Joker dikejar polisi Gotham karena pembunuhan tiga pemuda di kerea


Entah, ada energi yang menggerakkan saya pada siang itu untuk segera melancong ke mall. Bukan hendak berbelanja dan memborong diskon. Melainkan rasa penasaran saya memuncak pada film "JOKER". Saya melajukan motor secepat yang mungkin bisa. Kendati cuaca panas, tak melunturkan niat. 

Sampai di mall Ciputra, sejurus saya berlari kecil menuju ke gedung bioskop XXI yang berada di lantai dua. Ketika sampai di ruang lobi, saya melihat jam, rupanya masih 14:09. Saya bernafas lega, karena film belum lama mulai sejak jam 14:00. 

Saya memilih duduk di deretan kursi yang berisi cuma tiga orang, karena saya pikir pasti mereka bertiga bukan sepasang kekasih yang memadu asmara. Berhubung saya nonton sendirian (hehe). Saya kan tidak mau jadi belalang kumbang yang tak diundang. 

Ketika menyembul dari pintu masuk, film sudah dimulai. Masih seputar prolog, bagaimana Arthur Fleck (nama asli Joker) masih menghibur pejalan kaki dengan gaya jenaka dengan kostum badut. Kemudian ada serombongan anak-anak yang menyerobot papan iklan yang dibawa Arthur, ketika Arthur berhasil mengejar di gang sempit ia jadi bulan-bulanan anak-anak di sana.

Sambil bersabar saya penasaran, di mana adegan yang dikatakan "dark" menurut orang-orang yang sudah menonton. Batin saya, mungkin akan ada adegan-adegan pembunuhan, bedil-bedilan, dan bacok-bacokan. 

Betul, memang ada adegan dimana Arthur menembek tiga pemuda yang menghajarnya di kereta lantaran Arthur tertawa tak terkontrol (khas Joker dalam serial Batman) yang membuat mereka merasa dihinakan. Padahal, tawa Arthur disebabkan penyakit kejiwaannya.

Sebelum itu Arthur diundang untuk menghibur anak-anak yang dirawat di rumah sakit. Tak sengaja pistol yang diberikan rekan kerjanya terjatuh dari saku Arthur. Spontan terjadi PHK secara sepihak kepadanya karena merusak reputasi perusahaan lantaran ketahuan membawa senjata api di rumah sakit, apalagi di hadapan anak-anak. Sehingga ketika menembak tiga pemuda di malam harinya, ia masih mengenakan kostum badut. 

Keesokannya, Thomas Wayne (ayah Bruce Wayne atau Batman) memberi komentar atas tragedi pembunuhan tiga pemuda tersebut. Dalam wawancaranya di televisi, Thomas meledek badut yang dituduh sebagai pelaku penembakan dengan ungkapan yang merendahkan. Thomas menyamakan badut itu dengan rakyat miskin yang tidak bernasib buruk dan tidak memiliki harapan. Dan dengan angkuh, Thomas akan membantu mereka ketika menjadi Walikota Gotham. 

Komentar sinis Thomas memicu reaksi sosial dari kelas bawah, karena di Gotham memang sedang terjadi kesenjangan sosial antara kelas atas (orang kaya) dan kelas bawah (orang bawah). Kalangan kelas bawah memang sudah memendam amarah atas ketidakadilan dan kesengsaraan yang mereka terima. Dan komentar Thomas adalah puncaknya. 

Di satu sisi, Arthur merupakan korban kekerasan kemanusiaan yang senyata-nyata. Bagaimana tidak? Ia lahir dari hubungan gelap antara Thomas Wayne dan Penny Fleck. Begitu ia lahir, Thomas tidak mengakuinya dan menyarankan supaya status anak yang dikandung Penny sebagai anak adopsi. 

Tak pelak, Arthur benci kepada Thomas karena menelantarkan dirinya dan ibunya. Namun kebencian Arthur berubah menjadi kemarahan yang membabi buta karena mengetahui bahwa ibunya pernah menyiksanya ketika keci. Ia ketahui dari dokumen di rumah sakit jiwa yang pernah merawat ibunya yang sempat mengalami gangguan jiwa. 

Arthur pun membunuh ibunya sendiri. 

Sementara di luar sana. Kalangan kelas bawah ramai-ramai mendemo Thomas dengan menggunakan topeng badut sebagai wujud kepedulian sekaligus kekecewaan. Mereka menokohkan badut pembunuh itu yang tak lain adalah Arthur - atau Joker - sendiri sebagai simbol perlawanan.

Demo tersebut terus dan semakin membara karena tuntutan yang tak segera dipenuhi: menuntut Thomas minta maaf. Demo yang semula damai dan tertib menjadi anarkis. Pengerusakan dan pembakaran terjadi dimana-mana. Dan demo tersebut berangsur surut ketika salah seorang pengunjuk rasa membunuh Thomas beserta istrinya. 

Kritik Sosial

Apa yang terjadi dalam film Joker merupakan kritik sosial terhadap negara dan orang-orang kaya. Apabila terjadi kesenjangan yang membuat jurang antara orang miskin dan orang kaya akan menimbulkan kecurigaan massal dan lambat-laun menjadi kemarahan sosial. Tak pelak, apabila kemiskinan beririsan dengan maraknya kriminalitas. 

Menurut survei Global Wealth Report 2018 yang dipublikasikan oleh Credit Suisse, bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 45,6% kekayaan nasional. Sementara 10% orang terkaya di Indonesia menguasai 75,3% kekayaan nasional. Jumlah persentase tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun. Kalau keadaan demikian dibiarkan, tidak menutup kemungkinan apabila nanti kesenjangan semakin melebar.

Negara dalam hal ini pemerintah, harus mengeluarkan kebijakan yang progresif untuk sedikit demi sedikit menahan laju kesenjangan ini. Baik itu melalui undang-undang atau aturan lain yang efektif memberikan dampak terhadap peningkatan pembayaran pajak, transparansi anggaran, dan terutama pemberantasan praktik korupsi. Setelah itu diharapkan negara mengoptimalkan anggaran (APBN) yang ada untuk memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat.

Tidak lain supaya Indonesia tidak mundur menjadi Gotham. Diharapkan, tidak ada Joker bermunculan di Indonesia. Joker itu adalah korban kekerasan dan diskriminasi yang mendendam kemudian menuntut secara sporadis hak-haknya untuk "bahagia" dengan bentuk-bentuk kekejaman. 

Akan tetapi, setelah menonton Joker secara seksama, mari dipahami. Bahwa seorang kriminal jangan hanya dilihat tindakannya yang jahat dan amoral, melainkan juga fahami penyebab atau muara mengapa mereka tega melakukan kekejaman. Jangan-jangan kita adalah Thomas yang tanpa sadar membentuk banyak Joker di sekitar kita. 


Much. Taufiqillah Al Mufti, bukan pengamat perfilman.