Penulis bersama Ketua BANAAR GP Ansor Kota Semarang tahlil di makam Mbah Sholeh Darat

Syaikh Shalih al-Samarani atau Mbah Sholeh Darat bukan sosok yang asing di telinga warga Kota Semarang, apalagi di benak para nahdliyin. Beliau bukan ulama Nusantara yang populer, namun kiprahnya dalam bidang pendidikan untuk memperjuangkan agama dan tanah air begitu terasa. Oleh karenanya, jarang ada yang tahu profil dirinya secara jelas. Kendati terdapat sumber yang menuliskan biografi beliau, namun sang penulis biografi sendiri masih mendorong pembacanya untuk mencari rujukan lain.

Padahal Mbah Sholeh Darat bukan saja sosok yang penting, melainkan sangat penting untuk diingat. Pasalnya, dari ketulusan beliau mengajar agama lahir ulama-ulama terkemuka yang tidak hanya alim dalam hal agama, namun juga memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Sebut saja, Hadrautusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ariy, yang mencetuskan Resolusi Jihad terhadap sekutu yang hendak merampas kembali kemerdekaan Indonesia.

Dari Mbah Sholeh Darat pula, terlahir dua ormas Islam yang terbesar; Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Beliau bukan pendiri kedua ormas yang berpengaruh di Indonesia itu, tetapi beliau lah yang mendidik kedua pendirinya; Hadrautusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ariy (Jombang) dan KH. Ahmad Dahlan (Yogyakarta). Keduanya pernah nyantri kepada Mbah Sholeh Darat, dan mengamalkan ajarannya. Seperti Mbah Hasyim yang melarang para santri dan jamaahnya mengenakan celana, karena menyamai busana penjajah.

Hal itu juga yang diajarkan Mbah Sholeh Darat, sebagaimana dalam kitabnya Majmu’ah al-Syari’ah al-Kafiyah lil Awam.

Beliau menulis; aja nyerupani sira kabeh maring liyane ahli Islam ing dalam panganggonane lan tingkah polahe lan mangan ngombene, cecaturane lan salamane, maka haram ing ngatase wong Islam aweh isyaroh maring wong Islam kelawan tangane utawa kelawan derijine utawa kelawan angenterok-angenterok tangane nalika salaman kerana arah tiru-tiru ahli kitab. Artinya; jangan meniru kalian semua kepada orang non-Islam dalam hal pakaiannya dan tingkah lakunya dan makan minumnya, percakapannya dan cara bersalamannya, maka haram bagi umat Islam memberi isyarat kepada orang Islam lainnya dengan tangan atau jari atau dengan menggoyang-goyangkan tangannya ketika bersalaman hanya karena ingin meniru ahli kitab.

Dalam kutipan dari kitab beliau di atas, Mbah Sholeh Darat tidak membahasakan penjajah dengan kafir melainkan non-Islam (liyane Islam). Itu menunjukkan kapasitas keilmuan beliau yang konon disebut-sebut Imam Ghozalinya Indonesia.

Jiwa nasionalisme yang terpatri dalam diri Mbah Sholeh Darat diwarisinya dari sang ayah, Kiai Umar bin Tasmin. Beliau adalah orang yang dipercayai Pangeran Diponegoro untuk memimpin laskar rakyat di pesisir utara pulau Jawa untuk melawan VOC atau Belanda yang kala itu bertindak sewenang-wenang merampas hak dan menindas rakyat. Walau pun pada saat itu, tidak sedikit bangsa sendiri yang bersekongkol dengan Belanda. Namun tidak begitu saja mengendorkan tekad berperang.

Ketika meletus Perang Jawa, Mbah Sholeh Darat masih berusia 5 tahun. Di usia yang masih sangat kecil, Sholeh Darat kecil sudah dihadapkan kenyataan akan kekejaman perang. Hingga akhirnya Pangeran Diponegoro dan laskar-laskar rakyat dapat dikalahkan oleh Belanda dalam sebuah muslihat.

Banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang menyebar ke pelosok pulau Jawa untuk sekadar menyelamatkan diri dan keluarga. Tak terkecuali Kiai Umar yang pergi ke Mekkah beserta putranya, Sholeh Darat kecil. Di sana Kiai Umar menunaikan ibadah haji dan putranya mengaji dengan para masyayikh. Mbah Sholeh Darat beserta orang tuanya bertahan di tanah suci, hingga Kiai Umar meninggal dan dikebumikan di sana. Dan di kemudian hari, setelah menimba ilmu, Mbah Sholeh Darat pulang ke kampung halaman; Indonesia.

Walau Mbah Sholeh Darat berada jauh di tanah suci sana, bukan berarti beliau tidak memperhatikan dan peduli pada keadaan tanah air dan bangsanya. Sebab konon, Mbah Sholeh Darat memohon kepada khalifah Turki Utsmani untuk membantu menumpas Belanda yang sedang menjajah Indonesia.

Di Indonesia, Mbah Sholeh Darat bermukim di kampung Darat yang kini bernama Dadapsari dan berkedudukan di Semarang Utara. Kampung Darat sendiri merupakan kawasan perkampungan tempat para saudagar tinggal, baik untuk menetap sementara maupun seterusnya. Di kampung Darat, walau banyak pendatang, tetapi bukan sesuatu yang asing bagi Mbah Sholeh Darat, karena kebanyakan dari Melayu dan pendatang berasal dari Timur Tengah. Daerah tempat Mbah Sholeh Darat dan ayahnya sembunyi dari kejaran Belanda.

Di kampung Darat itu, Mbah Sholeh Darat mendirikan pesantren dan mengajar kitab kepada santrinya dan masyarakat sekitar. Di pesantren yang dinamakan “Darat” itu lah Mbah Sholeh Darat menggelorakan perlawanan terhadap penjajah – meneruskan perjuangan pemimpin ayahnya Pangeran Diponegoro. Hanya saja perlawanan yang dilancarkan Mbah Sholeh Darat tidak konfrontatif sambil mengangkat senjata, sebagaimana para pendahulunya; Kiai Murtadha, Kiai Hasan Besari, Kiai Jamsari, Kiai Darda’ dan termasuk Kiai Umar ayahnya sendiri.

Mbah Sholeh Darat mengambil inisiatif berperang melawan penjajah melalui bidang pendidikan. Di dalam pesantren, Mbah Sholeh Darat membentuk kurikulum, menyusun kitab, dan mengajarkannya sekaligus mempraktikannya. Di situ lah, Mbah Sholeh Darat melakukan ideologisasi dan kaderisasi kepada santrinya untuk menghadapi penjajah atau setidaknya bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar sebagai perwujudkan visi keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.

Hal ini mengingatkan penulis pada dawuh Al Maghfurlah Kiai Sahal Mahfudz, “Untuk menjadi baik itu mudah. Cukup diam saja sudah jadi baik. Untuk menjadi bermanfaat itu susah, karena harus berjuang.”

Gemblengan yang dilakukan Mbah Sholeh Darat tidak selalu memberlakukan disiplin militer yang mana lebih mengarusutamakan aspek lahiriyah atau fisiologis. Mbah Sholeh Darat mengutamakan aspek batiniyah atau rohani untuk ditempa. Dalam aspek itu lah, Mbah Sholeh Darat mengajarkan fiqih atau syariat yang dipadukannya dengan tasawuf. Al hasil, santri-santri Mbah Sholeh Darat memiliki kesadaran teologis (tauhid) yang kritis. Bahwa tidak ada yang patut ditakuti kecuali Allah. Apalagi hanya Belanda.

Di samping berjuang melawan Belanda, Mbah Sholeh Darat juga melakukan terobosan dalam hal pendidikan. Saat itu pemerintah Hindia-Belanda melarang penerjemahan Al Qur’an. Akhirnya Mbah Sholeh Darat melakukan inovasi menerjemahkan Al Qur’an dengan huruf Arab pegon. Mushaf terjemahan Al Qur’an yang beliau tulis, pertama kali diserahkan kepada Raden Ajeng Kartini sebagai hadiah yang pada saat itu mengeluh lantaran isi Al Qur’an tidak bisa ia mengerti karena berbahasa Arab.

Sebagaimana diceritakan oleh Nyai Fadlila Sholeh, cucu Mbah Sholeh Darat. Dalam sebuah pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, Kartini bertemu dengan Mbah Sholeh Darat atau dikenal Kiai Sholeh Darat saat itu. Selama pengajian, Kartini tertegun dengan ulasan tafsir surat Al Fatihah yang diterangkan oleh Kiai Sholeh Darat. Setelah pengajian ditutup, Kartini merengek-rengek kepada pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat sendiri untuk bisa ditemukan dan bercakap-cakap dengan Kiai Sholeh Darat. Pamannya pun mengiyakan, pasalnya Kartini merengek seperti anak kecil saat itu.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seseorang menyembunyikan ilmunya?” Tanya Kartini.

Kiai Sholeh diam sejenak, dan kemudian bertanya balik, “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Qur’an. Isinya begitu indah, dan menggetarkan hatiku,” terang Kartini. Beberapa saat kemudian, ia melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Bukankah Al Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Mendengar penjelasan Kartini itu lah yang kemudian menggerakkan Mbah Sholeh Darat menerjemahkan Al Qur’an dari juz 1 sampai 13, dari surat Al Baqarah sampai surat Al Ibrahim.

Setelah itu, Kartini selalu membaca dan mempelajari terjemahan Qur’an Mbah Sholeh Darat. Kartini yang dulu mengangungkan peradaban Barat mulai beralih. Sebagaimana tertera dalam suratnya kepada Abendanon;

“Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.”

Di situ lah, Mbah Sholeh Darat berhasil melakukan ideologisasi kepada Kartini yang sebelumnya terpapar oleh kebudayaan Barat yang kolonialistik.

Haul; Mendoakan dan Meneladani

Saat ini, di daerah Darat yang kini berganti nama menjadi Dadapsari mulai berbenah setelah sebelumnya merosot. Di antaranya dengan dihidupkannya kembali kegiatan kegiatan keagamaan, seperti penyelenggaraan pengajian dan pendirian TPQ (Taman Pendidikan Al Qur’an). Masjid Pesantren Darat yang dulunya berupa kayu, sekarang telah direnovasi dan diisi kegiatan di dalamnya. Semisal, tiap hari Ahad di masjid ini diadakan pengajian rutin bagi masyarakat. Hal tersebut untuk nguri-uri tradisi yang sudah berlangsung di daerah Darat, atau Dadapsari, sebagai daerah yang dulu banyak ditempati ulama dan sayyid.

Nguri-uri tradisi itu termasuk dengan mengadakan haul Mbah Sholeh Darat. Haul sendiri merupakan tradisi keagamaan ahlu sunnah wal jama’ah an-nahdliyyah guna mendoakan ahli kubur, seperti orang tua, leluhur, ulama, hingga wali yang diadakn setiap setahun sekali. Penyelenggaraan haul biasanya diisi dengan khataman Qur’an, tahlil, istighosah, hingga santunan.

Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah melaksanakan hal yang serupa haul. Dalam kitab Syarah al-Ihya, dinyatakan bahwa al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Waqidi mengenai kematian, bahwa Nabi Muhammad SAW, senantiasa berziarah ke makam syuhada di bukit Uhud setiap tahun dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengerasakan suaranya, “Salamun ‘alaikum bima shabartum fani’ma uqbad dar” (Surat al Ra’d: 22), yang artinya: keselamatan tetap padamu berkat kesabaranmu, maka betapa baiknya tempat kesudahan itu.

Sunnah nabi di atas itu lah yang pada gilirannya menjadi dasar keputusan dalam kongres Thariqah Mu’tabarah ke-II, Pekalongan, 9 November 1959, yang menyatakan bahwa haul atau peringatan kematian seorang muslim bukan termasuk bid’ah. Keputusan tersebut juga dipertegas dengan keputusan Konbes Syuriah NU ke-2, Jakarta, 11-13 Oktober 1961. Konbes Syuriah tersebut mengambil dalil dari kitab al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, karya Ibn Hajar al-Haitami, bahwa haram hukumnya meratapi orang yang sudah meninggal dunia seolah-olah tidak rela atas takdir Allah, kecuali di dalamnya terdapat manaqib dan mendorong seseorang untuk beramal sholeh seperti yang dilakukan mendiang.

Sementara itu, pada 2015 untuk pertama kalinya diadakan haul untuk mendoakan dan meneladani perjalanan hidup Mbah Sholeh Darat di Kampung Darat. Saat itu Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang didapuk sebagai penceramah. Haul tersebut diselenggarakan setiap setahun sekali pada 10 Syawal. Walau sebenarnya Mbah Sholeh Darat meninggal pada 28 Ramadhan, akan tetapi atas kearifan KH. Abdul Hamid Kendal peringatan haul Mbah Sholeh Darat pertama kali digelar tahun 1936 pada bulan Syawal dengan pertimbangan supaya jamaah dapat turut hadir keseluruhan.

Merawat Warisan

Sebagaimana riwayat berdasarkan catatan dari santri dan abdi dalem Mbah Sholeh Darat, KH. Jayadi. Mbah Sholeh Darat wafat pada Jum’at Legi, 28 Ramadhan 1321 H yang bertepatan dengan 18 Desember 1903. Artinya beliau wafat dalam usia 83 tahun, sebuah usia yang terbilang panjang karena usia nabi menjadi tolok ukur usia umatnya, dimana usia Nabi Muhammad SAW hanya sampai 63 tahun.

Setelah mengetahui garis keturunan, sanad keilmuan, riwayat hidup, dan karomahnya yang patut dicontoh dan diteladani, sayangnya, sepeninggal Mbah Sholeh Darat rumah, pesantren, masjid, dan asrama santri yang dibangun di atas lahan seluas 2.300 m tak lagi terurus. Hal ini disebabkan lantaran keturunan Mbah Sholeh Darat banyak yang merantau dan tak segera kembali. Ketika cucu beliau, Cholil Ali, mendatangi rumah dan pesantren yang didirikan kakeknya, pada 1947, sudah dikuasai oleh pendatang.

Walau sebenarnya, setelah wafatnya Mbah Sholeh Darat pesantrennya diteruskan oleh menantu sekaligus santrinya, KH. Dahlan Tremas. Setelah Kiai Dahlan wafat, kepengasuhan pesantren dilimpahkan kepada KH. Amir yang menikah dengan janda Kiai Dahlan, Nyai Siti Zahroh. Namun, setelah Nyai Siti Zahroh meninggal, Kiai Amir kembali ke kampung asalnya di Pekalongan, dan tongkat estafet kepengasuhan Pesantren Darat diserahkan kepada KH. Jayadi, santri sekaligus abdi dalem Mbah Sholeh Darat. Dan setelah masa kepengasuhan Kiai Jayadi, Pesantren Darat mengalami kemunduran. Dari dijadikan sekadar markas perang melawan Jepang dalam Pertempuran Lima Hari, hingga bahkan dijadikan tempat mesum.

Menurut penuturan Lukman Hakim Saktiawan, yang dikutip Taufiq Hakim, pasca-kemerdekaan banyak orang luar yang mengadu nasib ke Semarang. Mereka berasal dari beragam profesi, di antaranya pedagang, penjual makanan, dan sebagainya. Ketika secara kebetulan mereka mengetahui ada pondok yang kosong, ditempatilah oleh mereka tanpa segan pada pemilik aslinya. Bangunan yang didulu digunakan para santri Mbah Sholeh Darat, seperti KH. M. Hasyim Asy’ariy, KH. Ahmad Dahlan, KH. Mahfudz Tremas, KH. Umar, KH. Ihsan Jampes.

Hingga pada sekitar 1990-an, seorang cucu Mbah Sholeh Darat, H. Ali Kholil, mengambil alih wilayah yang menjadi pendirian pesantren tersebut. Para penghuni asing itu diminta pergi. Kemudian, Ali Kholil menjual sebagian wilayah pesantren itu untuk memberi pesangan kepada pendatang yang menghuni di area pesantren tersebut.

Hanya saja, sebagian area pesantren yang mampu diambil alih oleh keluarga. Sementara area yang lain sudah banyak ditempati orang asing - yang tidak mau diminta pergi – dan didirikan bangunan serta pabrik. Dari sekian situs Pesantren Darat, hanya masjidnya lah yang bisa diselamatkan, sebagai satu di antara pilar pesantren menurut Zamakhsyari Dhofier; kiai, santri, kitab, pondok, dan masjid.

Secara sederhana dapat diambil kesimpulan, bahwa Pesantren Darat yang didirikan Mbah Sholeh Darat sudah tidak ada. Hal ini merupakan kenyataan yang memilukan, karena di pesantren itu lah terlahir ulama dan tokoh nasional. Hal itu lantaran, tidak adanya sistem kaderisasi dan regenerasi pesantren dan pengurusan legalitas kelembagaan. Sebagaimana yang pernah dialami senior penulis di Weleri, dimana ia tidak bisa meneruskan pesantren yang didirikan ayahandanya setelah wafat lantaran tanah yang di atasnya didirikan bangunan pesantren belum memiliki legalitas hak kepemilikan yang jelas.

Perihal sistem regenerasi, sejauh yang penulis ketahui, mayoritas pesantren dikelola oleh keluarga dan ahli waris. Penulis belum menjumpai pesantren yang dikelola dengan sistem demokratis, dimana siapa pun bisa mengasuh dan mengelola asal memenuhi standar kualifikasi dan disepakati bersama. Artinya keberlanjutan dan perkembangan pesantren ada di tangan keluarga. Pesantren Darat dapat menjadi gambaran, dimana keberlangsungan pesantren akhirnya tidak menentu karena dilanjutkan oleh yang bukan keturunan. Tetapi, tidak dapat pula hal itu digeneralisasi.

Upaya restoratif terhadap nilai, tradisi, dan teladan yang diajarkan oleh Mbah Sholeh Darat harus selalu digaungkan. Sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat atau Kopisoda yang rutin mengadakan pengajian dan bedah kitab karangan Mbah Sholeh Darat.

Upaya tersebut teramat penting karena beberapa sebab; pertama, sosok Mbah Sholeh Darat merupakan bagian sejarah dari penyebaran dan perkembangan Islam di Nusantara; kedua, Mbah Sholeh Darat merupakan titik temu pemikiran dan aliran di Indonesia yang bercabang dalam dua arus besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah; ketiga, Mbah Sholeh Darat bukan saja alim dalam hal agama, melainkan sholeh dalam aspek ritual maupun sosial, sehingga beliau acap diberi anugerah Allah berupa karomah, tak pelak lagi, mengharap berkah dari beliau adalah sebuah keniscayaan.

Dari beberapa sebab di atas, hal utama yang harus digalakkan – selain pengajian kitab dan haul – adalah penelusuran dan penelitian sejarah hingga kiprah Mbah Sholeh Darat secara komperhensif. Sebab, dari biografi Mbah Sholeh Darat yang penulis ketahui ada missing link. Semisal, bagaimana KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan nyantri dengan Mbah Sholeh Darat; apakah kedua ulama besar itu satu masa saat belajar; hingga mengapa ketika Mbah Sholeh Darat wafat tidak ada satu pun anak keturunannya yang meneruskan pesantren, dimana Kiai Dahlan Tremas, Kiai Amir Pekalongan, dan Kiai Jayadi notabene adalah santri dan menantu. Wa’allahu a’lam.

Sumber:

1. Taufiq Hakim, Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX M, INDES Publishing, 2016

2. KH. Muhammad Sholikhin, Ritual Kematian Islam Jawa, NARASI, 2010

3. Hartono Samidjan, Halah Pokokmen; Kupas Tuntas Dialek Semarangan, Mimbar, 2013

4. nu.or.id

5. harakahislamiyah.com