![]() |
| Surat tilang penulis dan kopi yang menjadi kabar baik |
Entah, hari ini aku begitu kalut. Ingin rasanya menenangkan diri sejenak. Aku mencari tempat untuk beristirahat barang sejenak. Mengistirahatkan semua syaraf yang sudah kupaksakan beroperasi, semalaman.
Sepertinya kopi yang dapat menenangkan aku. Dari Mataram, tempatku tinggal, aku mencari warung kopi. Aku menyusuri jalan Dokter Cipto hingga ke Pamularsih tak kutemukan warung kopi yang cocok menjadi pendaratan pikiranku yang sedang mengalami turbulensi.
Akhirnya aku memotong jalan menuju Karang Ayu. Ketika aku belok kiri arah ke bandara lama, terlihat dua orang polisi sedang mengawasi jalan. Seorang polisi berperut buncit melambai-lambaikan tangan, kupikir ke orang lain. Setelah aku menolah kiri-kanan, tidak ada lagi kecuali mengarah kepadaku.
Ya, aku terkena tilang. Dan ini ketiga kalinya! Sejak aku di Semarang. Rupanya, polisi Semarang lebih trengginas dari pada Surabaya. Pasalnya, polisi di sini "kesemangaten" menertibkan pengendara. Tapi, aku tidak merisaukan. Sebab, selama tiga kali tertilang tidak ada satu polisi pun yang main mata alias minta disogok. Mereka patuh aturan, begitu menilang langsung menulis laporan tanpa berdeham atau pura-pura batuk.
Alih-alih tambah kalut karena terkena tilang, aku malah masa bodoh.
"Halah, cuma ketilang, cuma disita STNK-nya. Nanti kalau sudah dibayar, selesai perkara! Lha ini aku punya masalah yang membuat kalut yang tidak dapat diselesaikan sekadar dengan uang. Ketilang? Halah, gampang!"
Selepas ditilang, dari Karang Ayu aku bertolak ke jalan Jenderal Sudirman mencari oase: warung kopi. Tengak-tengok tak satu pun kutemukan warung kopi yang buka. Misal buka, tempatnya terlalu bising untuk berkontemplasi. Sampai di Kokrosono, aku melirik spedometer, tak kusadari jarum bensin berada di paling ujung kiri. Alamat bensin akan habis. Untung sadar, aku jadi lebih hemat menarik gas. Di Indraprasta aku menemukan warung kopi, yang walau pun sempit, dan kuputuskan mendarat di sana.
Di warung kopi itu, aku menulis catatan harian ini. Ya, kabar baiknya aku masih bisa ngopi. Lalu apa yang membuatku kalut? Itu rahasia perusahaan! Haha
Semarang, 19 Februari 2020

0 Komentar