![]() |
Dok: m.detik.com diunduh 9 Agustus 2019 |
Aku nggak menyangka akan berada di ruang pengap ini. Di sini aku berjubel dengan orang-orang yang tak kukenal. Aku dan mereka berdesakan memperebutkan udara untuk bernafas. Sayang, aku anak paling kecil. Sering kali aku kena sikut mereka. Ingin aku menjerit tapi tak sampai, ingin aku menangis tapi percuma. Awalnya yang kukira tawuran biasa, ternyata menjadi tragedi seperti ini.
"Ibu!"
"Kenapa kau teriak-teriak? Di sini nggak ada ibumu. Percuma. Lebih baik kau tahan mulutmu, biar hemat nafasmu," kata seorang lelaki berbadan gempal dengan tangan kanannya berlumuran tato.
"Hey, biarkan dia teriak-teriak semaunya. Dia masih kanak-kanak. Kita orang dewasa yang harusnya mengalah," kata temannya yang lain dari arah pojok ruangan.
"Ngalah? Nggak ada kata ngalah di sini. Siapa yang kuat, ialah yang menang."
"Dasar preman pasar!"
"Siapa yang preman? Kau tahu sendiri sedari pagi hingga malam aku berjuang untuk keadilan negeri kita," katanya sambil menuding seseorang dari arah pojok tadi. "Jaga mulutmu!"
"Keadilan?" Kata seseorang dari pojok yang lain, "Maksudmu keadilan nasi bungkus ya!"
"Haha," tawa pun bersahut-sahut.
Sementara aku masih saja melolong, dan memanggil, "Ibu!" Tak peduli yang lain tertawa tak jelas. Yang penting aku ingin pulang. Di sini aku semakin tidak bisa bernafas. Mereka tertawa terlalu menghambur-hamburkan udara. Sekarang kena getahnya semuanya.
Dari arah depanku, cahaya berbentuk kotak merasuk ke dalam ruangan. Udara segar menyeruak dan memenuhi ke dalam. Akhirnya aku bisa bernafas lega, dan orang-orang yang lain juga. Mereka tak takut lagi kehabisan nafas. Dari arah cahaya itu, terlihat seorang aparat polisi. Dengan nada suara membentak, ia menyeru, "Keluar! Keluar! Dasar perusuh sialan. Kalian yang membikin kami tak bisa tidur."
Kami pun keluar. Ternyata sejak tadi aku disekap di dalam box mobil. Bagaimana tidak pengap? Box seukuran 240 cm x 150 cm diisi hampir 30 orang lebih!
Oleh polisi tadi, kami di suruh melepas pakaian dan tinggal menyisakan celana dalam. Mereka ingin mempermalukan kami. Aku terlihat paling kecil di antara sesamaku yang disekap tadi, sehingga si polisi memanggil aku ke depan. Ia menyuruhku supaya masuk ke dalam kantor. Katanya, "Kita mau interogasi kamu lebih lanjut." Aku pun nurut dan berjalan dalam kondisi telanjang ke dalam kantor. Rasanya seperti orang utan di tengah kota. Bedanya, aku tidak melulu makan pisang.
Dari luar kantor, aku mendengar sayup-sayup para tahanan yang menjerit dan mengaduh kesakitan. Nampaknya, mereka sedang disiksa oleh aparat. Tak terperi lagi, bagaimana penganiayaan itu dilakukan. Dan sebetulnya apa manfaatnya menganiaya? Kata ayahku, orang yang melakukan kekerasan sejatinya orang kalah, karena kekerasan tidak langgeng sementara kelembutan abadi. Ah, bisa jadi nasibku lebih sial dari pada mereka. Lebih baik pasrah.
"Hai, bocah! Jangan ndomblong. Lihat kesini." Kata seorang polisi berkumis sambil menggebrak meja. Aku pun berjumpalitan. Sedari tadi aku melamun dan mengharapkan segera dipulangkan.
Tiba-tiba tangannya mencengkeram kedua sisi pipiku. Sambil bersungut-sungut, ia menanyaiku, "Siapa yang menyuruhmu ikut kerusuhan?"
Ia menanyaiku tentang sesuatu yang tak tahu bagaimana aku menjawabnya, karena memang aku tidak tahu.
"Saya cuma ikut-ikutan, Pak. Tidak ada yang ngajak. Saya tidak tahu apa-apa."
"Bohong!"
"Kau sadar tidak, Nak? Kerusuhan tadi itu sudah diatur rapi. Ada penembaknya, ada yang memasok batu kerikil, ada yang membagi-bagikan uang. Semua sudah direncanakan. Bohong kalau kamu tidak ada yang mengajak."
"Sungguh. Saya tidak tahu, Pak" Kataku dengan gemetaran setengah mati.
Ia memintaku berdiri dan ia hantarkan satu kepalan tanganya ke pelipis, kemudian pipi, dan kemudian lagi, dan lagi. Hingga terasa nyut-nyutan sekujur wajahku, dan lebam seperti adonan roti. Tak terbayangkan bagaimana wujud aslinya, bila aku melihatnya dari pantulan cermin yang bening dan bersih. Lalu, ia menggelandang aku dengan keadaan telanjang ke dalam sel.
Di dalam sel, begitu dingin, apalagi aku tidak mengenakan kain sehelai pun. Aku hanya berlindung dari kulitku — dan celana dalam yang kukenakan. Berulang kali aku mengusap-usap tapak tanganku, supaya kehangatan menjalar ke seluruh bagian tubuhku. Sambil merintih dan menyebut-nyebut nama ibu.
Sungguh malang nasibku. Tahu begini aku tidak akan menuruti ajakan Fredi. Kukira memang tawuran antar sekolah, ternyata lebih dari itu. Namun, aku merasa tertantang, karena senjata yang digunakan tak hanya melempar batu, tapi juga membakar ban, bahkan meledakkan bom molotov. Sensasinya seperti permainan GTA atau MLBB versi di dunia nyata. Kapan lagi? Pikirku waktu itu. Beberapa batu aku ambil dan kulemparkan ke arah aparat. Ada rasa puas ketika melakukannya. Seperti diintai seorang assasin, tiba-tiba tanganku secepat kilat dikiting dan digelandang ke sebuah box mobil. Sejurus aku pingsan.
***
Aku tidak ingat ini hari ke berapa. Lupa. Aku juga tidak ingat sekarang sekolah masih masuk atau sudah libur. Misalkan masuk, apakah Pak Selamet, guru matematikaku, menagih tugas pelajaran aljabar. Apakah alasan dipenjara bisa dibenarkan olehnya supaya tugas-tugasku ditangguhkan sementara? Ah.
Seorang sipir menggedor-gedor selku. Ia menyuruhku keluar. Apakah di luar sana Pak Selamet sedang menungguku mengumpulkan tugas sampai segitunya ia berpayah-payah menjengukku ke bilik jeruji. Sipir itu membuka sel dan aku berjalan bersijingkat. Memar di kakiku masih terasa. Begitu berat, sampai akhirnya di bendul pintu aku melihat sesosok yang kutunggu-tunggu. "Ibu!" Teriakku. Dan ia berlari kencang dan mendekapku hangat.
"Dasar anak nakal!" Katanya sambil mengusap-usap kepalaku.
Dari sorot matanya yang berkaca-kaca, ia sangat mengkhawatirkan kepergianku. Dua hari ini ia mencariku tapi tak kunjung ketemu. Dari tetangga, teman sekolah, guru, hingga sanak keluarga di luar kota ia hubungi, tapi tak satupun mampu menjawab. Hingga, katanya yang ia ceritakan padaku, datang seorang laki-laki berseragam abu-abu. "Mas-mas jaksa yang ngasih tahu kamu lagi dipenjara. Seketika ibu langsung kaget mendengarnya, Nak! Tapi untung kamu selamat, itu saja sudah cukup melegakan, Nak." Katanya.
"Maafin Aldi, ya Bu."
"Perkara kamu dipenjara bukan salahmu, Nak. Itu cuma gara-gara kamu nggak bisa jawab kapan ulang tahunmu. Ihh! Anak ibu kok bisa lupa kapan dilahirkan. Kan tiap tahun kamu dirayain, Nak."
"Aldi masih bingung membedakan mana September dan Oktober. Dua-duanya berakhiran 'ber'. Jadi Aldi bilang saja tidak tahu, Bu."
"September, Nak," sahutnya dengan nada lunak.
Kemudian ia memandangi sekujur tubuhku, dari mulai ujung kepala hingga jari kaki yang penuh memar, sambil memegangi kedua pundakku. Kulihat sebuah telaga danau yang penuh di pelupuk mata ibu. Sebelum dimuntahkan, aku ingin menjadi bendungannya.
"Ibu, jangan bersedih ya. Aldi baik-baik saja. Aldi masih sehat kok."
"Nak," katanya sembari menyeka luapan telaga danau di matanya yang nyaris tumpah, "Bulan ini Agustus. Besok sudah September. Kamu mau minta kado apa?"
"Aldi cuma mau pulang, Bu."
Ia tersenyum. Air matanya menetes tanpa ia sempat untuk menyeka. Air itu mengaliri pipi hingga merasuk ke ujung bibirnya yang ranum. Dan meneguknya sendiri. Aku pun mematung melihat pemandangan yang bergelora namun tenggelam dalam sekam. Hingga aku tak bisa berkata dan bertindak apa-apa lagi.
"Sabar, ya Nak." Ujarnya seraya beranjak dari kursi.
Mendengar kalimat itu, seolah-olah akan berpisah dengan ibu. Timbul rasa khawatir. Dan ketakutan mulai menjalar ke sekujur tubuhku hingga menjebol dinding batinku.
"Ibu mau pergi?"
Ia menggeleng.
"Kamu tambah kurus sekali, Nak. Ini aku bawakan bekal makanan. Makan lah di sini. Ibu temani."
Sementara aku sedang melahap seluruh bekal yang dibawa ibu. Aku mendengarkan percakapan ibu dengan polisi yang menginterogasiku. Beberapa kali ibu menunjuk matanya sendiri dan menuding ke arahku. Polisi tersebut hanya tertunduk lesu, seolah-olah yang memarahinya seorang jenderal. Ibu tak gentar sama sekali. Sepertinya, ibu ingin menjelaskan bahwa walau pun aku tidak mampu menyebutkan tanggal dan tahun aku lahir, tapi setidaknya dari tubuh, gestur, wajah, perawakan, dan cara bicara sudah jelas dan gamblang aku seorang bocah. Tidak seharusnya aku diperlakukan seperti orang laiknya orang dewasa. Perlakuan hukumnya berbeda.
Dalam batin, aku bangga sekali punya ibu yang gigih sepertinya.
***
"Yang Mulia Hakim," kata ibu sambil berdiri di persidangan, "Saya ingin mengajukan keberatan."
Aku menyaksikan itu gemetaran, kalau-kalau ada apa-apa dengan ibu.
"Silahkan," kata hakim dengan setengah memandang ibu.
"Pertama, anak saya adalah anak yang baik. Biasanya, setiap jam 13:00 ia sudah pulang dari sekolah dan pukul 14:00 sudah berada di rumah. Dalam kurun waktu sebulan terakhir jadwal itu pasti ia patuhi. Kedua, anak saya jelas-jelas tidak terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei lalu. Anak saya bukan simpatisan parpol, termasuk saya dan ayahnya juga bukan pengurus dan pendukung parpol. Tidak ada sebersit pun niatan dari kami untuk mempengaruhi anak kami mendukung salah satu paslon bahkan menyuruhnya masuk ke dunia politik. Ketiga, apapun yang dikatakan oleh anak saya, tidak boleh diabaikan. Apapun yang dilontarkan olehnya itu murni tanpa bujuk rayu dan tekanan dari siapa pun. Saya sebagai orang tuanya, selalu menghargai apa saja yang dikatakannya. Sekali pun itu tidak bisa diterima oleh kaum kita, kaum orang dewasa. Karena persoalannya bagaimana kita memahami dan mencerna setiap omongan anak sebagai suatu anugerah dari Tuhan. Syukur Tuhan masih memberikan anak kita lidah, bagaimana kalau bisu? Apa yang bisa kita jadikan tolok ukur untuk mengetahui kemauannya? Saya bukan orang kebatinan, maka saya butuh mulut untuk bicara. Berucap."
Nampaknya, ibu terlalu melebar kemana-mana, namun majelis hakim, pengacara, jaksa, dan para saksi tidak mempermasalahkannya. Pertama, karena ia ibuku sendiri. Kedua, bisa jadi karena ia seorang emak-emak. Yang setiap ucapan, tindakan, hingga ketetapannya adalah fakta kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Titik. Aku rasa, semua sepakat untuk itu. Seperti kebenaran seorang emak-emak yang menyalakan sen ke kiri padahal stirnya berbelok ke kanan. Adalah kebenaran. Aku lihat di belakangku, para undangan berkusip-kusip menahan tawanya.
Mereka — orang-orang yang menertawakan ibu — mendadak terguguk ketika ibu melengos ke belakang. Giliran aku yang berkusip-kusip menahan tawa.
Setelah gema tawa mereda.
"Yang Mulia, ada satu lagi yang jadi keberatan saya."
"Apa itu, Bu?" Kata ketua majelis hakim seraya melepas kacamatanya.
"Jujur saja, saya tidak kenal dan tidak tahu sejak kapan saudara R jadi pengacara untuk anak saya? Kenapa saya tidak dimintai pendapat? Kenapa langsung ditunjuk saudara R?"
"Saudara termohon, dari pihak aparat kepolisian mohon dijelaskan kronologi mengapa dipilih saudara R sebagai pengacara terduga saudara Aldi?"
Dari sisi tempat duduk termohon, para aparat polisi saling memandang. Celingak-celinguk. Akhirnya salah seorang dari mereka berdiri dan mengambil mic, lalu menjelaskan duduk perkaranya. Ibu nampak kurang puas dengan jawaban dari aparat kepolisian.
"Yang Mulia," kata ibu, "dari perkataan aparat saja sudah tidak meyakinkan. Bahkan mereka mengakui sendiri telah melampaui prosedur dan undang-undang."
"Baik, mohon izin persidangan diskorsing selama 30 menit ke depan," ujar ketua majelis hakim kemudian disambut dengan teriakan "huuu" oleh hadirin.
Ketua hakim memarah-marahi hakim lain. Kenapa bisa terjadi kecerobohan seperti ini. Kalau keberatan ibu tadi disangkal dengan alasan keteledoran malah menjadi bumerang bagi aparat polisi, dan termasukl aparatur sipil negara seperti mereka. Rundingan terjadi lumayan alot dan lama. Ibu terlihat semakin pucat. Sementara aku sudah ingin sekali pulang. Aku terbayang-bayang wajah Pak Selamet, guru matematikaku, yang murka dan penggaris yang sudah disiapkannya untuk memecutku karena terlambat mengumpulkan PR. Bergidik bulu kuduku.
Setelah 30 menit lebih, akhirnya ketua majelis hakim mengedok palu dua kali. Tanda persidangan segera akan dimulai. "Persidangan dimulai." Dok. Dok.
"Para hadirin, saudara jaksa, saudara terduga, pengacara, saksi, dan semuanya. Kami akan membacakan putusan. Harap disimak baik-baik."
Suasana hening. Hanya suara derit kipas mengisi ruangan. Sementara semuanya sibuk dengan batin masing-masing yang berkecamuk.
"Setelah mengingat, menimbang, dan memperhatikan. Kami memutuskan untuk membebaskan saudara Aldi dari segala tuduhan. Bahwa saudara Aldi tidak terlibat secara kerusuhan selama 21-22 Mei. Penangkapan yang dilakukan aparat terhadap saudara Aldi demi menjaga iklim demokrasi yang aman dan nyaman. Maka, tindakan aparat tidak melanggar hukum, setelah menimbang apabila tidak dilakukan pengamanan."
Sejurus ibu berlari dan memelukku erat sekali. Air mata berleleran membasahi pipinya. Aku pun turut mendekapnya, dadanya terasa hangat sekali. Kemudian ia melepaskanku. Lega. Aku melihat mata ibu, terpancar rasa kekecewaan atas putusan tersebut. Tapi, bukannya intinya aku bebas, Bu? Baru kemudian aku tahu, mungkin yang membuat ibu kecewa lantaran tahanan yang seumuran denganku tidak pula mendapat angin kebebasan. Mereka masih menjalani tahanan. Atau, yang ibu kecewakan karena ketua majelis hakim terkesan melindungi kesalahan aparat yang ceroboh dalam bertugas. Ah, bukannya yang penting aku bebas, Bu?
"Kenapa ibu masih sedih?"
"Nggak apa-apa, Nak," katanya sambil menyeka air mata.
0 Komentar