![]() |
dok. cikimm.com |
Sejak kedatangan di rumah barunya, Dani terkesima pada sebuah lukisan. Lukisan itu tergambar sosok perempuan yang tersenyum dengan mengenakan kerudung merah. Saking cermatnya pelukis menuangkan kuas dan catnya, seolah-olah lukisan itu hidup.
Dani yang terkesan dengan lukisan itu memotretnya dengan kamera ponsel. Ketika dicermati dalam layar ponsel, ada lekukan yang tak disadari Dani selama ini. Rupanya, perempuan itu tersenyum sambil menggigit bibirnya yang menambah kesan kenes dan menggoda.
Pada pemilik rumah sebelumnya Dani sempat menanyakan mengapa lukisan itu tidak diangkut sekalian? Yayan, seorang laki-laki paruh baya, hanya menjawab bahwa lukisannya sengaja ditinggal sebagai bonus untuk pembeli rumahnya, katanya sambil tersenyum ramah -- kenang Dani.
Dani diminta merawat baik-baik lukisan itu oleh pemilik sebelumnya, karena kalau dijual lukisan itu bernilai sangat tinggi dimana lukisan tersebut dipesan dari pelukis Italia. Seketika pikiran Dani membayangkan bahwa lukisan tersebut tak jauh beda dengan lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci.
Dulu, sebelum memutuskan untuk membiarkan lukisan itu terpajang. Dani bertanya pada Rani, istrinya yang sedang hamil muda. Rani sendiri setuju kalau lukisan itu dipajang. Malah akan memperindah ruangan, katanya sembari mengelus-elus perut yang di dalamnya terdapat jabang bayi buah hati mereka berdua.
Dani mengenang awal-awal bersua dengan lukisan itu sembari tersenyum-senyum sendiri. Ponsel yang habis ia gunakan memotret itu bergetar dan ia mengambilnya dari dalam saku celananya. Ada seseorang menelepon ingin bertamu ke rumahnya.
"Halo..."
"Baik, Bapak. Silahkan. Dengan senang hati. Rumah saya terbuka buat Bapak."
**
Pada sore harinya, ada seorang laki-laki datang bertamu ke rumah Dani. Ia mengenakan setelan kantor lengkap dengan jas, kemeja, dasi, celana, sepatu pantopel. Laki-laki itu hendak membeli lukisan yang telah diunggah di media sosial beberapa hari lalu oleh Dani.
"Wah rupanya Bapak Matias lebih tampan dari foto di WA?"
Laki-laki itu hanya tersenyum simpul. Ia memahami apa yang dikatakan Dani hanya lah basa-basi untuk membuka percakapan. Di situ ia juga menyadari bahwa pemilik lukisan ini lihai dalam bersilat lidah.
Dani tak menyianyiakan kesempatan emas ini. Segera ia menanyakan kejelasan pembelian lukisannya. Namun ia tidak tergesa-gesa menjurus ke jantung percakapan. Sekali lagi ia bermanis-manis perihal lukisannya.
"Ehmm Pak Matias, kalau boleh saya ceritakan. Ini lukisannya dibuat oleh orang Italia. Tak kalah jauh dengan karyanya Leonardo Da Vinci."
"Oh ya?" Kata Matias sembari memandangi lukisan perempuan berkerudung merah yang tergantung di dinding ruang tamu.
"Coba Bapak perhatikan. Lukisan ini saking cermatnya si pembuat yang menjadikn seolah hidup. Perhatikan matanya yang seakan-akan berkedip. Atau bibirnya, lihat Bapak, seperti bergerak-gerak hendak menggigit."
"Ya," sahut Matias singkat, "Menarik."
Setelah itu obrolan beralih ke bahasan yang lebih serius. Matias menawarkan harga lima juta rupiah untuk lukisan itu. Dani sejurus tersenyum dan menawarkan harganya sendiri dengan jumlah dua kali lipat; sepuluh juta rupiah. Matias setuju, bahkan ia bertanya kepada Dani. Sebuah pertanyaan konyol dalam benak Dani sendiri.
"Memangnya, Bapak serius menjual lukisan ini?" Kata Matias dengan penuh wibawa.
"Serius, Bapak," jawab Dani spontan dengan girang.
"Kalau sudah kubeli, kau jangan menyesal."
"Tak kira Bapak ini pendiam. Ternyata bisa bergurau juga," kata Dani dengan tersenyum lebar, "Kan saya yang menjualnya. Bahkan sekarang sedang viral di jagat permedsosan. Masak saya masih ragu?"
Matias hanya mengangguk pelan. Setelah itu Dani meminta bantuan Rani yang masih memasak untuk bersama-sama membungkus lukisan. Seketika Rani terhenyak, karena lukisan itu bukan untuk dijual tapi dirawat dengan baik -- sesuai pesan pemilik rumah sebelumnya. Sejurus Rani berbisik dengan nada sedikit marah, bahwa lukisan itu jangan dijual! Dani menggelengkan kepala dan mengabaikan perkataan Rani.
Dari arah luar beberapa orang suruhan Matias masuk ke dalam ruang tamu dan menggotong -- dengan hati-hati -- lukisan itu ke dalam bagasi mobil. Matias pun meminta diri dan beruluk salam. Dani dan Rani turut mengantar kepergian pembeli lukisannya hingga ke teras rumah. Dan ketika mobil Matias berlalu dan tak terlihat lagi; Dani memandanginya dengan mata berbinar sementara Rani wajahnya menjadi murung.
**
Beberapa hari setelah penjualan lukisan itu, Dani dan Rani sering cekcok dan adu mulut. Rani menyesalkan perbuatan suaminya yang menjual lukisan tanpa seizin pemiliknya. Sementara itu Dani terus mengelak dengan menjawab bahwa lukisan itu sudah menjadi hak miliknya karena sebagai bonus pembelian rumah. Sah-sah saja apabila dijual olehnya sendiri, katanya dengan dada membusung.
Dani sebenarnya tahu, meladeni Rani beradu mulut itu tidak baik. Pertama untuk mental Rani, yang kedua untuk kelangsungan jabang bayinya. Karena seorang ibu hamil yang marah itu akan berdampak buruk bagi anaknya. Dani sudah mafhum akan hal itu. Tapi ambisinya untuk menjadi yang paling diakui telah membutakan semuanya.
Pertengkaran itu mereda tatkala Dani menerima kiriman gambar dari Matias melalui ponselnya. Dalam gambar tersebut terpampang jelas sebuah tulisan dari pemilik sebelumnya: Untukmu yang tak pernah membalas cintaku -- dari Yayan. Kemudian ada satu gambar lagi, dan itu yang membuat Dani menyesali perbuatannya; Dear Sinta Juwita. Dani tahu akhirnya mengapa si pemilik sebelumnya tidak berkenan apabila dijual.
Ya, karena Sinta Juwita itu adalah Ibunya Dani. Lalu perempuan berkerudung merah itu ternyata Ibu kandungnya sendiri. Hari itu, Dani merasa tersambar petir.
Kemudian ia melihat Rani yang masih menangis sesenggukan di dalam kamar. Tak mau ia memperlihatkan penyesalannya. Ia hanya menghampiri istrinya dan mengecup keningnya seraya berkata -- maafkan aku. Lalu Dani pamit pada Rani hendak menemui Matias. Rani melihat air muka Dani yang begitu lesu tidak tega dan mencegah suaminya keluar rumah.
"Apakah tidak bisa ditunda?" Kata Rani dengan mata sembab.
Dani menggelengkan kepala dan beranjak keluar kamar...
**
Setelah mencari kemana-mana, menelusuri ruas jalan, dan bertanya kesana-kemari. Akhirnya Dani menemukan rumah Matias. Di dalam tasnya sudah terisi bergepok-gepok uang untuk menarik lukisan itu. Ada rasa malu yang amat tatkala ia harus menarik perkataannya tempo hari yang sangat berapi-api itu. Tetapi apalah daya. Kesalahannya yang besar memang selayaknya dibayar dengan rasa malu yang dalam.
Begitu lah... cara Dani untuk meyakinkan dan membenarkan tindakannya.
Di depan rumah megah itu. Dani disambut oleh anak buah Matias yang rata-rata laki-laki berbadan besar. Dani diarahkan ke ruang tamu. Di sana terdapat patung Yesus dengan kondisi tersalip. Rupanya, Matias yang hartawan merupakan orang yang dapat dibilang religius.
Ada pula patung Bunda Maria sambil menggendong anak -- saat itu mata Dani berkaca-kaca sambil membayangkan Bunda Maria itu ibunya yang sedang menimang-nimang dirinya.
Sebentar kemudian ada seorang perempuan keluar, sepertinya pembantu. Ia mengatakan Bapak sedang siap-siap, mohon ditunggu. Sembari menunggu Dani menengadahkan tangan dan berdoa, seperti yang diajarkan gurunya -- robbiy ashrohliy...
Matias pun keluar dengan mengenakan pakaian santai. Ia duduk di sofa yang paling ujung.
"Nah, benar apa kataku dulu. Pasti Bapak kemari untuk mengambil lukisan kan?"
"Lukisan itu dimana?"
"Sudah aku buang..."
"Sungguh?" Tanya Dani dengan tubuh bergetar.
"Mengapa lukisan itu aku pertahankan? Aku merasa bersalah malah membelinya. Yang lebih aku sesali kamu sebagai anak dari perempuan berkerudung merah itu yang menjualnya..."
Belum sampai menyahut perkataan Matias. Ponselnya Dani bergetar. Ia mengambil dari dalam saku celana dan mengeceknya. Rupanya dari Rani. Ia pun mengangkat dan terdengar suara jeritan istrinya mengaduh sakit pada perutnya. Sejenak Dani melupakan perihal lukisannya, karena istrinya sedang akan melahirkan. Sejurus ia meminta pamit pada Matias dan begegas menuju rumahnya.
Dan sesampainya di rumah, Dani terhenyak karena melihat darah berceceran dimana-mana. Ia segera berlari menuju kamar tapi Rani tidak ada. Kemudian beralih ke dapur juga tidak ada. Di ruang tamu juga tidak ada. Dani pun kian panik. Sejenak secara samar-samar ia mendengar suara tangisan bayi. Ia ikuti suara itu dan menuntunnya ke ruang kerjanya -- tempat ia biasa menghabiskan waktunya membaca buku maupun menulis.
Sungguh tak dinyana, Rani terbujur kaku di atas lantai dengan bersimbah darah, dan bayi yang baru saja dilahirkannya menangis di atas lukisan perempuan berkerudung merah. Dani pun limbung, dilema di antara rasa syukur dan rasa duka...
Semarang, 27 April 2020
0 Komentar