![]() |
Sosok perempuan berleher jenjang berdiri di depanku. Tubuhnya bersinar. Ia menghadap ke arah kanan, kemudian ia mengerlingkan matanya padaku. Aku pun merasa gugup. Setelah itu ia menghadap ke arahku dan melempar senyum yang memesona. Aku tambah gugup. Ia merentangkan tangan, dan aku mendekatinya. Belum sampai selangkah, perempuan itu menjerit ketika dari belakang muncul sesosok bayangan lelaki. Kemudian mendadak semuanya buyar ketika terdengar suara denging keras di telingaku. Kriiing!
Di depanku tidak ada lagi seorang perempuan berleher jenjang, melainkan komputer, mos, dan kibor. Rupanya, barusan aku tertidur, karena hari sudah malam jarang ada pelanggan yang menelepon. Dan sekarang, dari perangkat jemala yang kukenakan terdengar suara lelaki paruh baya yang memaki-maki. Ia menuntut ganti rugi, karena ia kecewa atas pelayanan perusahaan yang amat lambat. Ia terus bicara hingga tak ada kesempatan untukku menyela. Oleh karenanya aku memilih diam, sementara ia terus bicara.
"Saya mau ganti rugi!" kata seorang pelanggan yang berada nun jauh di sana.
Dengan hati-hati aku menjelaskan nominal uang transfer yang pelanggan minta sebulan lalu dengan jumlah cukup besar, lima ratus lima puluh lima juta rupiah. Namun, pelanggan melaporkan bahwa uang tersebut belum sampai kepada penerima yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia, dimana penerima tersebut -- gara-gara lamanya pengiriman -- membatalkan kontrak bisnis yang sudah tersusun sedemikian rapi.
Aku juga menerangkan bahwa status pengirimannya masih "in progress". Saat keterangan itu pelanggan dengar, seketika kemarahannya menjadi-jadi, seperti kobaran api yang kian ganas membakar dan melumat gedung padahal sudah petugas pemadam kebakaran semprot air. Karena air itu tidak mengenai sumber api maka tak urung kian menjalar. Aku pun meminta maaf atas ketidaknyamanan pada pelanggan, dan berkata bahwa permintaan pelanggan akan secepatnya aku proses.
"Loh, saya ini sudah mengalami kerugian besar," kata pelanggan dengan logat Madura yang kental, "kok masih mau diproses? Orangnya sudah membatalkan kontrak bisnis dengan saya. Kamu ini paham tidak masalah saya?"
"Baik, Pak," jawabku dengan dada berdegub tak karuan, "saya paham yang Bapak rasakan saat ini. Namun beri kami kesempatan untuk menyelesaikan masalah Bapak Kacung."
"Waduh," kata pelanggan yang di data rekeningnya beralamat di Jakarta Timur, "kamu ini bagaimana? Masalah saya ini sudah selesai dan itu kalian yang menyebabkan itu terjadi. Lambaaat sekali pengirimannya!"
Aku pun mencoba mengelak anggapannya, bahwa maksudku bukan mempercepat pengiriman uang ke rekan bisnisnya yang berada di negeri jiran. Melainkan, membantu memproses supaya uang ganti rugi akan secepatnya pelanggan terima.
"Begini, Pak Kacung," kataku mencoba tenang.
"Iya, bagaimana?"
"Kami bantu untuk permintaan ganti ruginya."
"Kamu benar ingin membantu ganti rugi?" tanyanya setengah meragukan, "kamu tidak memberi harapan palsu lagi, kan?"
"Tidak, Pak," jawabku walau aku agak ragu juga, tetapi mau bagaimana pun aku harus memberikan jawaban yang terang -- minimal dapat mempersingkat durasi panggilan. Karena perusahaan mematok maksimal durasi panggilan hanya sepuluh menit, sementara durasi panggilanku sudah sampai di menit ketiga puluh sehingga team leader memperingatkan supaya cepat kuselesaikan.
"Awas," katanya memberi peringatan, "kalau lambat lagi, akan kulaporkan ke media massa!"
Setelah panggilan Bapak Kacung itu berakhir, aku mendapat panggilan dari team leader, orang yang membawahi beberapa agen call center. Ia memintaku menemuinya. Saat menghadap lelaki berpakaian kasual itu, ia memarahiku habis-habisan. Pertama, karena durasi panggilanku mencapai satu jam lebih sehingga mengakibatkan panggilan-panggilan dari pelanggan lain tidak terangkat. Kedua, karena aku sudah berkata akan menjanjikan membantu ganti rugi.
Nah, untuk yang pertama aku sampaikan bahwa pelanggan ingin mendapat penjelasan serinci mungkin sehingga butuh waktu lebih untuk mengecek seluruh data, analisa, dan berulang-ulang menerangkan sampai berbusa-busa. Kedua, pelanggan merasa rugi karena lambatnya pengiriman uang yang seharusnya bisa semenit sampai.
Kemudian team leader itu memberiku surat peringatan, karena aku tak mematuhi aturan perusahaan. Dengan langkah lemas dan gontai aku menuju meja kerjaku. Duduk sembari memandangi surat peringatan itu, aku teringat mimpi tadi. Perempuan dalam mimpi itu mirip sekali dengan seorang perempuan berleher jenjang yang kutemui tempo hari. Seketika timbul rasa penyesalan ketika mengingat perempuan itu. Aku mengutuk diriku sendiri yang tak sigap dan terlalu banyak pertimbangan.
"Dasar, bodoh!"
**
Suatu hari saat keluar dari minimarket, ada seorang perempuan yang mengikuti aku dari belakang. Ketika ia berada di sampingku, kulihat wajahnya penuh gelisah. Dari gerak-geriknya pun sepertinya ia ingin menyapa aku, namun ada sebuah beban yang menahannya untuk melakukannya. Tergurat dari raut muka, bibir, dan alisnya. Maka, aku pun mencoba mengajaknya bicara dulu, basa-basi, dan mengarahkannya duduk di kursi depan minimarket karena kulihat ia amat kelelahan.
Rupanya, perempuan berkulit sawo matang dan berleher jenjang ini berasal dari Surakarta. Ia pergi ke Semarang karena suatu alasan yang amat sukar ia jelaskan dengan terang. Kalau terpaksa harus menjawab, perempuan yang memiliki bibir tipis dengan permukaan yang merekah itu hanya mengucapkan, "pokoknya begitulah, Mas." Namun aku terkejut ketika ia tiba-tiba meminta tolong supaya aku membawanya ke tempat yang jauh, kalau bisa siapapun tak ada yang tahu. Jujur, aku merasa terkejut, karena perawakannya seperti perempuan yang terpelajar tapi bisa secepat itu percaya denganku.
"Ada apa ya, Mbak?"
"Tidak bisa kujelaskan di sini, Mas," katanya dengan gugup.
"Hmm," aku berdeham dan dahi mengernyit. Sebenarnya aku ingin menolongnya, tetapi aku ingat bahwa dua jam lagi jadwalku kerja. Kalau aku mengantarkannya ke tempat, yang aku pun belum terpikirkan dimana, pasti bakal terlambat. Misal aku membantunya, maka sepucuk surat peringatan sudah melambai-lambai menantiku. Namun sekali lagi, ya, sekali lagi, aku memperhatikannya dan menggali alasan penguat di setiap gurat wajahnya yang mengundang rasa sayang dan belas kasih itu.
"Bagaimana, Mas?" tanyanya lagi, berusaha mengejarku.
"Baiklah," kataku kemudian, "Mbak, kalau tidak keberatan aku bisa mengantar cuma sampai taman dekat kantorku, di sana ada warung dan kedai kopi, lokasinya cukup menjorok dari jalan raya dan jarang ada lalu lalang orang. Mbak bisa memesan makanan dan minuman apa saja sembari menunggu aku selesai kerja, setelah itu aku akan mengantarkan ke tempat yang Mbak inginkan. Bagaimana?"
Perempuan itu mengangguk. Kami pun beranjak ke taman dekat kantor. Dari kaca spion, aku melihat wajahnya yang penuh kecemasan, sepanjang jalan ia melihat ke samping kanan dan kiri, entah apa yang ia cari. Hanya, sekarang yang memenuhi pikiranku adalah bagaimana mengantarkannya ke taman dan aku tidak terlambat sampai kantor.
**
Pukul 21.15 selepas kerja, sejurus aku membandang sepeda motorku menuju taman. Setelah memarkirkan sepeda motor, aku menyusuri dari warung ke warung. Pandanganku menyapu ke semua sudut, tak kulihat dan tak kutemukan perempuan berleher jenjang tadi. Aku pun bertanya ke beberapa penjual yang ada di sana, sebagian dari mereka mengatakan tidak tahu. Namun tiba-tiba ada lelaki paruh baya yang menghampiriku, mungkin karena ia melihat gelagatku yang sedari tadi mencari-cari seseorang.
"Mas, lagi mencari perempuan tinggi yang tadi di sini?" kata penjual kebab.
"Betul, Pak," jawabku, "bapak tahu kemana ia sekarang?"
"Aku tidak tahu, Mas," ujarnya, "tapi tadi ada lelaki pakai mobil Mercy kesini. Kalau tidak salah lihat, lelaki itu sepertinya menjemput paksa perempuan tinggi yang Mas cari-cari. Sempat terjadi perkelahian kecil antara si lelaki dengan Mbaknya itu. Si Mbak menolak diajak masuk mobil, lalu lelaki itu menampar si Mbak. Nampaknya urusan rumah tangga Mas, karena sesekali terdengar lengking suara anak, asuh, dan cerai dari Mbaknya. Tapi tak jelas masalah sebenarnya bagaimana, karena si lelaki pun tak menanggapi sama sekali bentakan si Mbak. Kemudian lelaki itu menggelandang Mbaknya masuk mobil, lalu giliran lelaki itu masuk dari sisi sebaliknya. Mobil Mercy itu menggerung-gerung tak berirama, lalu beranjak dari taman, belok ke kiri entah menuju kemana."
"Kok ada yang tidak tahu ya, Pak?"
"Karena kejadiannya sore tadi persis setelah si Mbaknya makan kebab bikinanku," ujarnya, "nah, penjual-penjual yang Mas tanyain tadi dia baru buka setelah kejadian."
Aku sejenak terdiam.
"Si Mbak tadi saudaranya, Mas?" tanyanya dan belum aku jawab kemudian ia menyambung, "sayang ya Mas, cantik-cantik tapi dapat perlakuan kasar. Tadi aku sudah gregetan sekali ingin menghajar si lelaki itu. Eh, mentang-mentang orang kaya terus bisa seenaknya memperlakukan perempuan. Tidak terima aku! Tapi apalah daya, nanti aku dapat anggapan mencampuri urusan rumah tangga orang lain, atau mau merebut istri orang."
Mendadak aku merasa cemas, entah kecemasan macam apa ini, padahal aku tak sama sekali mengenal perempuan itu dan aku tak punya hubungan apapun dengannya -- apalagi hubungan kerja. Aku belum mampu berkata apa-apa lagi pada bapak penjual kebab di depanku. Pandanganku masih saja terpaku pada jalan keluar taman. Membayangkan bagaimana lelaki itu memperlakukan perempuan berleher jenjang itu dan mengira-ngira ke mana mereka pergi. Apakah si lelaki itu memboyongnya Surakarta? Atau, kemana? Aku tidak tahu. Kemudian aku berbalik menghadap pada bapak penjual kebab.
"Pak," kataku, "terima kasih, ya."
Kemudian aku menuju warung kopi yang dekat dengan pancuran dan kolam taman. Sambil menikmati kopi yang pahit, aku memandang beberapa ikan yang bergerak ke sana ke mari di dalam kolam taman, entah kegelisahan apa yang menyertai dalam benak ikan-ikan itu. Padahal hari sudah malam, biasanya ikan bersembunyi di sudut kolam untuk tidur walau mata mereka tak pernah terpejam.
Beberapa saat kemudian aku membuka gawai dan melihat-lihat beranda medsos. Sejurus pandanganku tertumbuk pada unggahan akun @mediainfosemarang yang memberitakan bahwa ada seorang perempuan tinggi dan berleher jenjang mengapung di atas kali Banjir Kanal Barat dan menduga pelakunya menggunakan mobil hitam berplat AD sesuai kesaksian orang di sekitar lokasi.
Beberapa saat kemudian aku membuka gawai dan melihat-lihat beranda medsos. Sejurus pandanganku tertumbuk pada unggahan akun @mediainfosemarang yang memberitakan bahwa ada seorang perempuan tinggi dan berleher jenjang mengapung di atas kali Banjir Kanal Barat dan menduga pelakunya menggunakan mobil hitam berplat AD sesuai kesaksian orang di sekitar lokasi.
Semarang, 12 Agustus 2020
Sumber gambar: popbela.com
0 Komentar