![]() |
| Dok. instabusters.net |
Setiap orang
besar pasti memiliki riwayat pendidikan yang tidak biasa. Acap kali pendidikan
itu berat, keras, dan tidak mengenakkan. Seperti bola kasti yang dilempar ke
tembok. Semakin keras lemparannya, maka kian keras pantulannya. Sebaliknya,
kalau pelan melemparnya, maka bola kasti itu akan memantul pelan, bahkan tak
memantul sama sekali.
Hal itu yang
dirasakan oleh Pangeran Diponegoro. Seperti sudah diramalkan. Ketika Pangeran
Diponegoro lahir, Sultan Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I melihat dalam
diri cicitnya itu terdapat kedalaman batin yang tidak biasa – tidak seperti anak-anak
keraton lainnya.
Mungkin juga ia
teringat dengan sebuah penujuman bahwa setelah meninggalnya raja Mataram,
Sultan Agung, tanah Jawa akan dijajah Belanda tiga ratus tahun lamanya.
Kemudian akan muncul ksatria dari keturunan Sultan Agung sendiri yang akan
memerangi Belanda, walau tidak sampai berhasil. Ada sebuah intuisi dalam diri
Sultan Mangkubumi bahwa sosok itu tak lain lagi; Raden Mas Mustahar – cicitnya sendiri.
Sultan
Mangkubumi merindukan sosok pemersatu tanah Jawa setelah dipecah belah oleh
Belanda dalam perjanjian Giyanti dan Salatiga...
Dengan hasil pertimbangan
olah batin dan firasatnya, maka Sultan Mangkubumi meminta supaya cicitnya yang
baru lahir itu dibesarkan oleh istrinya sendiri, garwa padmi, yang sering disebut Ratu Ageng. Seorang perempuan yang
memiliki latar belakang keturunan bangsawan sekaligus ulama dari Bima.
Pertimbangan
Sultan Mangkubumi sangat wajar, karena baik ayah maupun ibu Pangeran Diponegoro
-- masih berusia belasan tahun dengan kecenderungan emosinya yang masih labil.
Tidak bisa sembarangan diserahi tanggung jawab yang amat besar, sekalipun pada
orang tuanya sendiri. Maka di tangan Ratu Ageng alias Niken Ayu Yuwati lah
Pangeran Diponegoro dirawat dan dibesarkan.
Pilihan Sultan
Mangkubumi pada Ratu Ageng sangat tepat, karena istrinya bukan perempuan biasa.
Ia seorang ksatria dan ulama sekaligus. Memimpin korps prajurit estri (tentara perempuan), pelaku tarekat, dan menguasai kitab kuning. Terlebih Ratu Ageng
tahu betul suka duka dan jerih payah suaminya saat mendirikan Keraton
Yogyakarta. Secara usia, pengetahuan, dan pengalaman sangat mumpuni untuk
membesarkan ksatria Nusantara yang kelak akan memimpin perang Jawa.
Setelah tampuk kekuasan
keraton beralih ke tangan Sultan Hamengkubuwono II alias Raden Mas Sundoro,
keadaan keraton jauh berbeda. Ratu Ageng prihatin melihat keadaan tersebut dan
keluar dari lingkungan keraton, kemudian mendirikan perkampungan sendiri. Di
sana lah Pangeran Diponegoro dididik. Diisi pengetahuannya, ditempa mental
serta rohaninya.
Kalau menurut
Pangeran Diponegoro sendiri, Ratu Ageng tidak betah dengan suasana keraton yang
penuh konflik dan intrik. Dalam Babad Diponegoro disebutkan;
49.
Kami
sekarang bertutur tentang Ratu Ageng
bagaimana ia
sering berselisih
dengan para
putranya sendiri.
Oleh karena itu
ia menyingkir dengan rasa marah
Dan membuka
lahan baru:
tanah-tanah
terbengkalai dibuka,
(dan) kemudian bermukim
di sana.
Jauh dari Kota
Yogyakarta
50.
Perjalanan satu jam (jalan kaki).
Ketika lahan itu
siap, tempat itu disebut Tegalrejo...
Secara tidak
langsung. Pangeran Diponegoro ini dibesarkan dalam suasana yang jauh dari
nuansa kemewahan dan kenyamanan. Karena Pangeran Diponegoro diajak Nenek
Buyutnya itu untuk bercocok tanam, membuat kolam serta pekarangan, dan rutin mengaji.
Dari Nenek Buyutnya, menurut Zainul Milal Bizawie, Pangeran Diponegoro diajari
ilmu agama yang diambil dari kitab Taqrib dan kitab kuning lainnya.
Di Tegalrejo,
tidak ada pembantu atau abdi dalem yang
bisa disuruh-suruh. Hampir semua pekerjaan diselesaikan sendiri. Itu lah yang
membuat ia begitu dekat dengan alam, karena sering kali bersentuhan – tanpa
rasa jijik dan berjarak. Ramah terhadap binatang dan peduli pada lingkungan.
Kesadaran spiritualitasnya sebagai seorang hamba benar-benar terbentuk. Tidak
ada mental superior, sok dan mentang-mentang anak bangsawan.
Seorang akademisi
yang meneliti Pangeran Diponegoro bertahun-tahun, Peter Carey, menggambarkan
sosok Ratu Ageng bak ibu tiri dalam mendidik. Keras – mungkin juga galak. Walau
demikian, Pangeran Diponegoro menggambarkan sosok Nenek Buyutnya ini sebagai
perempuan yang welas asih, tidak
senang pencitraan, dan pekerja keras.
Itu lah yang
membuat Pangeran Diponegoro memiliki jiwa merakyat namun tetap memiliki
kewibawaan. Seperti dituturkan oleh ahli hukum dan penasihat pemerintah
kolonial, Willem van Hogendrop:
Sifat khas Diponegoro di mata orang Jawa,
yang selalu menjunjung tinggi dan berjarak dalam urusan atasan dan bawahan,
adalah bahwa ia mudah bergaul baik dengan orang biasa maupun dengan orang
besar. Oleh karena itu ia banyak disenangi orang dimana-mana.
Pernyataan
Hogendrop ini amat beralasan. Karena pada saat perang Jawa meletus, pertama
kalinya terjadi para priyayi Jawa berbondong-bondong menyumbangkan harta mereka
untuk mendanai perang. Suatu tindakan yang sangat beresiko, terlebih mereka
mendapat gaji dari pemerintahan kolonial.
Selama
dibesarkan oleh Ratu Ageng, Pangeran Diponegoro tidak pernah diajari untuk
meminta-minta. Selain karena Nenek Buyutnya ini pelaku tarekat yang taat, juga
merupakan pedagang. Pangeran Diponegoro melihat dan mengalami sendiri bagaimana
sang Nenek Buyut berdagang. Sehingga di kemudian hari Pangeran Diponegoro
merupakan bangsawan yang memiliki kekayaan terbanyak dibanding pangeran se-zamannya
yang diperoleh bukan dari hasil tanah rampasan dan upeti.
Kalau dilihat
dari kaca mata negatif, mungkin cara mendidik Ratu Ageng menyalahi protokol
mengasuh seorang putra bangsawan – apalagi Pangeran Diponegoro kelak
digadang-gadang menjadi putra mahkota Keraton Yogyakarta. Tetapi kalau ditilik
dari sisi positif, pendidikan yang dilakukan Ratu Ageng sangatlah tepat untuk
mengikis mentalitas elit yang mulai membudaya di lingkungan keraton.
Di akhir hayat
Ratu Ageng. Ketika ia sedang terbaring lemah di atas ranjang, putranya alias
Hamengkubuwono II menjenguknya di Tegalrejo. Bukan malah disambut hangat oleh Ibunda, sang Sultan malah mendapat amukan.
Sultan! Lorong yang harus kujalani itu sulit
dan sekarang aku merasa bahwa aku sesungguhnya tak lebih dari orang biasa.
Anakkku, ingatlah dan jangan percaya bahwa, meskipun sekarang engkau raja,
sesudah kematianmu engkau tak lebih daripada seorang kuli. Jadi hiduplah wajar!
Setelah
melontarkan perkataan tajam itu, Ratu Ageng meninggal dunia, pada siang itu
juga, tepatnya jam 3 siang 17 Oktober 1803.
Kata-kata Ratu
Ageng di atas sangat membekas dalam diri Pangeran Diponegoro. Sampai akhirnya
ia memilih mengambil sikap kritis pada keraton, walau sempat membantu suksesi
ayahnya menduduki posisi raja, dan menjadi jubir atau wali sultan bagi
Hamengkubuwono IV yang masih berusia kanak-kanak.
Pangeran
Diponegoro, dialah raja tanpa mahkota. Ia mengikuti langkah sunyi Nenek Buyutnya...
Semarang, 17 Mei
2020

0 Komentar