Ustadz Rian Aji Prasetya sedang beraksi

Ud’u ila sabili robbik bil hikmah wal mau’idlotil hasanah. Dalil tersebut acap didengungkan dan dijadikan alasan sebagian muslim untuk mendakwahkan Islam. Di samping karena – memang – perintah oleh Allah, berdakwah merupakan panggilan dari diri sendiri yang merupakan pancaran dari Yang Ilahi. Agaknya jarang, seseorang berdakwah lantaran “dipaksa”, bahkan diancam akan dibedil. 
Maka dari itu, orang-orang yang terpanggil untuk berdakwah (baca; dai), bukan saja dari kalangan tertentu. Semisal, harus keturunan Rasul SAW ataupun ulama dan berlatar pendidikan pesantren. Pun tidak harus dibatasi dengan patokan umur. Hal ini terjadi pada diri Rian Aji Prasetya alias Ustadz Rian. Seorang da’i muda yang masih berusia belasan, namun memiliki jam terbang selaiknya para kiai kondang.
Ustadz Rian bukan merupakan jebolan pesantren, ia hanya murid dari Madrasah Aliyah Negeri di Jombang, Jawa Timur. Lahir dan besar di Jombang sebagai sentrum peradaban Islam di Jawa, di mana terdapat empat pesantren besar di sana; Tambak Beras (Bahrul Ulum), Tebuireng, Denanyar (Mamba’ul Ma’arif), dan Peterongan (Darul Ulum). Ustadz Rian mematahkan “anggapan umum”.
Masyarakat di sana telah terpatri, bahwa seorang penceramah itu ya minimal pernah mondok (bahkan membaca kitab kuning gundul). Salah satu kiai Tebuireng, pernah mengkritik fenomena santri yang lebih mengutamakan men-da’i dari pada mengaji. Kiai tersebut menyesalkan santri yang tidak memprioritaskan keilmuannya, karena dikhawatirkan para santri asal ndalil tanpa memahami kandungan ayat maupun hadits yang dikutip.
Sayang, parameter da’i yang baik atau buruk bukan dari kiai sebagai juri, melainkan mustami’ (baca; pendengar) dari offline hingga online – karena media sosial yang sudah acap menjadi panggung dakwah. Sebab, masyarakat awam – sebenarnya – tidak melihat seberapa tinggi keilmuan seorang da’i (hafal Qur’an, hadits, maqolah, hingga sya’ir) , namun dari bagaimana da’i tersebut menyampaikan materi ceramahnya; bertata krama dan tentu lucu. Tidak perlu banyak ndalil. 
Hal ini lah yang terjadi pada diri Ustad Rian. Ketika menyampaikan materi dakwah, ia tidak melulu sepaneng dan metenteng. Pendek kata, galak. Justru lebih banyak humor dengan tetap berotasi kepada materi. 
Sebagai anak muda (baca; milenial) yang besar di era digital dan sedang gandrungnya akan asmara. Ustadz Rian kerap mengambil tema yang sering berseliweran (baca; viral) di media sosial. Semisal, tentang patah hati ditinggal pacar yang masih sayang-sayangnya. Selain itu, Ustadz Rian – apabila dicermati – sering mengutip kata-kata bijak (baca; quotes/meme) yang banyak di-retweet atau diunggah oleh anak-anak muda sebayanya. Malahan, dalil yang dikutip Ustad Rian lebih sedikit. Tidak seperti Gus Baha dalam ceramahnya. 
Tidak hanya membahas soal jatuh cinta dan patah hati, Ustad Rian sesekali menyelipkan materi mengenai bahaya ekstrimisme dan intoleransi. Seperti saat ia diundang berceramah di SMK Bina Utama (Kendal, Jawa Tengah), bersama grub kasidah ia menyanyikan lagu Ya Lal Wathon – di samping karena ia merupakan anggota IPNU. 
Walau tidak mendominasi seluruh konten dakwahnya. Hal itu wajar, karena mayoritas pendengarnya dari kalangan anak muda, dimana mereka belum melibatkan diri dalam pergulatan ideologi. 
Selaras dengan dalil di atas, Ustadz Rian telah menerapkan perintah agung; ud’u ila sabili robbik bil hikmah wal mau’idlotil hasanah. Walau Ustadz Rian menyampaikan dengan gaya selengean dan banyak mengutip meme yang bertebaran di media sosial - yang mungkin sebagian orang dianggap khoriqul ‘adah. Bahwa kutipan meme yang disampaikan Ustadz Rian sebagai bahan ceramah lebih banyak dari pada Qur’an dan hadits (sebagaimana lazimnya para muballigh supaya “terlihat alim”) itu tidak menjadi permasalahan, karena bermuara dari semangat Qur’an dan sunnah untuk mengajak dengan hikmah (baca; pelajaran atau teladan) dan mau’idloh hasanah atau perkataan yang baik. 
Nah, perkataan “baik” ini relatif. Harus dilihat dari ukuran umum di komunitas masyarakat setempat. Karena, di satu komunitas, suatu perkataan bisa dianggap wajar, namun di tempat lain dianggap “saru”. Dan Ustadz Rian memadukan kesantuan dan “kesaruan” sehingga materinya mudah dipahami anak muda karena merupakan bahasa keseharian sekaligus jadi renungan mereka. 
Oleh sebab itu, Ustadz Rian berani menguak hal-hal yang biasanya menjadi perbincangan rahasia umum di media sosial. Seperti fenomena anak muda-mudi yang berpacaran dengan tidak mengindahkan ajaran agama dalam syariat Islam.
Semisal, pegang-pegangan tangan yang bukan saudara sedarah hingga fenomena hamil sebelum menikah. Ustadz Rian pun mengutip meme; kangen itu melepas rindu, bukan melepas baju. Sesekali ia memberi wanti-wanti tanpa menghilangkan unsur humor. Mongko kuwi, kudu mbok jogo gunungmu karo donatmu, ucap Ustadz Rian ketika menasehati perempuan. Dan ucapannya yang menasehati laki-laki, kowe milih donat sing mesese iseh utuh, iseh segelan, opo milih sing wis bukaan tur sering gawe dulinan? 
Mencermati cara Ustadz Rian berceramah ini menyadarkan bahwa, segala sesuatu yang berada di sekitar kita bisa menjadi bahan ceramah dan malah lebih mengena dari pada mencuplik dari teks. 
Walau begitu, tidak ada salahnya juga apabila mengambil bahan dari teks, tetapi di dalam penyampaiannya diharapkan tidak monoton, datar, dan menjenuhkan. Apabila seorang penceramah tetap saja monoton, maka jangan marah dan kecewa (apalagi sampai mengutuki) kepada jamaahnya yang meninggalkannya dengan berselancar di dunia maya. Alias HP-an!