Dok. tribunnews.com


Ada yang tahu bagaimana rasanya diputusin pacar? Yang jelas sakiiit. Seandainya pemutusannya itu memiliki landasan yang rasional, mungkin kamu bisa terima. Semisal, kita udahan saja, karena kamu tidak pernah nge-chat aku! Atau, kita udahan saja karena kamu tidak pernah mandi! Dan atau, yang lebih mengerikan, kamu pembohong, kata-katamu palsu!

Terkadang, ada pula yang memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak masuk akal sama sekali. Seperti, kita temenan saja, aku ingin merasakan sakit hati. Hah? Buat kamu yang diputuskan dengan kalimat seperti itu tentu mendongkol. Karena sewajarnya orang itu ingin hatinya selalu tenang, gembira, dan bahagia. Nah, sedangkan ini malah ingin hatinya terluka dan tercabik-cabik.

Alasan saja sepertinya belum cukup, karena alasan hanya sampul dan di balik sampul masih ada berpuluh bahkan beratus-ratus halaman penjelasan.

Untuk meretas kabut itu, kamu yang diputusin akan memutar memori ke belakang. Mengenang masa yang sudah-sudah. Apakah ia punya riwayat menyakiti hati sang kekasih? Mungkin pernah terlesat perkataan yang menyayat perasaan atau ada tindak-tanduk yang dibenci. Lalu, pelan-pelan memburu jawaban atas pertanyaan; salahku apa?

Pada tahap ini, banyak orang yang mengibarkan bendera putih alias menyerah. Mengiyakan saja permintaan “putus” pacarnya, lalu bersiap-siap menghadapi masa kegalauan yang tak bertepi, hingga kemudian bertemu pada persimpangan dua jalan; move on atau bertahan.

Terkadang sebagian orang tidak membutuhkan kepastian jawaban; apa salahku? Dan tetap berusaha meyakinkan pacarnya. Tentu dengan segala macam cara. Mungkin guling-guling, atau muter-muter lapangan sambil teriak sambil bawa poster; aku tidak bisa hidup tanpamu! Atau bahkan mengancam; kalau kau memutuskan aku tanpa alasan yang jelas akan kubunuh! Wah, kalau yang terakhir ini bisa terkena pidana.

Buah manis yang kamu dapat dengan tidak putus asa – asalkan berhasil – adalah kasih sayang dan kesetiaan. Namun kamu jangan cepat berbangga hati dulu. Tunggu. Masih ada kelanjutannya. Jika kemudian si pacar mengutarakan alasannya untuk putus. Kamu itu harus benar-benar memasang telinga – bukan sekadar pajangan – dan mendengarkan baik-baik perkataan kekasimu.

Walau sudah diutarakan. Pasti terbersit rasa tidak terima, karena merasa tidak seperti yang dikatakan si pacar. Atau mungkin kamu kurang puas dengan jawaban yang dilontarkan. Heiii! Kamu telah diberi kesempatan yang berharga. Cobalah untuk tidak membantahnya dan resapi saja – walau rasa tidak terima masih ada. Setidaknya hubungan tetap berlanjut dan aman-aman saja. Hingga ke pelaminan.

Segala sesuatu tidak harus berjalan rasional. Kata kiaiku, Romo Kiai Musta’in Syafi’i, terkadang rasio itu mengeruhkan hati. Seperti orang kalau habis kentut dan ingin sholat, yang dibasuh bukan pantatnya, tapi malah muka hingga kaki. Aneh? Iya. Tapi cukup diterima saja. Lakukan dan ikuti panduannya Sang Maha Agung.