dok. nusadaily.com

Ken Arok berambisi menjadi raja. Segala upaya dilakukan untuk merebut kekuasaan, karena ia menyadari bukan keturunan kerajaan. Ia hanya orang biasa. Sangat biasa. Karena ia sendiri tidak jelas merupakan anak dari siapa – baik dalam Arok Dedes maupun Pararaton tidak menunjukkan data yang jelas. Maka Ken Arok mengerahkan segala daya pikir dan tenaganya untuk mewujudkan cita-cita itu.

Mula-mula ia mendekati seorang brahmana yang barusan sampai dari Jambudwipa, Dang Hyang Lohgawe. Dari Brahmana itu, Ken Arok belajar agama dan menempa rohaninya. Selama berguru pada sang Brahmana ia memahami betapa status brahmana mendapat penghormatan di mata masyarakat. Karena perilakunya baik dan ilmu agamanya yang mumpuni, masyarakat pun mematuhi arahan Brahmana.  

Di satu sisi, Dang Hyang Lohgawe mendapat isyarat ilahi bahwa kelak Ken Arok akan menjadi orang besar. Ia diminta untuk menjadi – kalau dalam istilah sekarang – dewan pertimbangan presiden alias penasehatnya. Kemudian ia mengangkat Ken Arok sebagai anak dan mengajaknya mengabdi ke Tumapel bersamanya.

Ken Arok spontan mengiyakan, karena baginya ini adalah sebuah kesempatan emas. Dari sebelumnya ia melalui jalur informal dengan kebiasaannya membegal dan menjarah harta orang-orang kaya. Dalam Arok Dedes karya Pramoedya, ia seperti disamakan dengan Robin Hood. Mengambil harta orang lain untuk dibagi-bagikan pada dhu’afa.

Dengan Ken Arok bergabung dengan Tumapel, ia bisa mengetahui jantung pertahanan lawan. Setahap demi setahap ia akan bisa menduduki singgasana. Di sini lah, sosok Ken Arok dapat disebut sebagai politisi sejati. Tak perlu mengandalkan serangan fajar untuk memobilisasi massa, atau kekuasaan untuk menghantam. Cukup dengan kecerdikan, dan tentu; kesabaran.

Ketika Ken Arok menjumpai Ken Dedes saat mengawal sang Akuwu Tumapel – Tunggul Ametung – bercengkerama dengan istrinya di taman Boboji. Ia terkesima pada kecantikan putri Mpu Purwa, seorang brahmana yang bertapa di Panawijen.

Salah satu hal yang membuat Ken Arok kesemsem adalah ketika jarik yang dikenakan Ken Dedes tersingkap saat turun dari kereta, betis Ken Dedes terlihat jelas yang membuat darahnya terpompa lebih cepat. Dalam kitab Pararaton disebutkan bagian tubuh itu bercahaya.

Lantas Ken Arok menghadap sang penasehatnya – Dang Hyang Lohgawe. Ia menceritakan pengalamannya tadi alias curhat. Dari dari penasehatnya, ia diberi tahu, dan itu yang semakin  membuatnya semakin berambisi mendapatkan kekuasaan;

“Bapa Dang Hyang,” katanya. “Ada seorang perempuan bercahaya “rahasianya”-nya. Tanda perempuan bagaimanakah itu? Tanda baik ataukah burukkah itu?” kata Ken Arok (seperti yang saya kutip di Paraton).

“Siapakah perempuan itu, Nak?” Jawab Dang Hyang.

“Bapa, hamba melihat rahasia seorang perempuan?”

“Jika ada perempuan yang demikian,” kata Dang Hyang, “Perempuan itu namanya Nariswara. Ia adalah perempuan paling utama, Nak. Meskipun orang berdosa, jika mampu memperistrinya, ia akan menjadi maharaja,” jawab ayah angkatnya yang membuat Ken Arok gegap gempita.

Sejenak Ken Arok terdiam.

“Bapa, Dang Hyang,” kata Ken Arok kemudian setelah terdiam, “Perempuan yang bercahaya ialah istri sang Akuwu Tumapel. Jika demikian, aku akan membunuh sang Akuwu dan merebut istrinya. Sang Akuwu pasti mati di tanganku jika Bapa mengizinkanku.”

Dang Hyang sudah pirso (baca; mengetahui) sebelum kejadian, bahwa kelak Ken Arok akan menduduki Tumapel, tidak kaget dengan niat anak angkatnya ini. Alih-alih tidak mengizinkan, diam-diam Dang Hyang juga mendukung supaya Ken Arok yang memerintah Tumapel. Karena Dang Hyang melihat bahwa Tunggul Ametung sudah tidak mengindahkan ajaran, dan terlebih; tidak patuh pada titah Brahmana.

Sebagai sikap yang bijaksana namun mengandung niat yang politis, Dang Hyang memberi jawaban;  “Ya, tentu matilah Tunggul Ametung olehmu, anakku. Hanya saja aku tak pantas memberimu izin. Karena itu bukan tindakan seorang pendeta. Batasnya adalah kehendakmu sendiri.”

“Jika demikian Bapa, hamba memohon diri kepada Bapa,” kata Ken Arok.

“Akan kemanakah engkau anakku?”

“Hamba akan pergi ke Karuman. Ada seorang penjudi bernama Bango Samparan yang mengakui hamba anak. Ia sangat menyayangi hamba. Dialah yang akan hamba mintai pertimbangan. Mungkin, ia akan menyetujuinya.”

Disinilah, betapa restu orang tua adalah kunci...

Bango Samparan menyetujui. Malah ia memberi saran, supaya Ken Arok  pergi ke Lulumbang menemui Mpu Gandring dan memintanya membuatkan sebilah keris. Oleh karena Tunggul Ametung itu sakti maka tidak bisa ditusuk dengan alat sembarangan. Harus ditusuk dengan senjata yang lebih sakti.

Bertolak dari Karuman, Ken Arok pergi ke Lulumbang. Dan meminta Mpu Gandring membuatkannya keris sakti. Terjadi negosiasi yang alot, Mpu Gandring meminta diberi waktu setahun, sementara Ken Arok memaksa supaya lekas jadi lima bulan lagi. Keduanya tetap bersikukuh lalu berakhir tanpa kata sepakat.

Setelah lima bulan, Ken Arok kembali ke Lulumbang, ternyata kerisnya masih belum jadi. Ia memaksa supaya kerisnya bisa diambil sekarang. Mpu Gandring menolak, Ken Arok naik pitam  dan menghunuskan keris itu pada sang pembuatnya. Dalam keadaan sekarat, Sang Empu melontarkan kata-kata sumpah serapah yang terkenal dengan "kutukan Mpu Gandring".

“Hei Arok! Kelak engkau akan mati oleh keris itu. Anak cucumu akan mati karena keris itu.”

Dengan keris buatan Mpu Gandring itu, saat petang Ken Arok ia melakukan percobaan pembunuhan pada Tunggul Ametung dan berhasil. 

Ia mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Tumapel.

Ken Arok yang memiliki kecerdikan tinggi. Tak ada yang menuduhnya sebagai pelaku pembunuhan Akuwu, tetapi Kebo Ijo sang patih Tumapel. Dikarenakan, setelah Ken Arok tiba dari Lulumbang. Kebo Ijo melihat keris yang dibawa prajuritnya itu. Sang Patih pun tertarik dan meminjamnya, Ken Arok pun menyerahkan. Kemudian, kemana-mana di pinggang sang Patih terselip keris buatan Mpu Gandring itu. Orang-orang jadi mengira; keris itu milik Kebo Ijo.

Tak lama setelah Tumapel dikuasai dan berganti menjadi Singasari. Barisan Brahmana Daha yang kecewa dengan sang raja menarik diri dan bergabung bersama Dang Hyang Lohgawe di kerajaan baru itu. Dipimpin Ken Arok, mereka sepakat untuk menyerang Daha.  

Pasukan kerajaan Daha berhasil dipukul mundur. Raja Daha Dandang Gendhis pun melarikan diri – dalam Paraton diceritakan (agak utopis) ia mengungsi ke alam dewa di angkasa.

Pada tahun saka 1144 Singasari berhasil menduduki Daha yang dibantu segenap Brahmana, prajurit, dan kaum sudra (baca; rakyat jelata). Sebuah kombinasi sempurna dalam tingkat agama Hindu-Buddha: Brahmana, Ksatria, Sudra. 

Setelah kerajaan Singasari menduduki Daha yang menguasai hampir keseluruhan wilayah Jawa. Di saat itu ada sebuah pelajaran untuk menyembuhkan dendam dari Ken Arok. 

Pertanyaannya, apakah Ken Arok bisa menyembuhkan dendamnya sendiri? Tidak. Ken Arok masih menimbun kebencian. Terutama ketika ia memperlakukan anak Tunggul Ametung yang mengandung sebelum ia menikahi Ken Dedes.

Lalu, apakah dari kegagalannya bisa dipelajari? Bisa.

Dari kegagalan menyembuhkan dendamnya yang menyebabkan ia dibunuh oleh Anusapati – anak tirinya sendiri. Kita bisa belajar. Betapa ketika kita ingin memutus mata rantai kebencian dan memenggal lingkaran dendam, harus membereskan diri kita sendiri terlebih dulu. Membereskan dalam arti move on dari masa lalu. Menyadari masa lalu bukan untuk disesali, tapi untuk dipelajari.

Sebagai orang tua, Ken Arok dan Ken Dedes harus bersikap bijak pada anak tirinya – Anusapati. Memang kenyataannya Anusapati itu anaknya Tunggul Ametung yang dulu pernah menjadi lawan politik Ken Arok. Tetapi seorang anak hakikatnya tidak tahu menahu dan belum tentu menyamai perilaku orang tua kandungnya. Jika ada kemiripan, itu di luar kesengajaan, yang katanya buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Orang tua harus lebih arif menyikapi ini. 

Kalau seandainya Ken Arok tidak pilih kasih dengan anak istri lainnya – Ken Umang. Mungkin Anusapati akan merasa nyaman berada dekat dengan ayah tirinya sekalipun. Kenyataannya Ken Arok malah membenci Anusapati dan menyamakannya dengan Tunggul Ametung. 

Di tambah dengan kecerobohan Ken Dedes yang memberi tahu – tanpa mengedukasi – bahwa Ken Arok lah yang membunuh ayah Anusapati... Padahal borok itu sudah ditutup rapat-rapat. Supaya nama Ken Arok tetap harum dan dianggap pahlawan Tumapel. 

Ya, sejarah tak bisa diputar ulang. Ken Arok sudah terbunuh oleh Anusapati. Dan Anusapati akhirnya dibunuh Tohjaya – anak Ken Arok dari istri Ken Umang. Tetapi, masa depan yang kelam bisa dipupus, dengan membereskan diri sendiri dulu. Dan mengikhlaskan. Tanpa perlu mengucapkan ikhlas. Di hati sekalipun!

Much. Taufiqillah Al Mufti

Semarang, 9 Mei 2020