dok. istimewa


Retna masih tidur dengan posisi miring menghadap jendela ketika sedang memikirkan seorang laki-laki yang ia cintai. Tiba-tiba air matanya menetes saat tergambar jelas raut muka tambatan hatinya kalau nanti ia mengatakan yang sejujurnya.

Sampai di pukul 24:00 Retna belum mampu tidur dan berada di alam mimpi. Pikirannya terus berkecamuk tentang kenyataan yang harus ia pikul setelah orang tuanya bersikeras tidak mau mendengar dan mengindahkan kemauan anak sulungnya.

"Apa yang akan dikatakan Aan?" Kata hatinya.

Selang sebentar terdengar rintik hujan di atas genting. Lambat tapi pasti rintik itu bertambah cepat dan hujan turun begitu derasnya. Dari bawah terdengar pula Ibu menyeru-nyeru nama Retna, memintanya untuk turun. Ternyata genting teras depan bocor dan Retna disuruh untuk membawakan ember untuk menampung air yang jatuh.

Sebenarnya Retna kesal melakukan hal itu, bukan karena jam tidurnya terganggu, melainkan karena Ibunya merupakan orang yang paling vokal menolak Aan sebagai pendamping hidup anaknya. Tapi apa boleh buat, Retna menyadari dirinya hanyalah "anak" dan yang bisa dilakukan hanya "manut". Titik.

"Kamu itu kalau disuruh turun mbok ya segera. Sudah ditungguin Ibu. Kalau lama keburu rumahnya jadi laut," kata Ibunya yang terbiasa menggunakan kata berlebihan atau hiperbola yang jauh dari kenyataan yang mendekati.

Retna menjelaskan kalau dirinya sudah tidur tadi, walau sebenarnya sejengkal pun belum ada rasa kantuk menyusup. Jadi Retna berbohong? Iya, terpaksa ia lakukan untuk menghindari kemarahan Ibunya yang menjadi-jadi dan berlarut-larut. Dengan pola yang sangat Retna hafal dari awal sampai kalimat pamungkasnya: durhaka. Hanya, kendati sudah diupayakan supaya Ibu bisa menerima, namun Ibu masih tetap bersungut-sungut.

Ketika ember sudah diletakkan tepat di atas atap yang bercucuran air hujan, Retna meminta izin pada Ibu untuk tidur. Ibu membolehkan namun dengan raut muka lesu. Retna bergegas naik ke kamar dan membantingkan tubuhnya di atas ranjang. Terpantul beberapa jenak di atasnya. Dan sejurus rasa lelah merambati seluruh tubuhnya.

Lamat-lamat kesadarannya memudar. Gambaran wajah murka orang tua saat memarahinya kabur. Rona kesedihan Aan yang terpacak dalam imajinasinya juga meluruh. Syaraf-syarafnya yang tegang perlahan mengendur. Dan secara samar terlihat di matanya jam menunjukkan pukul 01:45. Kemudian tanpa disengaja dirinya sudah terhempas ke alam tempat setiap orang meletakkan harapan, angan, dan cita-cita sekaligus tempat bagi setiap orang yang ingin mencari tempat peristirahatan.

Matanya yang tertutup kelopak membuatnya kembali jadi manusia yang utuh, seperti bayi yang bersih dan hidup tanpa kehendak menuntut dan merenggut. Ya, Retna juga seperti manusia lain, yang ketika kesadarannya memuncak dan fikirannya terlalu padat memusat akan bertemu pada sebuah ruang ketenangan yang paling intim. Sebuah ruang yang tidak pernah kunjung ditemukan di tempat ibadah sekalipun. Karena ruang itu tidak ada dimana-dimana, ruang itu ada di dalam diri manusia, akan tetapi ia tidak melihatnya, dan hanya dapat dijumpai di saat seluruh kesadarannya hilang sekaligus paripurna.

**

Di sebuah taman, dua orang anak muda, laki-laki dan wanita, sedang duduk di bangku. Sudah 60 menit mereka saling membisu. Tak terdengar sepatah kata pun dari mereka, kecuali suara hembusan nafas yang lirih namun berat. Burung-burung merpati yang berlompatan di atas paving taman memandangi Aan dan Retna dengan iba. Di antara kawanan itu, sepasang merpati terbang ke angkasa. Berputar-putar dan menari di awan kemudian saling berkejaran dari pohon ke pohon. Aan memandangi sepasang merpati itu dengan penuh harap dan cemas.

Dilihatnya Retna duduk di sampingnya sedang menundukkan kepala. Tak ada kesibukan lain yang dilakukan gadis yang tak pernah ia utarakan perasaan kepadanya namun Retna sudah memahami selain memainkan jari-jarinya dan sesekali membuka dan menutup ponselnya. Aan hanya bisa menunggu dan pasrah tentang apa yang akan dikatakan Retna nantinya. Karena berkali-kali Aan mencoba bertanya, "Ada apa?" Namun tak pernah dijumpainya kata dan suara apapun kecuali tatapan mata yang kian luruh.

Bukan tak ingin menjawab, sejak awal Aan bertanya sebetulnya seketika ingin dijawab oleh Retna. Hanya, ia memikirkan kata-kata yang tepat untuk diutarakan kepada kekasihnya. Setiap kali ia dangak dan melihat mata dan rona wajah Aan yang gelisah dan melas, hatinya kian terguguk. Dan diurungkan niatnya mengatakan keadaan dirinya pada Aan. Akan tetapi apabila tidak diutarakan akan membuat Aan kecewa. Sedang kalau terlanjur disampaikan pasti membuat Aan bersedih.

...hingga pada sebuah klimaks permenungannya Retna berkesimpulan: dengan atau tidak dikatakan sama saja menyakitkan. Minimal buat Retna sendiri. Yang kini hatinya sedang babak belur.

"An, coba kamu jangan pandangi aku dengan melas begitu," ucap Retna

"Baik, gimana-gimana?" Kata Aan sembari mencoba tegar dan tersenyum lebar.

"Halah, senyummu palsu, kamu buat-buat ya?"

"Tulus. Nggak aku buat-buat," ucap Aan dengan masih mempertahankan senyumnya.

Retna kembali menundukkan kepala, diam-diam ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan tenang sekaligus bergetar.

"An," ucap Retna.

"Iya?"

"Menurutmu yang namanya jodoh itu apa?"

"Jodoh?" Tukas Aan kemudian lama terdiam karena sepertinya ia mulai memahami perkataan Retna mengarah kemana. Aan mencoba merangkai narasi kata-kata dalam benaknya untuk menguatkan dirinya sendiri  dan mempertahankan Retna.

"Kok lama? Kamu ini emang sukanya mikir sih An," sergah Retna supaya air matanya tidak tumpah sebelum ia tuntas menyelesaikan ceritanya. Karena apabila sudah terlanjur tumpah, cerita akan tercampur aduk antara takut kehilangan dan kenyataan yang harus dipikul.

"Bukan lama, tapi aku sedang memahami isi hatimu."

"Iya! Jangan lama-lama atau aku pergi dari sini."

"Tunggu. Iya. Apa? Jodoh? Iya. Itu kita."

"Hah? Hanya itu?"

"Sesederhana itu."

"An, kamu sudah kenal aku begitu lama. Bertahun-tahun kita menjalani hubungan. Pernah kah aku berbohong kepadamu?"

"Pernah."

"Kapan? Sebutkan."

"Dulu pas bilang mau tidur kenyataannya malah makan."

"Yah, habisnya itu aku lapar sekali Aan. Ah, kok malah bahas itu. Sebentar-sebentar..." kata Retna kemudian menarik nafas dan mengeluarkannya. Kemudian ia melanjutkan, "Aan, kamu jangan marah apalagi kecewa. Orang tuaku... "

"Apa? Menolak aku?"

Retna mengangguk.

**

Mungkin hari itu adalah hari yang paling berkesan bagi Retna. Karena untuk pertama kalinya Aan mengunjungi rumahnya setelah sekian tahun menjalani hubungan pacaran. Di luar dugaan, Aan kali ini berpenampilan sangat rapi dengan kemeja batik, celana kain slim fit, dan sepatu pentofel. Rambutnya yang biasanya kering dan merah terlihat basah dan klimis. Wajahnya nampak cerah walau Retna dalam batinnya Aan pasti sedang berkecamuk. Hanya Aan mampu mengolah dan mengelolanya dengan sedemikian rupa sehingga tak berbekas kegelisahan sedikit pun.

Perasaan Retna bercampur aduk tentang apa yang akan dikatakan Aan dan apa yang akan dijawab Ayah serta Ibunya. Di ruang tamu itu, keempat orang di sana masih terdiam selama semenit. Retna mengharap Aan yang mengawali pembicaraan supaya kekasihnya ini bisa lebih menguasai suasana dan lebih gagah di hadapan orang tua, terutama ayahnya. Sudah hampir dua menit berselang namun belum ada satu pun yang memulai mengisi suara. Ketika ayah Retna hendak, Aan buru-buru menyela dan mengambil bagian dahulu. Layaknya pembalap lari yang mencuri start bunyi pertama pluit terdengar dari lubang mulut wasit. Insting Aan cepat menangkap itu.

Saat itu Retna penasaran sekali apa yang akan dikatakan Aan. Dan ternyata...

"Om, Tante, saya ingin melamar Retna..."

Ayah maupun Ibu tak segera menjawab perkataan Aan. Malah keduanya saling melempar pandangan. Perasaan Retna semakin bercampur aduk. Sebentar kemudian Ibu tiba-tiba beranjak melangkah ke dapur. Di hadapan Aan kini tinggal Retna dan ayah perempuan yang hendak ia akan lamar.

"Kamu sudah siap menikah?"

"Belum, Om."

"Lalu, kenapa kamu berani?"

"Saya yakin."

"Yakin apa?"

"Rezeki sudah ada yang Mengatur."

"Kamu sekarang sudah kerja?"

"Sudah."

"Apa?"

"Sehari-hari saya jadi vokalis sebuah band. Dari cafe hingga konser rezeki yang saya dapatkan. Kita sedang akan rilis sebuah album. Mohon doanya, Om, semoga segera diterima dapur rekaman," kata Aan dengan sepenuhnya yakin.

Retna menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. Karena ayahnya menginginkan menantu yang punya penghasilan tetap, bukan dari -- kalau mengikuti pembahasaan ayahnya -- mengamen seperti itu. Ayah menyamakan Aan selayaknya pengamen, bedanya kalau pengamen di bawah lampu lalu lintas, sementara Aan di panggung. Retna menyanggah stigma dari Ayahnya dengan mengatakan Aan orang baik, namun Ayahnya tetap bersikukuh. "Ngamen ya ngamen," pungkas Ayah -- sebagaimana yang dikenang Retna.

"Apakah itu sama saja dengan mengamen bukan," tanya Ayahnya yang seketika menghujam ke ulu hati Retna dan merobek-robeknya.

"Setahu saya selagi...."

"Cukup!" Sela Ayah Retna.

Belum genap Aan mengutarakan argumentasi singkatnya, bakal calon mertuanya sudah menyela dan membuat suasana obrolan yang semula jenak serta khidmat menjadi kacau dan semburat. Kuda-kuda Aan yang awalnya sudah kokoh menghadapi terjangan dari orang tua pacarnya ini menjadi roboh. Dan belum sempat Aan mengukuhkan kuda-kudanya kembali, Ayahnya Retna membuatnya limbung dan tersungkur kebatinannya.

"Kau tidak baca poster yang tergantung di depan pagar rumah ini?"

Aan tidak segera menjawab karena memang ia tidak terlalu menyadari bahwa di sana terpacak sebuah poster. Aan hanya tertunduk lesu. Retna mengiba dan air matanya hendak pecah namun ia tahan sekuat mungkin supaya keadaan tidak semakin kacau balau. Ia berusaha tegar dan berharap Aan dapat menuntaskan semuanya kemudian memboyongnya sebagai istri yang selalu mendampinginya mengarungi lautan kehidupan dalam bahtera keluarga. Tak henti-hentinya Retna berdoa supaya keadaan berakhir baik.

"Oh, kamu belum tahu? Mau kukasih tahu?"

Aan masih tertunduk memandangi cangkir tehnya yang sudah habis setengah. Dingin dan beku karena sudah dua jam dibiarkan tak bergelombang.

"Oh, kukasih tahu ya, tulisannya DILARANG NGAMEN."

Seketika Retna terperanjat karena tak menyangka apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Tak diduga dan tak dikira bahwa Ayahnya akan berkata sesarkas dan sesadis itu. Bukan watak Ayah yang dikenal Retna sama sekali. Karena biasanya tiap kali berbicara Ayah selalu dipikir masak-masak dan penuh kehati-hatian. Rasanya kali ini perkataan Ayahnya seperti suara mikrofon yang rusak, pening.

Suasana yang semakin menyudutkan. Aan beranjak dari kursi dan minta diri kepada laki-laki paruh baya yang ada di depannya. Retna memperhatikan gerak-gerik Aan dengan tercengang. Retna pun juga beranjak. Kini Ayahnya memandang ke arah Retna dengan tatapan nanar.

"Aku kecewa dengan Ayah!" Jerit Retna untuk terakhir kalinya. 

Aan keluar rumah dengan lunglai. Retna menyusul Aan keluar. Sementara Ayahnya Retna naik pitam dan mengancam kepada anaknya supaya tidak perlu pulang lagi. Bahkan tidak perlu lagi memanggil Ayah. Retna mengejar Aan dengan derai air mata. Ketika langkahnya semakin dekat dengan punggung laki-laki yang disayanginya serta merta ia memeluknya. Tersedu-sedan ia menangis sambil menyandarkan kepalanya di pundak Aan. Perlahan Aan membalikkan tubuhnya dan berganti memeluk Retna, "Tak apa kau ikut aku, asal kau tetap ingat jalan untuk pulang?"

"Kemana?"

Aan tak menjawab hanya matanya mengarah pada rumah yang baru saja ditinggalkan Retna. Seketika Retna semakin erat dan erat memeluk Aan. Dinginnya guyuran hujan tak membuat hangatnya pelukan itu sirna...