jurnalislam.com


Saya punya satu penggalan pengalaman bersentuhan dengan Gus Sholah. Saat itu menjelang wisuda seluruh sekolah dan madrasah di bawah naungan Tebuireng, saya dan beberapa teman sowan ke ndalem. Di sana, kami diterima seorang khadam, dan syukur Gus Sholah ada di ndalem. Kami dipersilahkan masuk. 

Sebentar kemudian, Gus Sholah keluar dari dalam dan berjalan pelan menuju ke arah kami. Sejurus kami berdiri dan mencium tangan cucu hadrautusyaikh dan adik kandung Gus Dur ini. 

Beberapa jenak duduk di ndalem tapi tiada sama sekali yang nyelethuk memulai obrolan, atau sekadar memecah keheningan. Beberapa saat kami larut dalam keheningan. Menikmati cericit burung yang berterbangan di taman sekitar pondok atau merasakan gesekan-gesekan sarung para santri yang lalu lalang, entah dengan tujuan hendak mengaji atau cuma ngopi. 

Aku disenggol oleh salah seorang temanku yang berkacamata. Ia berbisik, meminta supaya aku memulai percakapan. Aku awalnya keberatan, karena mengingat temanku nyantri di sini lebih lama. Akhirnya pun aku iyakan, tentu berat sekali. Dengan penuh keberanian, sembari menarik nafas panjang-panjang, aku melontarkan kalimat-kalimat pembuka. Dimulai dari salam hingga memperkenalkan diri kami. Gus Sholah mengangguk sambil memegang dagunya, ciri khas beliau apabila bercakap dengan tamu. 

Setelah itu aku menjadi gusar, karena tidak menemukan bahasan obrolan lagi. Akhirnya terbersitlah dalam pikiranku untuk menanyakan perkembangan NU -- sungguh ini pertanyaan yang bukan kapasitas kami yang masih santri tapi terlontar saja dari mulutku. Gus Sholah pun tak langsung menanggapi. Ia malah berbalik tanya NU itu apa? Kami pun menjawab bahwa NU itu jam'iyyah. Lantas Gus Sholah langsung menimpali, NU itu kiai, santri, masjid, dan kitab kuning. Kami yang duduk berhadapan beliau pun saling cengingisan karena keterbatasan pengetahuan kami. 

Jawaban Gus Sholah itu baru aku mengerti setelah menginjak di bangku kuliah. Ternyata itu adalah unsur yang ada dalam pesantren menurut pandangan Zamakhsari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren. Rupanya, Gus Sholah ingin menjelaskan NU itu dengan pengertian yang tidak muluk-muluk. Bahwa NU itu ya pesantren. NU adalah pesantren besar. Sedang pesantren adalah NU kecil. 

Walau percakapan baru berlangsung 15 menit, akan tetapi rasanya sudah sedemikian lama. Menjelang pamit, aku mewakili teman-teman meminta doa Gus Sholah supaya ilmu yang kami peroleh selama nyantri di pondok yang didirikan oleh Hadrautusyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari ini dapat bermanfaat. Akan tetapi Gus Sholah tak langsung mengadahkan tangan. Rupanya, Gus Sholah, walau sudah sepuh, jeli dan cermat memperhatikan diksi serta kalimat yang aku ucapkan. Malah, beliau berkata balik. 

"Loh, kalau ingin ilmu bermanfaat, ya bagaimana caranya memanfaatkan ilmu itu," timpal Gus Sholah dengan nada suara rendah dan serak. 

Jujur, aku merasa malu dengan diriku sendiri, karena permohonanku barusan. Benar yang didawuhkan Gus Sholah, bagaimana ilmu bisa bermanfaat ya tergantung dari si pemilik ilmu bagaimana memanfaatkannya. Terkecuali permohonan doa itu supaya mendapat ilmunya berkah, akan lain cerita. Karena berkah dan manfaat berbeda. Manfaat sangat tergantung kemauan, seseorang yang bisa menyapu tidak akan bermanfaat ilmunya kalau tidak digunakan menyapu. Sedang berkah adalah bertambahnya manfaat dan kebaikan dari ilmu kita. Kalau sesuatu tidak bermanfaat, jelas tidak akan berkah. 

Kemarin, hari Minggu pukul 20.55 Gus Sholah dipanggil oleh Sang Pencipta. Allah Azza wa Jalla. Saya sebagai santri sangat merasa kehilangan. Apalagi diri ini yang masih pandir. Setelah percakapan itu, hanya aku santri yang tidak meneruskan mondok di Tebuireng dan malah kuliah di Surabaya. Betapa congkaknya diri ini yang merasa "cukup" menenggak samudra ilmu, terutama di Tebuireng. Walau begitu, tidak mengurangi  harapan supaya ilmu yang kuperoleh dalam waktu singkat dapat berkah dan mberkahi. Matur nuwun Gus. Semua teladan dan wejangannya. Beristirahat lah dengan tenang. Semoga Allah memberi tempat yang terindah untuk panjenengan di sana. Amin. 

Semarang, 3 Februari 2020