![]() |
Suasana para calon PNS berjibaku menjelang ujian. |
Aku mau bercerita seorang teman, sebut saja namanya Sari. Ia ikut tes CPNS tahun ini. Berbekal keyakinan ia mendaftar di salah satu instansi plat merah di pusat pemerintahan yang cukup mentereng; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau BAPPENAS. Pada 7 Februari 2020 lalu ia telah mengikuti tes yang berlokasi di Ibu Kota. Dan saat itu lah, pertama kalinya ia ke Jakarta.
Perempuan yang kukenal cukup santai menyikapi sebuah persoalan ini tidak ambil pusing perkara bagaimana keberangkatannya ke kota yang paling padat penduduknya se-Indonesia raya itu. Dari kampungnya, dia memesan tiket kereta dari stasiun Tawang Mas, Semarang.
Ketika kutanya, "Kereta kamu berangkat jam berapa?"
Sari menjawab santai, "Jam setengah 2."
Kupikir jam setengah 2 siang, ternyata pagi!
Kemudian kutanya lagi, "Lalu, tiket pulangnya sudah pesan?" Ia menjawab singkat, "Belum." Hah!
Aku menyarankan supaya dia segera pesan sewaktu sampai di stasiun Pasar Senen. Ketika kereta sampai di stasiun tujuan, Sari mengabariku lewat pesan WA kalau sudah sampai.
Kemudian aku meneruskan bertanya, "Sudah pesan tiket?"
Seketika Sari membalas, "Baru saja sampai, ini masih istirahat dulu."
Beberapa saat kemudian, dia mengabariku lagi kalau semua tiket kepulangan ke Semarang pada hari Jum'at, 7 Februari 2020 sudah ludes terpesan. Hah? Ini perempuan nekat memang, batinku.
Di sini aku yang panik, Sari dengan tegas menjelaskan, masalah kepulangan dipikir nanti sekarang fokus ke tes CPNS. Walau begitu, kepanikanku tak seketika surut. Bagaimana tidak? Dia perempuan, berangkat seorang diri, dari desa, tidak punya saudara di Jakarta, dan baru pertama kali ke sana. Namun aku berusaha menenangkan diri dan berharap Sari diberikan kelancaran menjalani ujian CPNS dan selamat dalam perjalanan pulang ke kampung. Amin...
Selama ia mengikuti tes, aku berpikir cara bagaimana Sari pulang. Kalau seandainya tiket kereta ke Semarang habis, berarti harus pesan tiket ke arah lain yang searah ke Jawa Tengah, semisal Solo atau Yogyakarta. Kalau seandainya tiket ke arah dua kota itu habis juga, ada alternatif naik bus. Dan kalau tiket bus pun habis, mau tidak mau harus menginap semalam di sana. Tapi nginap dimana? Lalu aku menguhubungi temanku yang tinggal di Jakarta, ia memberi jalan bisa menginap di tempat temannya di daerah Menteng. Nanti kalau si Sari sudah selesai, akan aku sarankan menginap di tempat temanku, itu pun jika alternatif tiket sudah habis dan dia tidak punya tempat nginap sama sekali.
Sekitar pukul 17.00 Sari mengabariku kalau sudah selesai ujian.
Ketika kutanya, "Bagaimana hasilnya?"
Sari langsung membalas, "Nanti saja kuceritakan, sekarang berpikir bagaimana pulangnya! Tapi sebelumnya aku mau ketawa dulu hahaha."
Dia ini memang aneh, di saat-saat kritis dan waktu terbatas seperti itu masih bisa tertawa lepas.
Aku bergumam, "Orang jauh, sendirian, perempuan juga, tidak punya saudara, masih bisa-bisanya ketawa begitu," kataku.
"Lha, terus kalau dibuat panik kan malah tidak baik ta," katanya kemudian.
Saat itu Sari menjelaskan kalau ada tempat jujukan di tempat teman seniornya di daerah Tangerang. Dan ketika itu juga aku mendapati tiket kereta jurusan ke Solo yang masih tersisa satu kursi.
Aku tegaskan kepada dia, "Cepat dihubungi, kalau tidak menjawab langsung aku pesankan tiket ke Solo. Tersisa satu kursi. Cepat! Sebelum terburu habis."
"Sebentar, ini baru aku ketik."
Di saat-saat itu aku menyadari perbedaan karakterku dengan dia. Aku lebih koleris dengan kecenderungan melankonis yang serba panik dan ingin cepat-cepat. Sementara Sari seorang plegmatis yang menyukai ketenangan dan mencintai kedamaian. Tidak senang terburu-buru dan didesak-desak. Wajar kalau dalam hal ini kami nyaris berdebat sengit.
"Kalau hanya centang satu, langsung aku pesankan."
"Iya, sabar."
"Sudah?"
"Baru tak kirim."
"Lalu?"
"Iya, centang satu."
Sejurus aku memesan tiket kereta ke Solo, dan ternyata sudah ada orang yang pesan. Sari lambat! Ah, tidak, aku yang lambat! Seharusnya tak perlu minta pertimbangannya, bisa langsung aku pesan. Seketika itu aku lemas, karena tiket ke Yogya juga habis, dan bahkan tiket bus juga sudah terpesan semua. Entah. Padahal itu hari Jum'at. Tetapi, arus mudik sedemikian membeludak. Toh juga hari Sabtu dan Minggunya tidak ada hari perayaan apapun. Mungkin pada Jum'at itu ketepatan apes.
"Kalau tiket untuk besok masih ada, banyak malah," katanya kemudian.
Baiklah, kalau yang tersedia tiketnya besok, berarti sekarang harus mencari tempat menginap. Aku menyarankan ia untuk menginap di tempat temanku daerah Menteng. Ternyata ia diam-diam mengontak teman-teman yang dia ketahui tinggal di Jakarta.
"Ada temanku tinggal di Lebak Bulus."
"Oh ya?" Kataku spontan membalas, "Kalau begitu langsung pesan tiket untuk besok."
"Sudah. Besok jam 7 pagi. Pas perjalanan ke temenku sekalian aku membayar tiketnya."
Aku pun tenang. Keesokan harinya, pukul 3.48 aku menghubungi Sari. Berkali-kali kutelepon dia tidak menjawab. Hingga panggilan ke sekian puluh kali Sari baru mengangkat. Dan seketika aku menyuruhnya bersiap-siap. Saat itu baru pukul 04.30. Walau masih sepagi itu, tapi persiapan harus sedini mungkin, karena kemacetan di Jakarta tidak bisa diprediksi. Dan apabila terjebak macet bisa tertunda bermenit-menit sampai ke tujuan.
"Iya, ini aku siap-siap. Hoaaam," katanya sambil menguap.
8 Februari 2020 pagi. Ketika Sari sampai di stasiun Pasar Senen, dia mengabari kalau keretanya berangkatnya terlambat. Sejurus dia mengirim gambar tiketnya dan di situ terbaca; jam 13.30 sampai di stasiun Tawang Mas.
Ketika di tempatku menunjuk pukul 13.00 aku bergegas bertolak ke stasiun -- menjemput Sari -- yang cuma berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Dasar aku orangnya yang serba panik ketika mendengar pengumuman dari pengeras suara bahwa keretanya Sari terjadi keterlambatan dan diperkirakan tiba pukul 14.30. Aku baru ngeh. Mau tidak mau aku harus menunggu selama satu jam lebih. Untung. Aku bawa buku di dalam.
Sembari menunggu aku membaca sebuah buku yang di sampulnya bertuliskan; Renjana. Dalam buku tersebut, dikisahkan seorang lelaki yang selalu mengunjungi stasiun tempat terakhir ia bertemu kekasihnya. Lelaki itu rutin mengunjungi kota tempat kekasihnya tak lagi tinggal. Di sana ia menyusuri sepanjang stasiun, taman, dan rumah kekasihnya sembari memungut kenangan yang membayang di setiap sudutnya.
Aku dan lelaki itu sama, kami berada di stasiun. Bedanya, aku menunggu seseorang, sementara ia berkunjung, dan orang dikunjungi tidak lagi di situ.
Ketika pengeras suara terdengar mengumumkan kedatangan keretanya Sari, aku seketika terkesiap. Beberapa saat kemudian Sari menyembul dari pintu gerbang kedatangan, terlihat dia cengingisan. Ketika kami duduk di bangku di beranda stasiun, Sari kutanya:
"Bagaimana rasanya perjalanannya?"
Spontan Sari tertawa sambil memegang perutnya. Kemudian menoleh ke arahku tiba-tiba. Dan berkata:
Spontan Sari tertawa sambil memegang perutnya. Kemudian menoleh ke arahku tiba-tiba. Dan berkata:
"Ah, kapok, ndak mau diulangi lagi."
"Ya tidak apa-apa, asal ada yang menemani."
"Kamu!"
Dasar, dia memang aneh. Untung....
Catatan Harian, Much. Taufiqillah Al Mufti, Seorang Pemberani yang Takut Lapar
0 Komentar