02:00. Sayup-sayup terdengar seorang perempuan, bersimpuh kepada Tuhan-nya. Setelah sembahyang ia menangis dalam keheningan sepertiga malam. Air matanya menitik, mengaliri pipi hingga dagu. Dan jatuh menetes ke mukenanya. Kemudian ia memandang seorang laki-laki yang tidur pulas di atasku. “Ya Allah, berikan perlindungan kepada suami dan anak-anak hamba. Dan berikan keselamatan pada imam hamba yang besok menunaikan tugas negara.”

Bibirnya komat-kamit, seperti merapal ayat, lalu mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka. Kemudian, ia beranjak dari tempatnya bersujud dan menuju ke arah laki-laki yang ia sebut sebagai suaminya. Ia membetulkan letak selimut yang terkibas. Beberapa saat ia memandang wajah letih suaminya, lalu mengecup dahinya. Laki-laki itu pun melenguh.

Saat si laki-laki ngelilir dan bangun. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan dan mencari-cari perempuan yang semalam tidur di sampingnya. Tak berselang lama, perempuan itu, dengan masih mengenakan mukena masuk kamar sambil membawa segelas air hangat dan menyerahkan ke laki-laki itu dan diteguknya hingga tandas. Kemudian, si laki-laki mengajak salat sembahyang. Berjamaah. Perempuan itu tersenyum. Dan terdengar kata lirih, nggih Mas.

Selepas sembahyang, kulihat mereka saling tangis, namun si laki-laki terus menguatkan kepada si perempuan. Sejurus kemudian si perempuan memeluk erat dada suaminya, dan si laki-laki mengelus kepala istrinya dengan penuh kelembutan.

“Mas,” kata si perempuan dengan mata berkaca-kaca.

“Iya?”

“Aku tidak bisa sendiri, bila tanpamu.”

Si laki-laki tersenyum.

“Janji,” kata si perempuan sembari memberi jari kelingkingnya. Dan kelingking si laki-laki menyambutnya.

“Maafkan, aku Dik. Kalau tidak tugas negara, aku nggak akan meninggalkanmu. Setelah perang revolusi, dan penjajah enyah dari bumi nusantara, aku akan terus membersamaimu. Melihat dan mendidik Rohman dan Rohmah hingga besar.”

Satu demi satu kancing baju si laki-laki dilepas, begitu pun si perempuan melepas mukena lalu daster yang ia kenakan. Tubuh keduanya memantul-mantul di atasku. Kurasakan, ada getaran cinta yang hebat dan rindu yang teramat. Mereka meningkahiku dengan sempurna, seolah akan berpisah dengan jangka waktu yang sangat lama. Sprei yang membalut tubuhku sudah tidak karuan bentuknya karena tangan dan kaki mereka bergerak ke segala penjuru.

“Mas, sudah pagi. Aku siapin makanan untuk anak-anak dulu.”

“Sekali lagi.”

Bibir mereka bertubrukan dan menguasai satu sama lain.

Dengan badan terhuyung-huyung si perempuan beranjak dariku melangkah keluar, ketika terdengar ayam berkokok. Sementara si laki-laki bersarung handuk lalu masuk ke kamar mandi. Tubuhku dipenuhi keringat kasih sayang mereka. Sungguh, seandainya, aku bisa bicara, aku bersaksi mereka pasangan yang hebat. Selain setia, keduanya saling mengisi dalam kekurangan satu sama lain.

Setelah makan, nampaknya, si laki-laki dan si perempuan masuk ke kamar. Si perempuan membantu suaminya menyiapkan pakaian dan perbekalan. Ketika ia melihat sebuah senapan, sejenak tertegun. Tidak apa-apa, masukan ke tas saja, kata si laki-laki sambil membetulkan sabuknya. Satu koper dan satu tas ransel telah siap dibawa si laki-laki untuk pergi. Berjuang membela tanah air. Si perempuan terus memandangi suaminya dengan tatapan melas. Seolah-olah tidak tahu, tapi si laki-laki terus membusungkan dadanya.

Dua hari setelah suaminya pergi melaksanakan tugas negara. Sering kujumpai ia duduk di pojok tubuhku dan menangis sendiri. Sesekali berbicara pada dirinya sendiri, Wulan kamu harus kuat, kamu bisa tanpa Mas Rano. Di lain waktu, seorang perempuan tua mengunjunginya. Kadang menemani tidur di atasku.

“Nduk, sudah berapa hari Mas Rano pergi?”

“Sudah lima hari, Bu.”

“Apapun yang terjadi kepada Mas Rano, kamu mulai sekarang, harus ikhlas ya Nduk.”

Nggih, Bu.”

“Sebagai perempuan kita harus kuat Nduk. Leluhur kita dulu juga pejuang, termasuk yang turut berperang bersama Pangeran Diponegoro.”

“Saya ingin ikut perang sama Mas Rano, Bu. Saya ingin gugur bersama-sama dengannya.

“Nduk,” kata si perempuan tua yang mengenakan kebaya, “Memang tidak ada larangan perempuan ikut perang. Dulu ada Prajurit Estri. Tapi kalau semua perang, lantas siapa yang akan mengasuh dan menyayangi Rohman dan Rohmah. Mereka butuh kamu di sisinya.”

“Tapi, masak ia saya enak-enakan di sini, sementara Mas Rano berpeluh.”

“Nduk, kamu mendidik anak itu juga bagian dari perjuangan. Siapa tahu, si Rohman kelak jika besar akan meneruskan perjuangan bapaknya.”

Setiap malam, antara pukul 02:00 dan 03:00, sering kulihat ia sembahyang dan bersimpuh kepada Tuhan. Namun, aku tidak tahu, apakah ia menitikan air mata, sebagaimana hari-hari sebelum keberangkatan suaminya, karena setiap ia bermunajat lampu dalam kondisi padam. Tetapi, aku berani memastikan ia menangis, terdengar dari suaranya yang parau dan sesekali sesenggukan, tatkala mengadu kepada Tuhannya. Berkirim doa untuk suaminya supaya diberi keselamatan dan juga untuk anak-anaknya.

Sesekali ia mengajak anak-anaknya masuk kamar. Ia menguatkan batinnya di hadapan buah hatinya. Ia teringat nasihat ibunya. Secengeng apapun, selemah apapun, aku harus bisa tersenyum di hadapan Rohman dan Rohmah, ia berkata sendiri di depan cermin riasnya. Namun, belum sempat ia bicara, si Rohman, sulungnya yang berumur kisaran sepuluh tahun, bertanya:

“Abi ke mana ya, Mi?”

“Abimu sedang bekerja ke luar kota, Nak.”

“Luar kota mana ya Bu?” Tanya Rohmah, bungsunya.

“Surabaya.”

“Kata guruku di sekolah, di Surabaya sekarang ada perang. Apa Abi juga ikut perang Mi?” Tanya Rohman yang membuat ibunya terkejut.

Si perempuan itu nampak berfikir, dari keningnya yang mengernyit terlihat jelas.

“Abi ikut berperang ya, Umi?” Tanya Rohmah.

“Abimu,” kata si perempuan kemudian, “Di sana bekerja, Nak. Kita doakan semoga, Abimu diberi keselamatan sama Allah.”

“Amin.”

“Amin.”

Sebenarnya, bisa saja si perempuan mengatakan bapak mereka sedang berperang. Tapi, ia tidak sampai. Ia tidak habis pikir. Apa yang akan terlintas di benak anak-anaknya, kala tahu bapaknya perang, sementara setiap perang pasti menelan korban jiwa, dan bisa jadi salah satu korban tersebut bapak mereka sendiri. Apakah anak-anaknya siap menjalani hari-hari tanpa seorang bapak?

Tanggal 20 November 1945, perang pertama kali selepas merdeka di Surabaya berakhir. Tetapi tidak ada tanda-tanda si laki-laki berada di kamar. Atau mungkin sudah datang, tetapi si laki-laki menempati kamar lain. Karena, sejak kepergian si laki-laki sampai sekarang, aku belum pernah dipindahkan dari kamar ini. Namun, mengamati dengan seksama doa yang dipanjatkan si perempuan setiap sepertiga malam, nampaknya si laki-laki belum pulang. Dan belum ada tanda-tanda selamat, seperti kiriman surat.

“Ya Allah, engkau Yang Maha Pangasih lagi Maha Kuasa. Hingga kini, selepas perang berakhir, belum ada tanda-tanda suami hamba selamat. Para pejuang yang telah pulang, tak ada yang tahu rimbanya suami. Tidak ada sepucuk surat pun bahkan. Ya Allah, bila mana engkau telah menggariskan bahwa suami hamba selamat, maka hamba memohon, mampukan lah ia untuk segera pulang. Supaya lenyap kegelisahan hamba. Dan apabila dalam perang itu engkau gugurkan suami hamba, maka hamba memohon berikan predikat ‘syahid’ kepadanya, dan beritahukan kabar duka itu, supaya hamba akhirnya mengikhlaskannya.”

Selang tiga hari, tidak ada tanda-tanda, si laki-laki itu pulang. Beberapa kali baik Rohman maupun Rohmah masuk ke kamar, dan menanyakan keberadaan serta keadaan bapaknya. Sementara si perempuan, hanya, dan selalu menjawab; bapakmu masih sibuk di sana jadi belum ada waktu pulang. Si perempuan pun, kelihatannya, berusaha merelakan suaminya, tapi tidak sepenuhnya bisa. Setiap kali ia terbaring di atasku, aku merasai tarikan nafas dan detak jantungnya yang melambangkan rasa kecemasan. Aku pun ingin memeluknya, memberi ketenangan, namun apa lah daya. Aku hanya sebuah ranjang.