Bibirnya komat-kamit, seperti merapal ayat, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka. Kemudian, ia beranjak dari tempatnya bersujud dan menuju ke arah laki-laki yang ia sebut sebagai suaminya. Ia membetulkan letak selimut yang terkibas. Beberapa saat ia memandang wajah letih suaminya, lalu mengecup dahinya. Laki-laki itu pun melenguh.
Saat si laki-laki ngelilir dan bangun. Ia menyapu
pandangannya ke seluruh ruangan dan mencari-cari perempuan yang semalam tidur
di sampingnya. Tak berselang lama, perempuan itu, dengan masih mengenakan
mukena masuk kamar sambil membawa segelas air hangat dan menyerahkan ke
laki-laki itu dan diteguknya hingga tandas. Kemudian, si laki-laki mengajak
salat sembahyang. Berjamaah. Perempuan itu tersenyum. Dan terdengar kata lirih,
nggih Mas.
Selepas sembahyang, kulihat mereka saling tangis, namun
si laki-laki terus menguatkan kepada si perempuan. Sejurus kemudian si
perempuan memeluk erat dada suaminya, dan si laki-laki mengelus kepala istrinya
dengan penuh kelembutan.
“Mas,” kata si perempuan dengan mata berkaca-kaca.
“Iya?”
“Aku tidak bisa sendiri, bila tanpamu.”
Si laki-laki tersenyum.
“Janji,” kata si perempuan sembari memberi jari
kelingkingnya. Dan kelingking si laki-laki menyambutnya.
“Maafkan, aku Dik. Kalau tidak tugas negara, aku nggak
akan meninggalkanmu. Setelah perang revolusi, dan penjajah enyah dari
bumi nusantara, aku akan terus membersamaimu. Melihat dan mendidik Rohman dan
Rohmah hingga besar.”
Satu demi satu kancing baju si laki-laki dilepas, begitu
pun si perempuan melepas mukena lalu daster yang ia kenakan. Tubuh keduanya
memantul-mantul di atasku. Kurasakan, ada getaran cinta yang hebat dan rindu yang
teramat. Mereka meningkahiku dengan sempurna, seolah akan berpisah dengan
jangka waktu yang sangat lama. Sprei yang membalut tubuhku sudah tidak karuan
bentuknya karena tangan dan kaki mereka bergerak ke segala penjuru.
“Mas, sudah pagi. Aku siapin makanan untuk anak-anak
dulu.”
“Sekali lagi.”
Bibir mereka bertubrukan dan menguasai satu sama lain.
Dengan badan terhuyung-huyung si perempuan beranjak dariku
melangkah keluar, ketika terdengar ayam berkokok. Sementara si laki-laki
bersarung handuk lalu masuk ke kamar mandi. Tubuhku dipenuhi keringat kasih
sayang mereka. Sungguh, seandainya, aku bisa bicara, aku bersaksi mereka
pasangan yang hebat. Selain setia, keduanya saling mengisi dalam kekurangan
satu sama lain.
Setelah makan, nampaknya, si laki-laki dan si perempuan
masuk ke kamar. Si perempuan membantu suaminya menyiapkan pakaian dan
perbekalan. Ketika ia melihat sebuah senapan, sejenak tertegun. Tidak apa-apa,
masukan ke tas saja, kata si laki-laki sambil membetulkan sabuknya. Satu koper
dan satu tas ransel telah siap dibawa si laki-laki untuk pergi. Berjuang
membela tanah air. Si perempuan terus memandangi suaminya dengan tatapan melas.
Seolah-olah tidak tahu, tapi si laki-laki terus membusungkan dadanya.
Dua hari setelah suaminya pergi melaksanakan tugas
negara. Sering kujumpai ia duduk di pojok tubuhku dan menangis sendiri. Sesekali
berbicara pada dirinya sendiri, Wulan kamu harus kuat, kamu bisa tanpa Mas
Rano. Di lain waktu, seorang perempuan tua mengunjunginya. Kadang menemani
tidur di atasku.
“Nduk, sudah berapa hari Mas Rano pergi?”
“Sudah lima hari, Bu.”
“Apapun yang terjadi kepada Mas Rano, kamu mulai
sekarang, harus ikhlas ya Nduk.”
“Nggih, Bu.”
“Sebagai perempuan kita harus kuat Nduk. Leluhur kita
dulu juga pejuang, termasuk yang turut berperang bersama Pangeran Diponegoro.”
“Saya ingin ikut perang sama Mas Rano, Bu. Saya ingin gugur
bersama-sama dengannya.
“Nduk,” kata si perempuan tua yang mengenakan kebaya, “Memang
tidak ada larangan perempuan ikut perang. Dulu ada Prajurit Estri. Tapi kalau
semua perang, lantas siapa yang akan mengasuh dan menyayangi Rohman dan Rohmah.
Mereka butuh kamu di sisinya.”
“Tapi, masak ia saya enak-enakan di sini, sementara Mas
Rano berpeluh.”
“Nduk, kamu mendidik anak itu juga bagian dari
perjuangan. Siapa tahu, si Rohman kelak jika besar akan meneruskan perjuangan bapaknya.”
Setiap malam, antara pukul 02:00 dan 03:00, sering
kulihat ia sembahyang dan bersimpuh kepada Tuhan. Namun, aku tidak tahu, apakah
ia menitikan air mata, sebagaimana hari-hari sebelum keberangkatan suaminya,
karena setiap ia bermunajat lampu dalam kondisi padam. Tetapi, aku berani
memastikan ia menangis, terdengar dari suaranya yang parau dan sesekali
sesenggukan, tatkala mengadu kepada Tuhannya. Berkirim doa untuk suaminya
supaya diberi keselamatan dan juga untuk anak-anaknya.
Sesekali ia mengajak anak-anaknya masuk kamar. Ia
menguatkan batinnya di hadapan buah hatinya. Ia teringat nasihat ibunya. Secengeng
apapun, selemah apapun, aku harus bisa tersenyum di hadapan Rohman dan Rohmah,
ia berkata sendiri di depan cermin riasnya. Namun, belum sempat ia bicara, si
Rohman, sulungnya yang berumur kisaran sepuluh tahun, bertanya:
“Abi ke mana ya, Mi?”
“Abimu sedang bekerja ke luar kota, Nak.”
“Luar kota mana ya Bu?” Tanya Rohmah, bungsunya.
“Surabaya.”
“Kata guruku di sekolah, di Surabaya sekarang ada perang.
Apa Abi juga ikut perang Mi?” Tanya Rohman yang membuat ibunya terkejut.
Si perempuan itu nampak berfikir, dari keningnya yang
mengernyit terlihat jelas.
“Abi ikut berperang ya, Umi?” Tanya Rohmah.
“Abimu,” kata si perempuan kemudian, “Di sana bekerja, Nak.
Kita doakan semoga, Abimu diberi keselamatan sama Allah.”
“Amin.”
“Amin.”
Sebenarnya, bisa saja si perempuan mengatakan bapak
mereka sedang berperang. Tapi, ia tidak sampai. Ia tidak habis pikir. Apa yang
akan terlintas di benak anak-anaknya, kala tahu bapaknya perang, sementara
setiap perang pasti menelan korban jiwa, dan bisa jadi salah satu korban
tersebut bapak mereka sendiri. Apakah anak-anaknya siap menjalani hari-hari
tanpa seorang bapak?
Tanggal 20 November 1945, perang pertama kali selepas
merdeka di Surabaya berakhir. Tetapi tidak ada tanda-tanda si laki-laki berada
di kamar. Atau mungkin sudah datang, tetapi si laki-laki menempati kamar lain.
Karena, sejak kepergian si laki-laki sampai sekarang, aku belum pernah dipindahkan
dari kamar ini. Namun, mengamati dengan seksama doa yang dipanjatkan si
perempuan setiap sepertiga malam, nampaknya si laki-laki belum pulang. Dan
belum ada tanda-tanda selamat, seperti kiriman surat.
“Ya Allah, engkau Yang Maha Pangasih lagi Maha Kuasa.
Hingga kini, selepas perang berakhir, belum ada tanda-tanda suami hamba
selamat. Para pejuang yang telah pulang, tak ada yang tahu rimbanya suami.
Tidak ada sepucuk surat pun bahkan. Ya Allah, bila mana engkau telah
menggariskan bahwa suami hamba selamat, maka hamba memohon, mampukan lah ia
untuk segera pulang. Supaya lenyap kegelisahan hamba. Dan apabila dalam perang
itu engkau gugurkan suami hamba, maka hamba memohon berikan predikat ‘syahid’
kepadanya, dan beritahukan kabar duka itu, supaya hamba akhirnya
mengikhlaskannya.”
Selang tiga hari, tidak ada tanda-tanda, si laki-laki itu
pulang. Beberapa kali baik Rohman maupun Rohmah masuk ke kamar, dan menanyakan
keberadaan serta keadaan bapaknya. Sementara si perempuan, hanya, dan selalu
menjawab; bapakmu masih sibuk di sana jadi belum ada waktu pulang. Si perempuan
pun, kelihatannya, berusaha merelakan suaminya, tapi tidak sepenuhnya bisa.
Setiap kali ia terbaring di atasku, aku merasai tarikan nafas dan detak
jantungnya yang melambangkan rasa kecemasan. Aku pun ingin memeluknya, memberi
ketenangan, namun apa lah daya. Aku hanya sebuah ranjang.
0 Komentar