Dok. Harian Kompas: Pak Kamid (kebetulan namanya sama dengan judul cerpen) membawakan ubi hasil kebunnya dari tempatnya di Sumedang berjalan kaki ke Ibu Kota, Yogyakarta, untuk mengantarkan ke Presiden Sukarno.


Kau masih ingat Pak Kamid? Seorang modin yang bermulut ompong. Yang kalau membacakan surat pendek tidak fasih. Tak jarang orang mengingatkan supaya bacaannya dibenahi. Tapi apalah daya. Pak Kamid bukan seperti kiai dalam imajinasimu. Bukan kiai yang "top trending" dengan bejibun harta. Sehingga ia tinggal pesan gigi palsu untuk memperindah suaranya.

Apakah kau sudah mendengar kabar bahwa Pak Kamid meninggal? Ia menghembuskan nafas terakhir setelah membagi-bagikan masker ke kampungmu yang saat ini diisolasi karena terpapar virus korona. Ada dua puluh orang yang dikarantina di sana, termasuk Ibu dan adikmu yang meringkuk di dalam rumah.

Setelah meninggalnya Pak Kamid itu menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam bagi jamaah musala -- tempat ia mengasuh ritus. Pasalnya, setelah kau memutuskan untuk merantau ke Ibu Kota tidak ada yang "layak" meneruskan perjuangan Pak Kamid mengasuh musala. Padahal, di kampung kau adalah satu-satunya yang pernah mencecap langsung sumber pengetahuan agama di pesantren.

Ketika kau memutuskan pergi, semua bersedih. Termasuk Pak Kamid sendiri yang memendam harapan yang membumbung tinggi pada dirimu, tapi begitu saja pupus, dan sirna.

Kau bisa membayangkannya, kan?

Hmm. Kau saat ini mungkin sedang menikmati masa-masa bekerja dari rumah, work from home, atau apalah istilahnya -- yang acap dipakai penyiar berita itu. Mungkin pula kau sedang meratapi nasib terdepak dari perusahaan tempat kau mengais rupiah. Karena banyak perusahaan yang mengalami kerugian setelah diberlakukan pembatasan sosial.

Tidak ada bos-bos perusahaan yang sanggup menggaji sementara buruhnya tidak bekerja apapun. Tak ada makan siang gratis. Apalagi di tempat perantauanmu, di Ibu Kota sana!

Baik lah, bagaimana pun keadaanmu yang menimbulkan rasa iba itu. Kau perlu tahu, ketika jenasah Pak Kamid dibawa dengan ambulan dari rumah sakit ke TPU dekat kampungmu itu ditolak ramai-ramai oleh masyarakat. Dengan bodohnya, mereka mengira bahwa virus yang mengidap dalam tubuh Pak Kamid bisa menjalar secara eksponensial ke segala penjuru. Tanpa pandang bulu...

Betapa malangnya nasib Pak Kamid. Sudah sering dicerca karena bacaannya bak radio yang kemresek. Tidak pula mampu pasang gigi palsu, karena untuk makan saja masih pas-pasan. Dan ketika ia meninggal, jenasahnya ditolak secara massal -- bahkan di antaranya ada jamaahnya sendiri.

Seolah-olah cobaan datang bertubi-tubi, baik di saat hidup, hingga mati sekalipun. Cobaan datang tak mengenal ampun. Orang-orang yang merasa kehilangan Pak Kamid kini berbalik berhati-hati dan menjauh karena kekhawatiran virus masih menguar di tubuhnya yang sudah tak bernyawa.

Entah, kau mau percaya atau tidak, di saat-saat sakaratul maut Pak Kamid berkali-kali menyeru-nyeru namamu kepada dokter yang merawatnya. Dan entah, apa maksud Pak Kamid melakukan itu. Silahkan kau tafsirkan sendiri...

Bukankah kau sudah memiliki segudang perangkat pengetahuan seperti logika, ilmu tafsir, bahkan tasawuf? Tentu menangkap makna isyarat dari Pak Kamid merupakan hal yang sepele bagimu. Lebih-lebih kau pasti paham bahwa akhlak lebih utama dari pada pengetahuan.

Jadi, kapan kau akan pulang? Dan semoga kau masih ingat jalan untuk kembali...

Semarang, 14 April 2020