![]() |
| Ratusan peserta yang mengikuti PKL dan Susbalan GP Ansor Kota Semarang di PP. As Shodiqiyah. |
Kalau
Anda sedang atau dulu pernah mengenyam pendidikan madrasah diniyah, barangkali
Anda pernah dengar ungkapan; man shobaro zafiro, artinya; siapa orang
yang bersabar maka akan beruntung. Ungkapan ini yang acap jadi pedoman para santri
kala ngaji di pesantren. Namun ternyata maqolah tersebut dapat digunakan di hal
apapun. Termasuk berdemokrasi.
Ya,
mungkin kita akan sama-sama terhenyak ketika menyaksikan demonstrasi
besar-besaran yang dilancarkan oleh mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.
Pelajar dari kelas menengah ini mengambil bagian untuk memberikan masukan
kepada DPR RI supaya menunda – kalau perlu mencabut – RUU yang anomali dan
represif terhadap rakyat.
Menyaksikan
itu, seolah negara sedang dalam kondisi gawat darurat. Padahal kalau ditelisik
negara kita masih baik-baik saja. Pasalnya kalau memang ditemukan kejanggalan
dalam penyusunan undang-undang, maka rakyat perlu memberi masukan. Tetapi akan
menjadi tidak baik-baik saja apabila rakyat telah acuh. Sebab tidak ada lagi
yang mau dan berani mengingatkan (baca; kritik) kepada para pemimpin negara.
Sayang,
dalam proses mengelola konflik dan metode pendekatan yang dipilih aparatus
negara melampaui batasan yang sewajarnya. Tewasnya dua mahasiswa dari Kendari
karena tersesap pelor yang diletupkan polisi adalah bukti tindakan yang
berlebihan tersebut. Apakah betul SOP-nya begitu?
Tidak
hanya itu, penangkapan terhadap dua aktivis demokrasi karena usaha mereka untuk
turut mengingatkan pemimpin negara pula merupakan bukti ketidakwajaran yang
menjadi-jadi. Emosi saya sempat meningkat lantaran kabar menyedihkan tersebut. Bahkan
saya mengecam supaya segera dibebaskan.
Dari
serangkaian aksi tersebut. Pak Jokowi telah meminta supaya untuk menunda pengesahan
RUU yang dianggap bermasalah oleh para demonstran. Tak cukup itu, Pak Jokowi
malah tengah mempertimbangkan membuat Perppu atas RUU KPK yang telah disahkan –
usai berbincang dengan para begawan dan sesepuh bangsa. Anehnya, mengapa demonstrasi
terus terjadi dan berlarut-larut?
Saya
tidak menduga dan menaksir akan kemungkinan adanya konspirasi antara elit
dengan mahasiswa yang bergerak. Sebab semisal ada kongkalikong, maka tidak akan
semuanya demikian. Dan semisal memang murni gerakan sipil, maka tidak
seluruhnya tanpa noda. Anasir bahwa aksi selama ini ditunggangi memang tidak
terelakkan tapi tidak mewakili realita keseluruhannya.
Sabar
Tadi
siang (27/09). Dalam sambutan pembukaan PKL dan Susbalan GP Ansor Kota Semarang.
KH. Shodiq Hamzah supaya Ansor dan Banser tidak tersulut untuk ikut-ikut
demonstrasi. Pengasuh pesantren As-Shodiqiyyah tersebut apabila melihat ketidakberesan
atas kebijakan yang dikeluarkan negara hendak lah untuk bersabar terlebih
dahulu. Toh, apabila negara salah mengambil kebijakan maka para pemimpin yang
menanggung dosanya.
Dawuh
Kiai Shodiq demikian, seiring dengan fenomena NU yang mendapat tempat strategis
dalam negara. Artinya, NU dan negara tidak terdapat lagi jurang kesenjangan.
Sebagaimana dulu saat Orde Baru, NU seolah dianak-tirikan bahkan diredam. Oleh
karenanya, beliau menekankan untuk bermusyawarah dari pada melakukan demonstrasi.
Hal
serupa disampaikan pula oleh KH. Anasom, Ketua PCNU Kota Semarang. NU sekarang
tidak berada lagi di periphery (baca; pinggiran), sekarang NU ada di
tengah. Ada KH. Ma’ruf Amin yang menjadi Wakil Presiden RI. Oleh karenanya,
sekarang banyak sekali yang menggunjing NU, Ansor, Banser, dan banom lainnya. Gunjingan
tidak datang dari orang non-NU saja, namun dari nahdliyin sendiri.
“Itu
NU-nya tidak begitu cetho,” terang kakak angkatan Abah saya di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo.
Kenyataan
Politik
Dalam
menata negara yang menjadi urusan orang banyak, niscaya terjadi perbedaan
pendapat dan tak jarang menuai perselisihan. Persepsi setiap orang tentang
suatu kebenaran tak pernah sama, tak hanya dalam agama, bahkan terhadap selera
makan orang berbeda-beda. Maka, menata suatu negara yang sejahtera itu butuh
kearifan dan kebijaksanaan.
Sudah
barang tentu, Pak Jokowi telah terbukti selama 5 tahun sebelumnya memberikan
pelayanan dengan maksimal melalui kebijakan. Kendati ada beberapa orang yang
tidak sepakat dengan paradigma pembangunannya yang di titik beratkan pada aspek
infrastruktur. Toh memang terbukti. Jalan tol yang membentang dan mempersingkat
perjalanan kita benar-benar terasa.
Di
samping itu, Pak Jokowi telah menunjukkan ketegasan dan integritasnya terhadap
negara. Seperti melikuidasi Petral yang acap jadi ladang bancaan mafia migas,
menenggelamkan kapal asing pencuri ikan, dan menguasai saham Freeport hingga 51%.
Di samping itu, Pak Jokowi pula telah memberikan hak kepada penghayat
kepercayaan supaya kolom agama dalam KTP elektronik diisi sesuai
kepercayaannya. Sebenarnya, ini capaian yang luar biasa yang dilakukan oleh
pemain baru dalam jagat perpolitikan nasional.
Entah
mengapa, akhir-akhir ini, dari kasus Papua hingga isu RKUHP Pak Jokowi belum
menunjukkan ketegasannya kembali. Ada kendala untuk bersikap tegas – seperti biasanya
- yang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa diselesaikan oleh beliau sendiri.
Kita perlu maklum akan hal tersebut.
Perputaran
roda politik begitu cepat, terkadang kita di atas, namun dalam beberapa menit
bisa mendadak berada di bawah. Sehebat-hebat apapun, arah angin politik sulit
untuk ditebak. Dalam hal ini tentu Pak Jokowi sedang menakar, baik dan
buruknya, untung dan ruginya. Alih-alih menunggu momentum dan gongnya.
Lalu,
bagaimana dengan kita? Kita cukupkan untuk bersabar dan sesekali bermusyawarah
isu-isu keindonesiaan terkini. Dan apabila kita ingin bergerak, maka ingat
dawuh Gus Mus, memperjuangkan kebenaran dengan benar; memperjuangkan
keadilan dengan adil. Amar ma’ruf dengan ma’ruf; nahi (‘anil) munkar, dengan
tidak munkar.
Semoga Pak Jokowi mampu mengakomodir tuntutan masyarakat.
Semoga Pak Jokowi mampu mengakomodir tuntutan masyarakat.
Much
Taufiqillah Al Mufti, cuma orang awam.

0 Komentar