Ada yang tahu
bagaimana rasanya diputusin pacar? Yang jelas sakiiit. Seandainya pemutusannya itu memiliki landasan yang rasional,
mungkin kamu bisa terima. Semisal, kita udahan
saja, karena kamu tidak pernah nge-chat aku! Atau, kita udahan saja karena kamu tidak pernah mandi! Dan atau, yang
lebih mengerikan, kamu pembohong,
kata-katamu palsu!
Terkadang,
ada pula yang memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak masuk akal sama
sekali. Seperti, kita temenan saja, aku
ingin merasakan sakit hati. Hah? Buat
kamu yang diputuskan dengan kalimat seperti itu tentu mendongkol. Karena
sewajarnya orang itu ingin hatinya selalu tenang, gembira, dan bahagia. Nah,
sedangkan ini malah ingin hatinya terluka dan tercabik-cabik.
Alasan saja
sepertinya belum cukup, karena alasan hanya sampul dan di balik sampul masih
ada berpuluh bahkan beratus-ratus halaman penjelasan.
Untuk meretas
kabut itu, kamu yang diputusin akan memutar memori ke belakang. Mengenang masa
yang sudah-sudah. Apakah ia punya riwayat menyakiti hati sang kekasih? Mungkin
pernah terlesat perkataan yang menyayat perasaan atau ada tindak-tanduk yang
dibenci. Lalu, pelan-pelan memburu jawaban atas pertanyaan; salahku apa?
Pada tahap
ini, banyak orang yang mengibarkan bendera putih alias menyerah. Mengiyakan
saja permintaan “putus” pacarnya, lalu bersiap-siap menghadapi masa kegalauan
yang tak bertepi, hingga kemudian bertemu pada persimpangan dua jalan; move on atau bertahan.
Terkadang
sebagian orang tidak membutuhkan kepastian jawaban; apa salahku? Dan tetap berusaha meyakinkan pacarnya. Tentu dengan
segala macam cara. Mungkin guling-guling,
atau muter-muter lapangan sambil
teriak sambil bawa poster; aku tidak bisa
hidup tanpamu! Atau bahkan mengancam; kalau
kau memutuskan aku tanpa alasan yang jelas akan kubunuh! Wah, kalau yang terakhir
ini bisa terkena pidana.
Buah manis
yang kamu dapat dengan tidak putus asa – asalkan berhasil – adalah kasih sayang
dan kesetiaan. Namun kamu jangan cepat berbangga hati dulu. Tunggu. Masih ada
kelanjutannya. Jika kemudian si pacar mengutarakan alasannya untuk putus. Kamu
itu harus benar-benar memasang telinga – bukan sekadar pajangan – dan mendengarkan
baik-baik perkataan kekasimu.
Walau sudah
diutarakan. Pasti terbersit rasa tidak terima, karena merasa tidak seperti yang
dikatakan si pacar. Atau mungkin kamu kurang puas dengan jawaban yang
dilontarkan. Heiii! Kamu telah diberi kesempatan yang berharga. Cobalah untuk
tidak membantahnya dan resapi saja – walau rasa tidak terima masih ada.
Setidaknya hubungan tetap berlanjut dan aman-aman saja. Hingga ke pelaminan.
Segala
sesuatu tidak harus berjalan rasional. Kata kiaiku, Romo Kiai Musta’in Syafi’i,
terkadang rasio itu mengeruhkan hati. Seperti orang kalau habis kentut dan ingin
sholat, yang dibasuh bukan pantatnya, tapi malah muka hingga kaki. Aneh? Iya.
Tapi cukup diterima saja. Lakukan dan ikuti panduannya Sang Maha Agung.
0 Komentar