![]() |
sumber: https://www.monicaanggen.com/ |
Entah, aku dan sebangsaku ini makhluk terkutuk atau terberkati karena sudah memakan banyak korban. Kerusakan alam demi kerusakan alam terjadi demi mewujudkan dan menciptakanku. Terkadang aku merasa hina sebagai hasil produksi massal, dan terkadang pula aku merasa bangga karena diriku bisa bermanfaat – tidak saja untuk memuaskan hasrat para pemodal namun juga merawat ilmu pengetahuan.
Namun,
akhir-akhir ini aku merasa sangat bersalah karena ternyata kehadiranku dan
sebangsaku menjadi salah satu pemicu adanya pandemi. Lihat, bagaimana para
buruh mendapat PHK karena pabrik tempat mereka bekerja mengalami kerugian besar
setelah pemberlakuan kebijakan menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Nasib
mereka terkaing-kaing karena mata pencahariannya hilang. Belum lagi, kewajiban
mengenakan masker membuat dunia ini seolah kehilangan senyumannya dan citra
humor.
Pandemi
ini bukan hal baru, sebelumnya pada tahun 1997 sekelompok orang membakar hutan
di Kalimantan untuk membuka lahan perkebunan. Banyak pohon yang mati, atau
masih hidup tetapi tidak lagi dapat menghasilkan buah. Hewan-hewan penghuni
hutan itu akhirnya juga berpencar dan mencari tempat bernaung baeu. Nah, dari
sana lah muncul matapetaka, dimana pada tahun 1999 banyak orang menderita
peradangan otak yang parah, dan 105 orang meninggal akibat terpapar virus
Nipah. Virus yang membuat serangkaian wabah berulang-ulang di Asia Tenggara.
Betapa
mengerikannya serangkaian bencana yang timbul akibat pembalakan hutan, salah
satunya demi mendapat keuntungan berlipat ganda atas penjualan benda-benda sebangsaku.
Tak kenal siang dan malam, aku selalu bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa,
semoga ada seseorang yang berhati mulia membeli dan membawaku kemana-mana –
syukur kalau ia menggunakanku untuk hal yang terpuji. Karena tidak ada lagi
tujuan hidup yang terbersit dalam benakku selain untuk memberikan manfaat walau
pun tak seberapa. Toh, pantaskah bagi makhluk yang hina-dina seperti aku
mengharap yang besar-besar?
Hingga,
pada suatu hari ada seorang lelaki kurus berjalan mondar-mandir dari lorong ke
lorong rak buku. Entah, buku macam apa yang ingin ia boyong, buku bacaan kah?
Atau buku catatan? Setelah sekian lama ia berkeliling, matanya tertumbuk pada
diriku yang berada di rak paling pojok. Lalu ia mengambil aku, membolak-balik,
membersihkan debu dari badanku dengan tangannya. Terlihat senyumnya mengembang
kemudian membawa aku ke meja kasir. Petugas kasir kesusahan mengecek hargaku,
berkali-kali ia menempatkan aku di bawah barcode
scanner namun hargaku tak juga muncul di layar komputer. Akhirnya, petugas
kasir meminta izin untuk menanyakan harganya dan lelaki kurus itu mengangguk
ramah. Wajar, kode batang yang tertempel di sampulku sudah memudar karena tahun
cetakku memang sudah sangat lama.
Makanya,
terkadang aku heran dengan lelaki kurus itu, mengapa ia mau memboyong aku
padahal masih banyak jenis buku catatan maupun buku agenda yang bagus dengan model
terbaru. Atau, memang ia menyukai barang-barang antik? Apapun itu, aku senang
sekali bisa beranjak dari toko buku yang sudah bertahun-tahun aku tempati. Aku
sudah pernah merasakan kebanggaan ketika karyawan toko memajang aku di rak
depan, hingga merasakan diri ini tak berharga karena terdesak di rak paling
pojok bersama buku-buku lain yang tak laku, karena tak ada satu pun mata melirik
padaku barang sebentar.
Selintas
bayangan buruk menyambar benakku, “Alah, paling-paling lelaki kurus itu hanya
menjadikanku sebagai barang koleksi dan memajangku di sebuah rak atau bufet!
Bukan kah sudah kujelaskan, bahwa di sisa umur ini aku cuma ingin bermanfaat,”
gerutuku dalam batin. Namun gambaran buruk itu kemudian hilang ketika ternyata
ia menggunakanku sebagai buku catatan harian. Lebih menggembirakan lagi, rupanya
lelaki kurus itu berprofesi sebagai wartawan, kemana-mana ia membawaku tiap
meliput berita. Apabila usai liputan, ia akan beristirahat di sebuah kedai,
memesan kopi, menghisap sebatang rokok, lalu mengeluarkanku dari tas ranselnya
yang lusuh. Di atas badanku ia menuliskan sesuatu...
Ayah, tempo hari aku menerima
penghargaan atas jasamu untuk kantor, dunia pers, dan untuk kemanusiaan. Kau
telah mengungkap sebuah isu persekongkolan antara polisi dengan pengusaha kayu.
Keduanya menjalin hubungan hitam untuk menguasai hutan di Kalimantan, si
pengusaha ingin mendapat hak milik atas hutan supaya ia bisa membuka lahan
perkebunan. Kau menelisik kasus itu, mencari bukti-bukti, mewawancarai
narasumber-narasumber kunci, sesekali kau menyamar sebagai orang biasa supaya
tidak ketahuan karena kau tahu ini sangat beresiko, kemudian liputan
investigasimu terbit dan menggoncang jagat persilatan Kalimantan.
Setelah liputanmu meluas hingga menjadi
bahan perbincangan di salah satu serial diskusi televisi nasional, tak sedikit
sanjungan khalayak terlontar kepadamu karena kau mampu mengungkap isu yang
selama ini hanya menjadi buah bibir masyarakat. Di samping, isu semacam itu biasanya
hanya menjadi konsumsi elit, namun kau sanggup menghadirkannya ke permukaan
dengan bahasa yang sederhana dan terang sehingga orang lulusan sekolah dasar
pun bisa memahaminya. Namun, akibat dari liputanmu itu sekelompok orang mengincar
dirimu karena kau merugikan bisnis mereka. Maka, teror demi teror menghampirimu...
Teror itu terkadang berbentuk ledekan
dan bahkan ancaman pembunuhan, namun kau tak gentar menghadapinya dan tetap
lantang menyuarakan sesuatu yang kau anggap benar. Aku ingat, saat usiaku masih
7 tahun sejak kelahiranku tahun 1990, ada orang berpakaian serba hitam datang
ke rumah. Kala itu Ibu yang menyambut, mereka mengatakan pada Ibu supaya Ayah
diam dan menghentikan kegiatan liputan atau mereka akan membakar rumah. Aku
yang berada di samping Ibu merasa ketakutan memperhatikan gestur tubuh dan perkataan
mereka, tapi Ibu tak kalah ketus dan keras membalas ancaman mereka.
Saat itu, perlindungan dan jaminan hukum
kepada wartawan yang menyuarakan kebenaran nyaris tidak ada. Siapa saja yang
mengkritisi kebijakan negara maka negara melalui apara, preman, hingga
vigilante lainnya akan membungkamnya. Hingga pada suatu ketika ancaman yang
ditujuka padamu terbukti. Beberapa peluru panas menembus tubuhmu saat kau
hendak masuk ke dalam mobil, yang membuatmu hilang kesadaran, terhuyung, jatuh,
dan menubruk dinding mobil, kemudian darahmu melumuri permukaannya.
Betapa sedihnya aku kala itu, masih
kecil namun kau sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku hanya bisa
menikmati jejak perjalananmu dari album-album foto di rumah, ataupun
kliping-kliping liputanmu yang terpajang di kantor tempat aku bekerja. Ketika kolegaku
tahu bahwa kau adalah ayahku serta merta mereka besorak-sorai dan mengatakan
bahwa matahari telah terbit kembali. Matahari yang menyiangi kegelapan dan
senjakala literasi.
Ayah, jujur, aku minder. Apakah aku
mampu meneruskan perjuanganmu?
Pontianak, 2020
Betapa
pilu lelaki kurus itu menuliskan perjalanan ayahnya, ia sendiri merasa tidak
mampu untuk meneruskan perjuangannya. Antara kekaguman dan keraguan bercampur
baur, tergambar jelas dari raut dan mimik wajahnya. Sepertinya, ia memang bukan
lelaki yang lihai menutupi perasaannya yang dapat terbilang cengeng namun tetap
punya keberanian. Hingga, pada suatu sore ia membandang sepeda motornya dan
menemui seorang perempuan. Pada perempuan itu, ia mencurahkan keresahannya
selama ini.
Mereka
bercakap-cakap di sebuah warung mie ayam dekat rumah si perempuan. Lelaki kurus
itu mengenakan jaket denim yang sudah kumal dan ransel yang terletak di sisi
tempat ia duduk – di dalamnya ada aku sehingga bisa mendengar pembicaraan
mereka. Sementara itu, si perempuan mengenakan pakaian berjenis kasual,
rambutnya yang panjang sepundak itu ia biarkan terurai bebas, sesekali hembusan
angin menggoyang-goyangkan rambutnya yang membuatnya lebih menawan.
“Anton,
sudahlah,” kata si perempuan, “tak perlu dibuat risau. Cukup jadilah dirimu
sendiri.”
“Bagaimana
mungkin aku menjadi diriku sendiri, sementara di luar orang-orang terus
menyamakan aku dengan Ayah!” ucap lelaki kurus itu, “Dewi, bagaimana mungkin?!”
“Aku
paham beban yang kau rasakan saat ini. Tugas wartawan sendiri juga berat,
selain dikejar batas waktu oleh kantor dan juga diburu kalau beritanya
mengancam kredibilitas seseorang. Namun, bagaimana caranya supaya kau lebih
nyaman menjalani pekerjaanmu sebagai wartawan?”
“Entah,
aku tidak tahu. Yang jelas aku bergabung menjadi wartawan bukan karena Ayahku,
tapi karena keinginanku sendiri, kemudian kalau memang kantor surat kabar
tempatku bekerja itu sama dengan ayah dulu itu maka bukan lah kesengajaan.
Tidak ada yang memaksa-maksa aku masuk ke sana. Intinya, aku tidak percaya
bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya!”
Lelaki
kurus itu pulang dengan perasaan kecewa. Sesampai di rumah ia menulis di atas
badanku bahwa ia menyesal telah menceritakan kegalauannya pada Dewi. Seharusnya
ia tidak perlu berdebat untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ia selesaikan
sendiri, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk mengatasi dua
keresahannya. Pertama, bagaimana melepaskan pandangan orang sekitar bahwa ia
tidak berada di bawah bayang-bayang ayahnya. Kedua, bagaimana ia bisa
membuktikan bahwa karakternya sebagai wartawan berbeda dengan ayahnya. Memang,
kalau orang lain menyamakan diri kita walau dengan seorang pahlawan sekalipun itu
tidak mengenakkan.
Hingga
pada suatu hari, di media sosialnya mendapat pesan dari akun anonim. Dalam
pesan tersebut tertulis, “Hai, apa kabar
kau anaknya Naim? Rupanya memang benar, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya!
Selamat kau diterima oleh surat kabar tersohor se-Kalimantan, dan selamat
mengemban tugas sebagai wartawan. Aku cuma ingin berpesan, sebagai wartawan kau
harus sadar tentang apa yang akan kau tulis, karena kata-kata itu bagaikan
peluru untuk orang yang kau bidik. Lalu, bidik lah orang dengan tepat, jangan
salah sasaran, atau kau akan terkena senjata makan tuan!”
Tentu,
geram dan kesal menyelimuti batinnya. Lelaki kurus itu memaki-maki setelah
membaca pesan dari akun anonim itu. Tak urung ia mengatakan bahwa kalau berani
jangan menggunakan akun anonim dan hanya pecundang yang beraninya dari
belakang. Ia mengabaikan pesan itu sampai suatu ketika ia meliput pembalakan
hutan di Kalimantan, sejurus pesan dari akun anonim yang berbeda-beda datang
bertubi-tubi. Ia lelah memblokir satu per satu akun anonim tersebut, hingga ia
menonaktifkan semua akun media sosialnya, dan hanya mengandalkan SMS atau
telepon genggam. Itu pun dua pekan sekali ia ganti nomor.
Tak
berhenti di situ, rumahnya pun turut menjadi sasaran teror. Ia mendapat kiriman
surat dari pengirim yang tidak jelas. Dalam surat itu tertulis, “Ahai! Kau anaknya Naim! Kau takkan bisa
bersembunyi, kemana pun kau pergi aku akan mencarimu. Kau tak perlu melarikan
diri, karena sebentar lagi kau akan kutemukan. Dulu, bukan kah sudah aku
peringatkan, bahwa sebagai wartawan kau harus sadar tentang apa yang kau tulis,
dan kau harus berhati-hati pada orang yang kau bidik karena akan jadi bumerang
bagimu. Ini adalah peringatan terakhirku, atau kau akan bernasib sama dengan Ayahmu!”
Meskipun
pada masa sekarang wartawan mendapat perlindungan hukum, namun rasanya tak ada
artinya ketika sekelompok orang berseragam polisi menangkapnya karena tuduhan
membuat berita palsu. Lelaki kurus itu mendapat cercaan karena membuat liputan
investigasi pembalakan hutan dan menghubungkannya dengan pandemi, bahwa pandemi
ini akibat dari perusakan alam, dimana patogen-patogen yang semula mendiami
hutan akhirnya menyebar ke segala penjuru dunia. Lelaki kurus itu tidak
mempercayai teori konspirasi yang menyatakan bahwa pandemi ini merupakan rekayasa
segelintir elit internasional – sebagaimana yang ia tulis di atas badanku.
Kasus
penangkapannya menjadi viral, banyak orang bersimpati, bahkan ajakan petisi online untuk membebaskannya tembus satu
juta lebih tanda tangan. Hal itu wajar, karena yang selama ini ditulis oleh lelaki
kurus itu memang benar dan dapat dibuktikan. Akhirnya, karena bantuan seorang
anggota dewan yang dulu berkawan dengannya ia bisa menghirup udara bebas.
Hanya, status tersangkanya belum lah hilang, dan aparat terus
membayang-bayanginya.
Namun, kebebasan
setelah mendekam di penjara tidak lah lama, karena saat malam tiba – tepatnya
setelah ia pulang dari kantor -- ada orang-orang berpakaian serba hitam yang
mengeroyok dan menikamnya dengan sebilah pisau. Ia menjerit kesakitan namun tak
ada satu orang pun mendengar. Kemudian ia pun terjatuh, sementara orang-orang
berpakaian hitam itu tertawa terbahak-bahak. Dengan susah payah lelaki kurus
itu mengambil aku dari dalam tasnya yang ikut bersimbah darah. Ia membuka dengan
berat, lalu pada lembar tersebut ia menulis di atas badanku sebuah inisial
dengan jari telunjuknya yang basah oleh tinta darahnya. Lalu, ia melemparkan
aku ke sembarang arah supaya orang-orang berpakaian hitam itu tak mengetahuinya.
Dari
balik rerumputan, aku melihat lelaki kurus itu diangkat salah satu orang yang
berbadan lebih besar, kemudian ia dimasukkan ke dalam mobil bagian belakang. Sebelum
meninggalkan lokasi, beberapa orang berpakaian hitam melihat situasi sekitar
kalau-kalau ada orang, selanjutnya mereka menghapus darah lelaki kurus itu yang
bersimbah di atas jalan – walau tak sepenuhnya bersih karena mereka tak
mengetahui aku yang bersembunyi di rerumputan. Satu per satu orang-orang
berpakaian hitam itu masuk ke dalam
mobil. Mobil itu pun menggerung-gerung dan bergerak, sepertinya mengarah
ke sungai Kapuas.
Keesokannya,
di lokasi penusukan lelaki kurus itu telah ramai orang, sepertinya semalam
masih ada orang yang mendengar jeritan lelaki kurus itu walau malam sudah larut
dan membuat polisi juga datang ikut menyelidiki. Aku juga melihat perempuan
yang bernama Dewi, teman atau entah pacarnya, menangis mengetahui lelaki kurus
itu raib – tidak jelas nasibnya hidup atau mati. Kemudian kulihat ia menepi dan
duduk di rerumputan tempat aku bersembunyi sejak semalam. Ketika ia hendak
menyandarkan tubuhnya pada tangannya, tak sengaja jemarinya menyentuh aku, ia
pun mengambil buku yang tergeletak di sampingnya. Ia pun terkejut setelah
melihat dua huruf bertinta darah di salah satu lembar. Sejurus ia terkesiap
untuk berlari menghampiri polisi, namun tak jadi. Kemudian ia melihat polisi dengan
mata nanar dan memeluk aku erat-erat hingga kurasakan hangat buah dadanya.
Kurasakan detak jantungnya yang berdegub dengan tempo yang tak berirama. Lalu
ia beranjak, dan pergi membawaku entah kemana...
Semarang,
9 Juli 2020
0 Komentar