![]() |
Semalam sebelumnya diminta Bapak KH. Wahid Zainal Arifin menjadi khotib dan imam sholat Jum'at di masjid Darunnajah |
Seorang
sahabat bernama Dzil Khuwaisir. Ia memprotes kebijakan Rasul SAW yang
memberikan harta rampasan (ghanimah) kepada para mualaf, dimana ia
telah berjuang dalam peperangan Hunain
tersebut. Protes Khuwaisir tentu mengundang kaget di antara para sahabat lainnya,
karena ia dikenal sebagai orang yang ‘alim dan penghafal Qur’an, namun masih
meragukan kebijakan Rasul SAW yang muaranya dari perintah Allah ta’ala.
Di
lain kesempatan, Rasul SAW berkata kepada para sahabatnya bahwa kelak akan ada
seseorang yang sama seperti Khuwaisir; seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi
dan hafal Qur’an namun memiliki watak yang buruk.
Perkataan
Rasul SAW pun terbukti, pada kisaran tahun 40 Hijriyah. Keponakannya sekaligus menantunya,
Sayyidina Ali bin Abu Thalib karromallohu wajhah ditikam oleh Abdurrahman
bin Muljam At-Tamimi - rakyatnya sendiri – yang merupakan orang alim dan hafal
Qur’an. Abdurrahman bin Muljam tentu faham dengan ajaran agama, apalagi saat
itu bulan suci Ramadhan, tetapi karena hasratnya ingin membunuh Ali bin Abu
Thalib telah membutakan segalanya.
Penggalan
cerita di atas adalah bahan pidato saya saat diminta menjadi khotib shalat Jum’at
di Masjid Darunnajah, Mlatiharjo, Semarang Timur. Saya mencuplik cerita tersebut
untuk dianalogikan dengan pemberitaan yang sedang santer dua hari yang lalu;
penusukan Menko Polhukam, Wiranto, di Pandeglang, Banten. Saya merasa ada
kesesuaian antara cerita Abdurrahman bin Muljam dengan penikam Wiranto yaitu karena
rasa ketidaksukaan. Entah, penusukan itu sebagai wujud protes, kecewa, ketidakpercayaan,
dlsb.
Dalam
berpidato memang seharusnya kita mengambil bahan, tidak hanya dari dalil nashi,
namun juga dari perkembangan keadaan terkini. Tidak hanya dimaksudkan supaya
kontekstual, namun juga mudah untuk dicerna dan difahami. Pelajaran ikhwal
pidato tersebut saya berkiblat dari Abah saya sendiri; alm. KH. Syarif
Hidayatullah.
Semasa
beliau masih hidup, setiap hari berlangganan koran. Beliau tekun membaca
berita. Biasanya berita politik, hukum, agama, dan lingkungan. Kadang kalau
berita tersebut menarik, Abah biasanya akan memotong dan mengklipingnya. Itu
lah mungkin terwarisi secara tidak langsung kepada diri saya; suka beli dan
baca koran dan majalah. Pada suatu saat, saya pernah mendengar bahwa alasannya
Abah acap membaca berita lantaran jadi rujukan dan bahan pidato.
Selain
dalam hal pencarian sumber bahan pidato, saya juga belajar dari Abah teknik
penyampaian pidato. Di samping harus memiliki artikulasi (kejelasan pengucapan),
dibumbui candaan, dan perlu diselingi dengan lagu atau sholawat.
Abah
secara langsung tidak pernah membuka “kelas pidato” kepada saya. Mungkin
maksudnya supaya saya menemukan karakter dan gaya berpidato sendiri. Dan
mungkin ingin menerangkan pada saya bahwa dakwah bil hal (tindakan)
lebih utama dari pada bil qoul. Semisal Abah mengajari, beliau cuma menceritakan
bagaimana beliau latihan pidato. “Aku dulu, kalau latihan pidato itu di kuburan,”
kata Abah, “Patok-patok kuburan itu tak anggap pendengarnya.” Awal saya
mendengar cerita Abah, seketika saya bergidik. Bagaimana bisa seberani itu?
Batin saya. Maklum saya masih santer dengan imajinasi pocong, kuntilanak, dan
genderuwo.
Dulu,
Abah mondok di Pesantren Tremas, Pacitan. Mungkin yang dimaksud kuburan oleh
Abah adalah maqbaroh para pendiri, pengasuh, dan masyayikh pesantren.
Di antaranya seperti Mbah Dim dan Mbah Haris.
Ketika
saya mondok (tabarrukan) di Pesantren An-Nahdloh At-Tarmasi yang diasuh Gus
Ama’ Haris (putra Mbah Haris sekaligus teman sekelas Abah). Setiap Jum’at pagi,
Gus Ama’ dan keluarganya bersama para santri – termasuk saya – ziarah ke makam
para leluhur Pesantren Tremas. Dari pesantren jaraknya lumayan, kisaran 300-400
meter. Kami menyusuri perkampungan dan persawahan yang masih lebat akan pohon.
Begitu sampai di maqbaroh, kami harus mendaki tangga yang lumayan
tinggi.
Di
situ lah, saya membayangkan betapa beraninya Abah latihan pidato di tempat yang
gelap lagi dingin ini, karena penerangan hanya sebatas di tepi jalan dan anak
tangga. Belum ada perkampungan yang masif, sehingga suasana apabila malam bisa
terang benderang. Tak pelak, apabila Abah naik ke atas panggung sudah tidak ada
lagi yang ditakutinya. Bahkan sempat aku dengar, Abah pernah pidato di hadapan
tokoh-tokoh, seperti Gus Dur.
Abah
mempercayakan pendidikan agama saya ke pesantren. Begitu saya berada di rumah,
Abah secara sporadis menganggap saya sudah menguasai ilmu agama, termasuk dalam
berpidato. Maka dalam suatu kesempatan, semisal saat Abah diundang menjadi imam
dan mengisi kultum di shalat Tarawih, Abah akan meminta kepada takmir supaya saya
mengisi barang 5 menit-an.
Kalau
mengisi kultum Tarawih masih mending, saya masih bisa mempersiapkan dengan
baik. Tetapi kalau mendadak bagaimana? Saya punya pengalaman yang lucu akan hal
itu bersama Abah.
Pada
satu siang, Abah yang masih nonton TV, saya ajak untuk sholat Jum’at, tetapi
beliau meminta saya untuk berangkat dulu. Saya pikir, Abah mungkin ada jadwal Jum’atan
di masjid lain. Jadi saya segera menuju masjid terdekat karena waktu Jum’atan
sudah mepet.
Ketika
sampai di masjid, saya dihampiri oleh takmir masjid dan ketua RT setempat.
Mereka menanyakan keberadaan Abah, karena pada hari ini adalah jadwal beliau
menjadi khotib. Saya pun menjelaskan kalau Abah masih di rumah. Serta merta
mereka mendesak saya supaya menjadi penggantinya Abah. Namun saya menolak,
karena belum ada persiapan sama sekali. Mereka terus mendesak, lantaran waktu
sudah mepet dan jama’ah terancam menunggu lama dan bubar.
Saya
pun mengiayakan akhirnya, dan maju ke depan. Tentu dengan pakaian ala kadarnya
dan tanpa teks, cuma dibekali buku panduan khutbah Jumat yang ditulis dengan
pegon (huruf Arab yang terbaca bahasa Indonesia) yang tidak bisa baca sekali
lihat. Minimal muqoddimah (kalimat pembuka) dan penutupnya yang ditulis
dengan kalimat Arab asli yang masih mudah terbaca.
Lalu,
bagaimana dengan bahannya? Beruntung pada saat itu masih anget-anget-nya
materi pengajian alm. KH. Iskhaq Latif yang bisa saya sampaikan ulang kepada jamaah
sidang Jum’at yang berbahagia.
Sampai
saat ini saya masih bertanya-tanya, apakah Abah saat itu memandati atau
mengerjai saya? Kalau dimandati, mengapa tidak berpesan terlebih dulu? Apakah Abah
lupa? Setahu saya, Abah itu selalu mencatat setiap kegiatannya di kotak tanggal
kalender. Namun kalau mengerjai, Abah itu tipikal bapak yang jarang mengajak bergurau
anaknya. Kata-katanya jelas, tidak bersayap, dan tentu bisa dipegang.
Di
saat saya tiba-tiba diminta untuk menjadi khotib, jujur saya merasa tidak sanggup,
sebab saya butuh belajar dan latihan dulu. Jadi, itu di luar kemampuan yang
saya bayangkan. Tetapi ndilalah seorang takmir menyodorkan sebuah buku
panduan khutbah Jum’at dan tidak menjadi soal apabila berkhutbah sambil membaca
teks. Saya merasa Tuhan memberikan jalan pertolongan di tengah ketidakmampuan
saya.
Mungkin begitu lah, cara Abah memberi mandat kepada saya, karena punya keyakinan anaknya bisa mengatasi. Setelah sekian lama beliau gembleng dalam rumah, ngaji di pesantren, dan beberapa kali tampil dengan disaksikan beliau langsung. Wajar, seseorang yang memberi mandat tentu bisa mengukur kecakapan orang yang dimandati. Sebaliknya, kalau mengerjai justru tanpa menimbang kemampuan, dan cenderung tidak serius.
Mungkin begitu lah, cara Abah memberi mandat kepada saya, karena punya keyakinan anaknya bisa mengatasi. Setelah sekian lama beliau gembleng dalam rumah, ngaji di pesantren, dan beberapa kali tampil dengan disaksikan beliau langsung. Wajar, seseorang yang memberi mandat tentu bisa mengukur kecakapan orang yang dimandati. Sebaliknya, kalau mengerjai justru tanpa menimbang kemampuan, dan cenderung tidak serius.
Nah, apakah ini juga berlaku ketika pada suatu siang, tiba-tiba
saya ditelepon ketua partai tingkat kota dan mengabarkan bahwa saya menjadi “sekretarisnya”?
Dan setelah berdiskusi dengan beliau, jujur, jabatan sekretaris partai itu sungguh
di luar kemampuan saya. La haula.
0 Komentar