnya. Selain pemahaman tentang tempat ibadah barusan. Ada pula yang terdengar tidak biasa, seperti boleh atau tidaknya bersentuhan tangan. Baginya, selama tidak timbul hasrat dan birahi terhadap lawan jenis maka tidak masalah bersentuhan. “Saya kan tidak ada syahwat kepada paus,” jelasnya. Itu lah salah satu hal yang menyebab foto jabat tangannya dengan paus menjadi viral, lantaran hukum bersentuhan masih pro-kontra. Apa lagi salaman dengan dedengkot agama Katolik. Tidak hanya, dikira, musta’mal. Bahkan, bisa jadi, mugholadhoh.

“Eh, tapi, romo. Tanganya paus halus lho.”

Itu lah, satu pengalaman saya sebagai perantau. Ya, perantau di tanah kelahiran sendiri. Rada satir ya. Tapi, kabar baiknya, di sana saya dapat satu teman, namanya; Mahesa! Dia tidak tahu siapa aku, asalku, perjalananku, dan mendadak terjadi saling tukar nomor HP. 

"Mas, sewaktu-waktu, kalau ada acara seperti ini. Saya dikabari, diajak ya."


"Siap," batin saya. 


Terima kasih , Tuhan.

Mbak Dewi lagi curhat.