dok. foto-dd.com

Saya bersama tiga orang teman trainee dipanggil dan diminta "log out" dari aplikasi oleh Mas Febri, PIC inkubasi kami di PT. Infomedia Nusantara. Mas Febri meminta kami berempat untuk memikirkan konsep dan mengkoordinatori acara ceremony. Kebetulan dari keempat orang saya satu-satunya laki-laki, maka ditunjuklah jadi koordinator. Saya sempat menolak, tapi melihat raut teman-teman yang pasrah, ah, ya sudahlah. 

Tapi ini bukan karena namanya kepala atau ketua atau koordinator atau bahkan pemimpin itu harus laki-laki ya!

Setelah itu saya membuat WAG yang terberi nama "Tim Ceremony 258" dengan beranggotakan; saya, Jean, Nanda, dan Yaya. Dalam grub itu kami membahas seputaran yang diperlukan untuk ceremony seperti desain hingga logistik...

Oh ya, sebelumnya perlu saya cerahkan. Ceremony itu sebuah acara -- semacam -- perpisahan sekaligus inagurasi dimana nanti seluruh peserta magang di call center 147 akan menampilkan karya. Bisa berbentuk drama, musik, paduan suara, dan lain-lain. Yang ditujukan pada PIC sebagai rasa terima kasih kami karena selama masa inkubasi dua puluh lima hari dikawal, dibimbing, dan diarahkan.

Kembali pada topik. Mas Febri saat memberikan arahan kepada kami berpesan supaya ceremony cukup didesain sederhana dan diharapkan semua peserta bisa tampil. Sejurus aku tercenung, kalau mengkonsep acara sederhana mungkin bisa, tapi bagaimana menampilkan semua peserta? Nah ini, bayangkan, ada 39 orang dalam batch kami, dan itu tampil semua. 

Caranya? Akhirnya saya usul pada tim ceremony supaya penampilan dibuat per-kelompok saja. Mereka pun sepakat.

Sementara itu Yaya me-list kebutuhan apa saja yang perlu dibeli. Seperti; balon warna kuning bertuliskan "Batch 258", pernak-pernik warna-warni untuk pesta, tumblr lamp, makanan, dan minuman. Sedangkan Nanda me-list desain acaranya, misal; pembukaan, sambutan perwakilan peserta magang, sambutan PIC, penampilan karya, ramah-tamah, menonton video dokumentasi, dan penutup. Di acara itu saya ingin ambil bagian membuat video dokumenter dengan narasi yang sederhana.

Pada keesokan harinya, tepatnya hari Senin, 13 April 2020, kami mempresentasikan hasil rembukan kepada teman-teman. Kebetulan saat itu kami diminta "log out" lebih cepat pada jam 13:00, karena biasanya kami selalu "log out" 16:30. Maklum, karena saat itu ada penilaian -- dengan satu per satu dipanggil. 

Ketika kami presentasikan hampir secara keseluruhan teman-teman setuju dengan rembukan tim ceremony. Hanya, tinggal penambahan sedikit, seperti; dresscode, nyanyi bersama-sama, dan doa penutup yang semula digagas berbentuk tahlil dan istighosah (tapi aku sangat tidak sepakat). 

Ketika proses penilaian sudah usai. Mas Ali, salah satu PIC kami di inkubasi, memberikan pengarahan. Ia memberikan gambaran secara umum bahwa hasil penilaian pada kami jauh dari kata "baik". Masih banyak dijumpai "solusi" (baca; kesalahan) pada kami. Dari hal yang sederhana sampai terlucu. Seperti betapa berbelitnya -- hanya -- menyampaikan status telpon, dan ketika disampaikan statusnya yang terucap malah "isolir", padahal kemungkinannya ada tiga; aktif, tidak aktif, atau tidak terdaftar. 

Lalu, apa yang terlucu? Di antara teman-teman rupanya ada yang meng-handle keluhan pelanggan berkaitan gangguan listrik. Padahal di call center 147 kita hanya mengurusi seputar produk Telkom, seperti internet, IPTV, dan telepon. Lucunya lagi, ia sempat menanyakan nomor listrik. Sekalipun ini lucu, tapi tak selalu jadi bahan tertawaan, melainkan renungan bahwa betapa pentingnya "fokus".

Jujur, pada saat itu, saya ingin merekam gambar ketika teman-teman dengan khidmat mendengarkan pengarahan Mas Ali, akan tetapi saya urungkan. Mengapa? Karena ada bisikan dalam hati saya yang mengatakan "jangan". Entah, mengapa dilarang oleh diri saya sendiri, tapi kalau saya pikir karena dalam satu batch hampir keseluruhan nilainya jeblok. Termasuk saya. Ah, apa yang patut dibanggakan. Semisal, saya rekam, apakah nanti tidak jadi parodi kematian?

Setelah "review" selesai. Saya menghampiri Mas Ali, dan memintanya memberikan testimoni kesan-pesan selama 30 detik. Ketika itu Mas Ali, kelihatan kebingungan merangkai kata-kata, karena ia terbiasa berkata ceplas-ceplos, apa adanya, tanpo tedeng aling-aling, yang kadang membuat jantung teman-teman tergeragap. 

Kemudian saya katakan, "Tidak apa Kak, seperti biasanya saja." 

Lalu Mas Ali mengambil sikap tegak dan mulai menyampaikan yang kurang lebih seperti ini, "Teman-teman Batch 258 ini orangnya manut-manut, tapi kenapa ya kalau di layanan nok (baca; not oke) sekali."

Setelah saya rekam, Mas Ali berpesann kepada saya dan Heri (yang menemani saya) supaya berfokus pada inkubasi terlebih dahulu -- wah ini bertolak belakang dengan arahan Mas Febri yang meminta supaya dipersiapkan. Walau begitu, seharusnya saat sekarang ini persiapan ceremony sudah dilakukan namun dengan catatan teman-teman tuntas di layanan. Tidak ditemukan solusi. Kendati tidak keseluruhannya, setidaknya menyisihkan dua sampai lima orang. Sehingga bisa disokong. 

Mas Ali juga menjelaskan nilai kami (saya dan Heri) yang masih berada di angka 87 dimana -- minimal -- seharusnya 90. Kata Mas Ali, setidaknya kami butuh nilai 95 lagi. Itu pun, menurut Mas Ali hanya untuk memenuhi syarat kelulusan. Belum sampai pada taraf dikatakan layak disebut "agent call center" dalam pengertian yang sebetul-betulnya. 

Saya jadi berpikir ulang untuk meneruskan video dokumentasinya, sembari melihat kemajuan teman-teman. Misal jadi pun kalau ternyata nilainya masih anjlok saya tak akan memutarnya. Jujur, saya malu. Sangat malu. Betapa tidak? Mempertontonkan kemaluan sendiri dengan sengaja dan terencana. Itu lah kemaluanku yang Maha Agung.