![]() |
| Penampakan kaki penulis di altar PT. Infomedia Nusantara by Telkom |
5 Februari 2020 saya melihat di akun IG yang acap memberikan informasi lowongan pekerjaan, di sana tertera PT. Infomedia Nusantara sedang membutuhkan tenaga sebagai Call Center 147 Telkom. Ketika saya baca persyaratannya, hampir semuanya saya memenuhi. Cuma, ada satu syarat yang membuat dahi saya mengernyit: mampu melakukan penghitungan angka dengan baik.
Dalam sejarah pengembaraan intelektual saya, hanya matematika yang membuat momok. Saya selalu berusaha menghindari matematika. Sejak MA saya memilih jurusan MAK (atau keagamaan), harapannya tidak berjodoh dengan matematika. Ternyata tidak, matematika tetap diajarkan, bahkan menjadi materi wajib. Beruntung yang mengajar perempuan -- Bu Apri namanya -- sehingga saya lumayan semangat.
Pernah, suatu saat Bu Apri memanggil saya ke depan, kemudian ia menuliskan suatu soal di papan tulis warna putih. Ia meminta saya untuk menyelesaikan soal itu, saya pun mengatakan tidak bisa. Lalu, Bu Apri beralih ke papan tulis lagi dan menulis suatu soal, kemudian menoleh kepadaku sambil menunjuk soalnya, akan tetapi saya menggelengkan kepala. Tak patah semangat, Bu Apri menghapus soal itu dan menggantinya dengan soal baru, kemudian menjelaskan kalau ini soal kelas I. Saya masih menggeleng, Bu Apri pun kehabisan kesabaran.
"Mufti! Selama ini kamu belajar apa saja?!" Katanya setengah membentak, "Soal kelas III tidak bisa, kelas II tidak bisa juga, kelas I masih saja tidak bisa. Ini mendekati Ujian Nasional tapi kamu tidak bisa materi mudah sekalipun," katanya sambil berkacak pinggang.
Saya pun menunduk malu. Tapi mau bagaimana lagi, kemampuan hitung-hitungan saya lemah.
Ketika kuliah pun saya berusaha menghindar bertatap muka dengan angka terlebih matematika. Namun tetap tak dapat dihindari, saya masih bertemu dengan matakuliah Statistik -- lagi-lagi saya berjibaku dengan angka. Bedanya, kalau di sekolah tidak diizinkan menggunakan kalkulator atau HP sedangkan di kampus diperbolehkan, alih-alih mengejar tugas lekas selesai. Dari pengalaman kuliah itu saya tercenung, dalam hidup kita tidak bisa menafikan matematika -- utamanya angka -- dari kehidupan. Justru semakin kebutuhan sehari-hari bertambah, semakin matematika dibutuhkan. Itu lah yang membuat saya "iseng" memasukkan lamaran di anak perusahaan Telkom itu.
Pada 7 Februari 2020 pukul 08.00 sesuai arahan dari HRD perusahaan, saya memenuhi undangan interview. Di kantor yang menggunakan bekas gedung mal Sri Ratu itu, saya bertemu dengan beragam pelamar. Mereka berpenampilan rapi-rapi, bahkan ada yang sampai berdasi! Pelan-pelan saya berkenalan dengan mereka, ternyata rata-rata pelamar berasal dari luar kota Semarang. Seperti: Batang, Purworejo, Solo, dan yang paling jauh Cirebon. Sungguh hebat sekali mereka, jauh-jauh dari kampungnya mencari kerja. Hal ini menampik rumor bahwa kaum milenial ingin kerja dengan hasil instan. Bahkan di antara mereka ada yang menganggur 2 tahun dan selama itu ia menjalankan ojek online.
Dalam proses interview saya bisa menjalin keakraban dengan perempuan paruh baya yang mewawancarai saya, sehingga kami lebih banyak mengobrol santai dari pada ditanya-tanyai secara serius dan ketat. Dan syukur, ia meloloskan saya ke tahap selanjutnya, yaitu: tes komputer, tes intelegensi umum, dan tes psikotes. Saya menaksir-naksir, sepertinya di tes intelegensi umum pasti bertemu dengan angka. Alih-alih khawatir, saya malah cari makan karena lapar sekali pagi itu. Ada benarnya adagium, logika tak akan jalan tanpa logistik.
Ketika tes komputer dimulai, saya diminta mengetik di sebuah netbook dan hasilnya: akurasi pengetikan saya 94%. Kemudian beranjak ke tes psikotes dan intelegensi umum. Oleh penguji saya dan semua pelamar diberi lembar soal psikotes untuk dijawab. Tatkala tes tersebut selesai beralih ke tes menggambar dan Wartegg. Tak ada kesulitan yang berarti bagi saya, walau sedikit pusing karena banyak pilihan yang mirip-mirip. Nah, setelah itu berganti tes Kraepellin. Ketika penguji menyodorkan lembar soal yang dipenuhi angka-angka. Saya seperti melihat kode-kode digital layaknya film Matrix. Dan seketika kepala saya pun berdenyut-denyut.
Jujur, saya pasrah. Kalau diterima alhamdulillah dan kalau tidak diterima ya alhamdulillah. Ketika itu Mahdan, adik saya, mengirim pesan WA. Saya sempatkan membuka, barang sebentar. Di situ terbaca, BOSSS LOLOSSS KEEE BOSSSS LOLOSSSS KEEE. Semangat ya bos. Niat berjuang nggo Abah.
Setelah membaca itu, saya terhenyak. Kemudian menasehati diri sendiri, "Muf kamu boleh tidak bisa hitung-hitungan. Kamu boleh pasrah dan berfikir masih banyak jalan rejeki yang lain. Tetapi kamu harus serius dan bersungguh-sungguh mengerjakan. Kamu tidak tahu kalau ini ternyata takdirmu. Seandainya kamu gagal dan di kemudian hari kamu tahu sebetulnya di sana adalah takdirmu. Kamu akan menyesal."
Setelah membaca itu, saya terhenyak. Kemudian menasehati diri sendiri, "Muf kamu boleh tidak bisa hitung-hitungan. Kamu boleh pasrah dan berfikir masih banyak jalan rejeki yang lain. Tetapi kamu harus serius dan bersungguh-sungguh mengerjakan. Kamu tidak tahu kalau ini ternyata takdirmu. Seandainya kamu gagal dan di kemudian hari kamu tahu sebetulnya di sana adalah takdirmu. Kamu akan menyesal."
Saya kembali fokus mendengarkan pengarahan penguji. Ia menerangkan cara pengerjaan tes Kraepellin ini, dimana kami disuruh menjumlah angka-angka itu ke arah atas, dan ketika penguji mengatakan ganti maka pelamar harus beralih ke barisan angka selanjutnya. Dengan kata lain, ini sama dengan tes hitung cepat! Semakin tinggi angka yang bisa terhitung semakin baik nilainya. Ketika itu saya mulai menggali trik hitung-hitungan yang pernah saya pakai ketika sekolah. Yaitu menghafal.
Di saat penguji berkata "mulai!" saya mulai menghitung satu-satu sembari menghafal hasil setiap penjumlahan. Artinya ketika 9 + 9 pasti 18. Bukan karena saya hitung, melainkan saya hafalkan hasilnya pasti 18. Tes pun selesai. Dan saya bisa mengerjakan sampai akhir, walau angka yang bisa saya hitung tidak sampai sepertiga dari tinggi angka yang berjajar.
Di saat penguji berkata "mulai!" saya mulai menghitung satu-satu sembari menghafal hasil setiap penjumlahan. Artinya ketika 9 + 9 pasti 18. Bukan karena saya hitung, melainkan saya hafalkan hasilnya pasti 18. Tes pun selesai. Dan saya bisa mengerjakan sampai akhir, walau angka yang bisa saya hitung tidak sampai sepertiga dari tinggi angka yang berjajar.
Setelah tes Kraepellin yang menguras seluruh tenaga dan syaraf, saya bisa rehat untuk sholat Jum'at dan minum. Kemudian berlanjut ke sesi interview terakhir dengan "user". Saya kira akan dites bagaimana cara pelafalan kalimat. Ternyata saya hanya ditanya, kenapa kami harus menerima kamu? Dan apa kelemahan kamu? Selesai. Kemudian nama saya dipanggil oleh HRD beserta empat pelamar lain. Di sana kami dinyatakan lolos! Hah? Seketika timbul pertanyaan di benak, lalu dengan hitung-hitungan tes Kraeplellin tadi bagaimana hasilnya? Apakah baik, lumayan, atau buruk? Sampai saya pulang ke rumah disertai rintik hujan yang syahdu, saya tidak tahu berapa nilainya.
Catatan Harian, Much. Taufiqillah Al Mufti, seorang pemberani yang takut lapar

0 Komentar