Cerpen untuk Mbah Moen
Warung kopi yang biasa jadi markas gabungan; para sopir truk, tukang ojek, tukang becak, hingga santri mendadak hening. Mereka yang nikmat-nikmatnya menyeruput kopi di siang hari, mendadak tertunduk, tersedu, terguguk, setelah mendengar kabar wafatnya Mbah Jalil. Pahit kopi yang mereka seruput tiba-tiba terasa nyata sekali. Betul-betul pahit. 

Si penjaga warung, Mbok Dar, memilih mematikan layar televisi. Ia tidak gentar bila para pelanggannya mangkir atau warungnya mendadak sepi atau omzetnya malah merosot. Ia tidak peduli. Ia tidak memilih ramai dalam keheningan. Tapi ia ingin hening dalam keramaian, ramai dalam batin masing-masing. 

"Wis ben dho ora nangis wae!" Ujarnya, mengisi keheningan warungnya yang acap digunakan karambolan, dominoan, cekian, hingga (pernah) judi. "Kopine dadi ambyar nek mbok campuri tangismu. Wis, diikhlaske.  Wis titi wancine."

Tiba-tiba Mbok Dar seketika berubah menjadi filosofis sekali. Sebab, biasanya yang mengisi peran seorang bijaksana di warkop itu aku, santrinya Mbah Jalil yang ditugaskan untuk sering-sering ngopi di warkop Mbok Dar. Bahasa kerennya; intelnya Mbah Jalil. Tetapi, ternyata aku juga tertunduk, tersedu, dan terguguk. Seperti para sopir, tukang ojek, tukang becak lainnya. 

"Zul!" Sergah Mbok Dar, "Kamu biasanya yang menasehati kami kalau sudah banget-banget. Sekarang kok kamu sendiri yang terhanyut. Dulu, aku nggak berkerudung, akhirnya aku memakainya juga dari nasehatmu. Kemana jiwa santrimu? Masak ditinggal kiainya langsung lemes."

Kata-kata Mbok Dar, sungguh menyanyat hatiku. Bagaimana tidak? Di antara puluhan, hingga mungkin ratusan pelanggan di sini, aku yang diutus Mbah Jalil untuk mengasuhnya. Mbok Dar sewaktu kumintai izin berdakwah di sini tak keberatan, cuma ia berpesan; jangan sampai warungku jadi kuburan sambil senyum-senyum. Tentu saja, karena dari gaya penampilan pun aku menghindari mengenakan pici dan sarung. Dua atribut khusus yang harus ditanggalkan sewaktu dakwah di lorong gelap. 

Namun, ada yang membuatku sedikit berbahagia. Lantaran Mbok Dar, meski cuma di warung, ia mengenakan kerudung. Janda setengah abad ini, selalu kurayu, "Mbok, kalau pakai kerudung kayak bidadari." Mungkin ia sudah terbiasa — dan bosan — dengan gombalan-gombalan pelanggannya, tetapi mungkin karena yang nggombal beda dari yang lain. Akhirnya ia mau. Tapi aku kembalikan kepada Allah yang menggerakkan hatinya. 

"Tidak begitu juga, Mbok," belaku. 

"Tidak begitu?" Sahut Mbok Dar tak kalah keras seperti sebelumnya, angin pesisir yang berdesir kencang dan deru kendaraan membuat penghuni di jalur pantura memiliki pita suara yang tinggi. "Itu lihat, Gogon. Badan besar. Penuh tatoan. Ternyata tidak ada bedanya sama anak kecil ditinggal mondok sama orang tuanya."

Aku melengos ke Pak Gogon, begitu biasa kami sapa, yang menahan isak tangis yang tidak terbendung lagi. Kopi yang sudah ia pesan sejak dua jam lalu, masih penuh mengisi cangkirnya. Ia tertunduk, tersedu, dan terguguk menekuri kopinya yang sudah dingin. Sekilas ia menjumput kretek serta koreknya, kemudian seolah-olah menyalakannya sambil menyeka air matanya yang berleleran.

Teguran Mbok Dar, tak berpengaruh pada Pak Gogon, ia terus diam. Dan menghisap kreteknya. Lalu meniupkannya sembarangan. Mbok Dar pun mengalihkan perhatiannya ke ulekan sambelnya yang sedari tadi diabaikannya. 

Ketiadaan Mbah Jalil, sepertinya menjadi penyesalan terbesar baginya. Sejak ia menuduh Mbah Jalil, main-main politik dengan doa, ketika petinggi negeri melawat ke pesantrennya untuk memohon doa. Kemudian seratusan santri dan khalayak membanjiri rumahnya yang terbuat dari kayu dan injuk. Tetapi, ratusan massa yang nyaris membakar gubugnya mendadak buyar karena dari arah belakang, Mbah Jalil yang kuboncengkan berteriak ke arah kerumunan pendemo; "Buyar-buyar! Ayo balik pondok, waktunya ngaji!" Massa pun berjumpalitan dan hormat atas kedatangan kiainya. Orang-orang yang sudah kadung beringas layaknya singa mendadak berubah jadi mengembik bak kambing yang tunduk pada penggembalanya. 

Aku masih ingat ketika itu, bukannya berterima kasih dan mohon maaf kepada Mbah Jalil. Pak Gogon malah mengaku kalau ucapannya tidak salah sama sekali. "Sesuai fakta kan? Dimana kata-kataku yang mengandung muslihat?" Begitu lah ungkapan-ungkapannya selain ketika membahas doa Mbah Jalil juga saat membicarakan peta pemilihan kepala kades. Ia yang paling riuh. 

Kalau di Mahabarata mungkin perannya seperti Patih Sengkuni. Dulu, ucapannya Pak Gogon didengar kemudian lama-lama masyarakat tahu. Lidahnya memang tak bertulang. Seperti Sengkuni yang dulu bernama Prabu Trigantalpati. Karena memfitnah Prabu Gandamana akhirnya ia dihajar hingga babak belur dan cacat. Tapi, Mbah Jalil bukan Prabu Gandamana. Ia tak membalas mata dengan mata yang menjadikan buta.

***

Sebelum tiba di pesantren, aku sudah mengganti pakaianku yang semula jaket kulit dan celana jins dengan kopyah, koko, dan sarung. Hari sudah pagi dan jadwal dakwah sudah selesai, sekarang waktunya kembali ngaji. 

Mbah Jalil menugaskan aku sebagai santri kalong. Kalong berarti kelelawar. Layaknya Batman. Kerjanya waktu malam hari, dan sembunyi-sembunyi. Dakwah model begini tak memerlukan tenda, terop, spiker, TOA, panggung, untuk mengajak kebaikan. Apalagi mengumbar-umbar di media sosial. Tidak perlu. Malah akan mengurangi tujuan dari pada dakwah kalong sendiri. 

Aku sedikit tercengang, rupanya para santri dan masyarakat sekitar sudah berkerumun di pesantren. Aku kebingungan mencari celah untuk masuk. Rasanya, kartu saktiku sebagai pengurus pondok tidak berguna untuk saat ini. Apalagi sangat terbatas orang yang mengenaliku sebagai pengurus. Ini lah konsekuensi menjalani tugas santri kalong ini. 

Ternyata kerumunan itu berpusat di masjid pesantren. Dari kejauhan seorang kiai, putra Mbah Jalil, Gus Qodir memimpin tahlil. Dari raut wajahnya, Gus Qodir menahan air matanya. Suaranya parau, ia tahan berisak tangis. Seluruh jamaah mengikuti ucapannya bak lebah yang menangisi ratunya. "La ilaha illallah... "

Beruntung, aku bertemu khadam Mbah Jalil saat dikawal masuk oleh serombongan polisi setempat. Aku masuk bersamanya. Sungguh tak disangka, sesampainya di persinggahan terakhir Mbah Jalil, aku melihat Pak Gogon menduduk tanah. Ia cangkuli sambil mbrebesmili. Ia dibantu oleh beberapa santri yang lain. Ternyata kematian Mbah Jalil, membuat hatinya yang keras menjadi luluh. Betapa Mbah Jalil sampai ia meninggal pun masih bisa berdakwah. 

Usai jenazah dikuburkan, seorang kiai berebut untuk memimpin doa. Tak asing lagi. Ia Kiai Burhan. Beberapa tahun terakhir ini tersebar desas-desus ia mengawini santriwatinya sendiri tanpa asal-usul yang jelas. Kapan ijab kabulnya? Dan kapan akadnya? Tidak ada yang tahu. Tahu-tahu si santriwati sudah melahirkan. Pamornya menjadi merosot, dan terjadi penurunan volume santri yang mengaji padanya. Ambisinya untuk memimpin doa pemakaman Mbah Jalil untuk membersihkan namanya. 

Para pengurus pesantren awalnya menghalangi Kiai Burhan. Mungkin ini musykil di kalangan pesantren; santri menghalangi kiai berdoa. Tetapi, melihat keadaan saat itu bisa dipahami. Namun, kejadian itu segera diketahui oleh Gus Qodir, justru ia yang mempersilahkan Kiai Burhan untuk memimpin doa. "Jangan dihalang-halangi. Kalau abah masih hidup pasti tidak akan mempermasalahkan," tegur Gus Qodir kepada para khadam abahnya, termasuk aku yang berada di barisan itu. Kami menunduk malu.

Alam pun turut bersedih. Kemarau yang melanda seluruh nusantara, pada hari itu langit memuntahkan air matanya. Tanah di sekitar pesantren yang keras dan merekah, menjadi lembut dan gembur. Wadah yang subur untuk dicocoki tanaman. Mautul alim, mautul 'alam; matinya seorang alim, berarti matinya seluruh semesta. 

***

Beberapa bulan terakhir, kemarau yang berkepanjangan menjadi penghujan. Selama tujuh hari sepeninggal Mbah Jalil tidak lepas dari hujan. Selama tujuh hari itu pula siang berganti malam, malam berganti siang. Padahal di daerah yang lain tidak sederas di sini. Khusus di Rembang, air langit menetes tak berkesudahan. Sesiang itu, aku masih bertengger di warkopnya Mbok Dar. Merenungi sesuatu; mengapa purnama bergelantung di saat siang. Saking tak kentaranya matahari tertutup mendung, nyaris menyamai bulan yang sempurna. 

"Kang Zul, aku mau minta saran. Rencananya aku mau nutup warungku. Bagaimana?" Tanya Mbok Dar memecah keheninganku. 

"Kenapa ditutup, Mbok? Katanya, takut kalau sepi. Sekarang malah mau nutup."

"Rencananya aku mau pindah ke dekat pesantren. Kan sudah banyak pelangganku, dan mereka semua sudah niteni aku. Kalau bukan kopi buatanku katanya kurang enak," kata Mbok Dar sambil meletakkan secangkir kopi pesananku di meja.

"Pesantren? Nggak malah pada mangkir, Mbok." Kataku sembari menyeruput kopi Mbok Dar. 

"Nggak akan, Kang. Aku yakin kok. Justru dengan dekat dari pesantren kalau waktunya shalat, mereka bisa sembahyang di masjid pesantren. Syukur-syukur ikut majelis pengajian. Kalau lihat dari dakwahnya Kang Zul sendiri, aku yakin pelangganku nggak akan dianaktirikan dengan jamaah yang lain."

Betul. Tepat pada empat puluh hari sejak wafatnya Mbah Jalil. Mbok Dar, dibantu Pak Gogon dan pelanggan setianya yang lain memindahkan warungnya di dekat pesantren. Awalnya, sebagian pengurus sempat kaget, karena takut akan mempengaruhi para santri. Tapi, aku jelaskan bahwa tujuan warkop Mbok Dar supaya pelanggannya bisa turut sembahyang berjamaah. "Mereka tahu diri. Nggak akan minum-minum di dekat pesantren. Apalagi ada Pak Gogon, santri di sini yang juga pelanggan warungnya Mbok Dar."

Sejak saat itu, pedagang kaki lima lain juga menyusul Mbok Dar untuk ikut meramaikan kawasan pesantren. Bagi mereka, animo peziarah dari berbagai kota dan provinsi yang berdoa di makam Mbah Jalil menjadi tempat strategis berjualan. Perputaran rupiah terjadi terus-menerus. Mereka berjualan dari aneka macam peralatan shalat, kaos bersablon Mbah Jalil, hingga pernak-pernik seperti gantungan kunci. Rupanya, kendati Mbah Jalil tiada, ia mampu terus menghidupi masyarakat setempat.