![]() |
Coret-coretan penulis saat ujian. Saking lamanya menunggu waktu habis, penulis bahkan bisa melukis seorang perempuan. |
Tempo hari saya ikut tes CPNS di Jakarta, eh tepatnya di Depok, Jawa Barat. Seperti umumnya para pelamar, sudah semestinya saya belajar dan berlatih mengerjakan soal-soal yang kira-kira akan diujikan. Saya pun juga beli buku soal tes CPNS dengan label "best seller!" -- walaupun ketika saya berjibaku dengan soal yang sesungguhnya tak ada sama sekali soal dari buku yang keluar!
Ah, paling tidak dari berlatih mengerjakan soal -- kendati tidak terlalu rutin -- saya bisa menghafal pola-pola soal yang kelak diujikan.
Seorang teman saya yang sama-sama ikut tes CPNS, bernama Sari, memberi tahu kalau ada tiga jenis soal yang akan diujikan. Ketiganya diantaranya: tes wawasan kebangsaan (TWK), tes intelejensi umum (TIU), dan tes kepribadian (TKP). Bersama Sari saya terbantu belajar. Maklum, karena sudah lama sekali tidak berjibaku dengan soal-soal sejak lulus sekolah 2011 lalu. Lalu bagaimana dengan di kampus dulu? Metode pengujian di kampus lebih banyak mendorong mahasiswa mengurai, bukan memilih. Jadi, lebih banyak ujian yang sifatnya esai dari pada pilihan ganda.
Di antara tiga jenis soal tersebut, tes intelejensi umum atau TIU yang membuat dahi saya mengernyit dan mata saya menyipit. Mengapa? Karena di antara soal-soal itu, di dalamnya terdapat matematika. Nah, lagi-lagi saya harus berhadapan dengan angka setelah beberapa hari lalu ngos-ngosan mengikuti tes Kraepellin dalam seleksi penerimaan karyawan Telkom. Akan tetapi, inilah kenyataan, tidak bisa saya tolak, dan suka tidak suka harus dihadapi dengan berani!
Pada hari ujian CPNS, saya berangkat dari rumah saudara di daerah Jakarta Selatan (konon di dalam satu kawasan tempat tinggalnya ada artis Cinta Laura dan politisi Senayan). Tepat pukul 04.00 pagi saya berangkat. Bukan lantaran ingin berangkat mendahului yang lain, akan tetapi jadwal ujian saya jam 06.00 pagi dan lokasinya jauh di Depok sana. Menurut Google Map, membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Saya berangkat jam 04.00 juga karena mengantisipasi kemacetan yang mendadak, mengingat ini Jakarta bukan Semarang.
Beberapa orang, termasuk saudara dan teman saya, menyarankan naik ojek online atau kereta. Akan tetapi, pertimbangan saya jatuh pada naik ojek online. Karena jaraknya yang jauh dan sulitnya transportasi menuju ke lokasi ujian. Tepatnya di Sawangan, Depok.
Saat perjalanan saya sempat tertidur di mobil, kemudian si sopir membangunkan saya. Ketika itu saya lihat di depan kaca mobil tertulis pada prasasti bangunan, Pusdiklat Perdagangan. Sejurus saya merogoh dompet dan mengambil beberapa lembar uang kemudian saya berikan kepada si sopir. Saat turun, saya melihat gerbang masih tutupan dan beberapa pelamar yang mengenakan pakaian putih-hitam sedang duduk di pinggir jalan menunggu sampai gerbang dibuka oleh petugas. Ketika saya melirik jam, masih sempat untuk melaksanakan shalat Subuh. Saya pun bergegas menuju musala atau masjid terdekat.
**
Ketika petugas membariskan seluruh pelamar PNS, saya melihat para pelamar itu mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan "kartu ujian". Saya pun tak mau ketinggalan mengeluarkannya. Ketika itu, saya perhatikan antara kartu ujian saya dengan pelamar yang lain berbeda. Wah! Ternyata dari Semarang saya salah cetak. Yang saya cetak malah kartu pendaftaran, bukan kartu ujian. Seketika saya panik dan lemas sekali, dimana saya sudah berada di lokasi dan waktu ujian akan berlangsung. Tidak ada siapapun yang bisa saya mintai bantuan. Kemudian saya berlari ke arah gerbang dan bertanya kepada satpam.
"Bapak, tempat prin-prinan terdekat dimana ya?" Tanya saya dalam kondisi panik.
"Kalau sekarang masih pada tutup, Mas."
"Waduh," kata saya spontan.
"Bukanya masih nanti jam delapan, Mas." Katanya, "Masnya sesi berapa?"
"Pertama, Pak!"
"Waduh."
Kemudian saya keluar, menoleh kanan-kiri sambil berlari kecil seperti sa'i dalam rukun haji, mencari tempat prin-prinan yang sudah buka. Di depan saya ada seorang pelamar yang sedang berjalan dengan lesu, saya menghampirinya dan bertanya tempat prin-prinan. Rupanya, ia juga mencari tempat prin-prinan karena kasus yang sama dengan saya: salah cetak! Sejenak saya mulai tenang, karena mendapati teman yang senasib. Akan tetapi, saya masih saja cemas, lantaran belum tahu kepastian bisa ikut ujian atau tidak? Kami pun berjalan kembali ke lokasi, dimana para pelamar berbaris dan mengantri masuk ke ruang ujian.
"Mas, coba tanya ke satpam atau panitia. Kira-kira bisa tidak ikut ujian?"
"Oh ya," celethuk saya.
Sejurus kami mendekati satpam yang sedang mengawasi para pelamar mengantri untuk menitipkan barang bawaannya dan menandatangi daftar hadir. Perasaan saya harap-harap cemas ketika bertanya kepada satpam. Setelah saya beritahu permasalahan kami, ia pun memanggil seorang panitia dan menjelaskan duduk permasalahan kami. Panitia langsung mengatakan, "Nanti diprin di kantor! Kalian tunggu di sana." Sesuai arah telunjuknya, saya melihat dua orang pelamar sedang dibariskan di sudut halaman yang ternyata senasib dengan kami: salah cetak. Saat itu kami bergurau, "Wah mengeprin saja sudah salah, apalagi mengerjakannya!" Sejurus kami pun tertawa.
**
Saat saya berada di depan layar komputer. Pikiran saya melayang-layang dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Bagaimana hasil ujiannya? Mengingat sebelum-sebelum ini saya selalu mendapat skor sedikit saat latihan mengerjakan soal di aplikasi CAT. Namun lagi-lagi saya teringat sesuatu yang pernah terbersit saat ujian di Telkom. "Muf boleh tidak bisa hitung-hitungan. Kamu boleh pasrah dan berfikir masih banyak jalan rejeki yang lain. Tetapi kamu harus serius dan bersungguh-sungguh mengerjakan. Kamu tidak tahu kalau ini ternyata takdirmu. Seandainya kamu gagal dan di kemudian hari sebetulnya di sana adalah takdirmu. Kamu akan menyesal."
Dengan mengucapkan bismilllah, saya kerjakan...
Dari soal yang saya kerjakan, rata-rata memuat kalimat pertanyaan yang panjang-panjang. Jujur tidak ada pertanyaan yang saya baca lengkap-kap, mengingat waktunya hanya 90 menit dengan jumlah soal 100. Tentu bukan waktu yang lama. Bayangkan, 100 soal dikerjakan dalam waktu 90 menit, artinya satu soal dikerjakan tidak lebih dari semenit! Namun, anehnya saya bisa mengerjakan dengan cepat. Samping kanan dan kiri saya masih berjibaku. Ingin hati menekan tombol "selesai" tetapi saya tidak enak hati dengan yang lain. Toh, saya juga tidak siap melihat hasilnya nanti setelah ditekan tombol "selesai" akan langsung muncul skornya di komputer.
Ketika kanan dan kiri saya sudah menekan "selesai", saya juga menyusul menekan. Dan terkuaklah nilainya: TWK 85, TIU 125, dan TKP 125. Dengan total skor 335. Skor yang di luar dugaan saya! Besar sekali. Akan tetapi ketakjuban saya seketika surut saat saya membaca pengumuman ambang batas skor yang ditempel panitia di lorong gedung: TWK 65, TIU 80, dan TKP 126. Saya pun membandingkan dengan perolehan skor saya. Untuk TWK memenuhi, TIU juga memenuhi, sedangkan TKP-nya tidak, hanya kurang satu skor. Skor TKP saya 125, sementara yang dibutuhkan 126. Hanya kurang sak srittt!
Penulis, Much. Taufiqillah Al Mufti, Pemberani yang Takut Lapar
0 Komentar