![]() |
| Dok. Istimewa |
Cerpen Much Taufiqillah Al Mufti
Pak Halim melambatkan mobil yang ia kendarai ketika menjelang sampai persimpangan jalan antara belok kanan melewati bypass atau lurus tembus pasar Krian. Pikirannya tak karuan setelah menghadiri rapat bersama kepala sekolah se-Jawa Timur yang diadakan di kantor dinas pendidikan. Seperti berada di persimpangan jalan yang hendak akan ia lalui, hasil rapat tadi membuat ia berada dalam pilihan yang rumit.
Akhirnya Pak Halim tetap melaju, lurus, melewati pasar Krian. Pak Halim lupa bahwa jalan tersebut padat akan kendaraan, bus, truk, elf, mobil, dan motor. Sehingga ia terjebak macet yang tiada terkira panjangnya. Saat itu sudah sore, tak tahu jam berapa ia akan sampai di Jombang -- tempatnya tinggal. Padahal, selepas Magrib ia harus mengasuh pengajian di masjid di dekat rumahnya.
Masjid sudah riuh jamaah. Sebagian jamaah ibu-ibu mengibas-ngibaskan ujung jilbabnya karena panas berdesak-desakan. Sementara sebagian pemuda duduk di sekitar teras dan taman masjid sembari menyesap rokok. Ketika Pak Halim datang dengan setengah tergopoh-gopoh, riuh jamaah yang bagai suara tawon mendadak hening seketika. Di hadapan jamaah, Pak Halim memohon maaf atas keterlambatannya, karena tadi terjebak macet usai pulang rapat dengan kepala sekolah di Surabaya. Sebagian jamaah mengangguk, dan sebagian lainnya saling berpandangan lalu berbisik-bisik -- entah apa yang mereka percakapkan.
Usai memberikan ceramah dan pengajian kitab, Pak Halim pulang ke rumah. Ia disambut oleh Bu Farida, istrinya, yang sudah menyiapkan segelas teh hangat tanpa gula. Pak Halim tersenyum ketika Bu Farida mencium tangannya, kemudian mengelus-elus kepalanya. Kemudian Bu Farida mendongak dan menatap mata suaminya yang tak seperti biasanya. Ada gurat-gurat pada wajah suaminya yang membuatnya menaruh prasangka dan tanda tanya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang keluar, kecuali pelukan erat Bu Farida yang membuat dada Pak Halim bergetar.
"Matur nuwun, Dek," kata Pak Halim.
"Nggalih napa ta, Mas?" tanya Bu Farida.
Tak menjawab Pak Halim hanya tersenyum.
"Pasti karena rapat tadi, kan, Mas?" kejar Bu Farida.
Pak Halim masih diam, lalu perlahan melangkah menuju meja makan, dan duduk. Bu Farida turut mengikuti, duduk di samping suaminya. Pak Halim membuka penutup gelas, kemudian menyeruput teh hangat tanpa gula yang sudah disajikan untuknya selepas mengaji. Ada ketenangan ketika hangatnya teh terasa di dada, namun saat gelas itu ia letakkan lagi timbul kebimbangan yang menyeruak seperti riak teh yang samar.
"Kalau hasil rapat tadi baik," ucap Pak Halim, "insyaallah sekolah kita bisa mengikuti."
Dengan mencoba tenang, Pak Halim menjelaskan hasil rapat tadi dengan lebih rinci. Bahwa pemerintah pusat memberlakukan ujian nasional, dimana kelulusan siswa ditentukan pada hasil ujian tersebut. Pak Halim juga menjelaskan berapa standar nilainya, sistem penilaiannya, pelaksanaan ujiannya, soal ujiannya yang diacak, dan pengawas yang diambil dari luar sekolah. Mendengar penjelasan suaminya, Bu Farida sejurus menangkap kecemasan yang terpacak pada raut suaminya.
"Apakah murid-murid kita mampu, Mas?" tanyanya Bu Farida spontan.
Pak Halim tidak menjawab, diam, dan hanya tersenyum. Kemudian ia beranjak lalu berjalan menuju kamar. Dan Bu Farida menyusulnya dari belakang. Mereka berdua meneggelamkan diri dalam kehampaan, melupakan sejenak perkara dunia yang tak berkesudahan, dan supaya malam yang seolah tak memiliki ujung itu segera terlewatkan. Berganti pagi yang cerah, embun jernih di atas bunga yang merekah, dan burung-burung yang bersiul ramah.
**
Hasil try out sudah keluar, namun tidak ada separuh siswa yang memenuhi standar nilai. Bukan berarti mereka tidak belajar, tetapi pemahaman mereka yang terbatas -- untuk tidak mengatakan bodoh. Pak Halim sudah berupaya mengadakan jam tambahan untuk siswa kelas tiga, bahkan guru dari lembaga privat terkemuka sudah ia datangkan, tetapi siswa-siswinya masih belum mampu mengejar.
Tak henti-hentinya Pak Halim menasehati siswanya supaya belajar lebih giat, dari cara yang halus dan paling kasar. Tak tanggung-tanggung, Pak Halim mengeluarkan ultimatum kepada siswanya yang kedapatan bermain-main saat jam sekolah akan ia keluarkan. Kebijakan Pak Halim sempat ditentang oleh komite sekolah karena akan memperburuk mental siswa. Setidaknya, ada cara lain yang lebih baik dan mengena. Namun, Pak Halim tetap bersikukuh.
Pak Halim tidak ingin menyerah dan mengikuti pola sekolah-sekolah lain yang akhirnya menyerah pada keadaan, dimana sekolah tersebut lebih memilih mencari kunci jawaban -- baik dengan cara memesan pada lembaga privat ataupun membobol soal ujian sebelum dikerjakan siswa. Bagi sekolah tersebut, cara ini satu-satunya untuk menyelamatkan lembaga mereka dari kepunahan. Karena apa jadinya bila tersiar kabar bahwa di sekolah mereka terdapat siswa yang tidak lulus?
Apalagi sekolah yang dipimpin Pak Halim sendiri merupakan sekolah agamis, dimana nilai-nilai diajarkan dan diamalkan secara ketat di sana. Lantas, apa jadinya bila sekolah tersebut malah memberikan bocoran jawaban kepada siswanya? Bukankah itu jauh dari semangat nahi-mungkar yang acap Pak Halim dengungkan selama ini? Hanya, kian mendekati hari ujian nasional, bukan malah semakin siap, Pak Halim diam-diam menyimpan kebimbangan dan keraguan. Kebimbangan itu seperti ngengat yang semakin kesini, semakin menggerogoti kesehatannya.
Pada hasil try out terakhir masih tidak ada separuh siswa yang lulus. Hanya beberapa saja yang nilainya memenuhi. Pikir Pak Halim, kalau hal ini dibiarkan besar kemungkinan separuh bahkan lebih dari siswanya akan tidak lulus.
"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Bu Farida.
Pak Halim diam sejenak, kemudian berkata.
"Ada," kata Pak Halim, "aku akan mengeluarkan salah satu siswa supaya bisa memberi pelajaran pada siswa lain."
Bu Farida menatap cemas suaminya yang semakin kurus, pipinya terlihat kopong, dan urat-urat di tangannya mulai menonjol.
"Mas, kenapa kamu buru-buru bersikap seperti itu?" tanya Bu Farida, "aku melihat kamu itu terus-menerus berpikir. Makan semakin jarang. Kalau kamu tergesa-gesa seperti itu, bukan malah semakin tenang, kamu akan semakin cemas. Tambah sakit. Lama-lama tubuhmu digerogoti seperti yang ngengat lakukan pada kayu, kertas, dan pakaian."
Pak Halim hanya diam, menunduk, dengan dahi mengernyit. Sepertinya, ia merenung-renungi perkataan istrinya.
"Mas," lanjut Bu Farida, "perkara ujian nasional bukan untuk saat ini saja, tahun ini saja, tetapi tahun depan juga akan ada lagi. Apakah kamu akan terus-menerus cemas seperti ini?"
Kemudian Pak Halim mendongak dan memandang istrinya.
Benar kata istrinya, bahwa perkara ujian nasional tidak untuk tahun ini saja. Tahun-tahun besok pun ada ujian nasional, kecuali ada suatu keadaan darurat yang menimpa negeri ini entah perang entah wabah sehingga ujian nasional ditiadakan, tetapi tidak mungkin mengharap apalagi menunggu keadaan yang hampir tidak pasti itu. Ditambah, Pak Halim tidak menjabat kepala sekolah untuk satu tahun saja, masih bertahun-tahun lagi sampai ada guru yang mumpuni menggantikan posisinya. Hanya saja, bagaimana caranya mengatasi ini?
**
Di sekolah ada seorang siswa bernama Fajar. Ia seorang siswa yang cerdas, nilainya setiap try out selalu memenuhi standar. Kepada teman-temannya ia terbilang baik tetapi pendiam. Tidak sombong tetapi kurang supel. Pintar tetapi tidak mahir merangkai kata-kata. Pak Halim tahu, bahwa Fajarlah orang yang membantu teman-temannya bisa mengerjakan try out dengan hasil yang baik. Pendek kata, Fajarlah orang yang acap menyebar contekan kepada teman-temannya. Suatu sikap Fajar yang di luar dugaan dari perilaku sehari-harinya di sekolah.
Belum tuntas menemukan cara supaya siswa-siswinya dapat lulus semua, sekarang sudah bertambah masalah lagi. Terkadang Pak Halim merenung, mengapa orang seperti Fajar bisa berbuat seperti itu? Sempat terpikir dalam benak Pak Halim, mungkin temannya yang memaksa Fajar memberikan contekan. Kalau misal ini benar, Pak Halim tak akan menyeterap Fajar dan temannya. Atau, bisa jadi Fajarlah yang sukarela memberikan jawaban.
**
Selepas bel istirahat berbunyi, Pak Halim memanggil Fajar ke ruangannya. Ia hendak menyidang Fajar yang ketahuan dengan nyata telah memberikan jawaban kepada teman-temannya -- sesuatu yang menjadi larangan keras di sekolah apalagi bagi kelas III. Ketika Fajar tiba, ia membuka pelan-pelan pintu, kemudian berdiri di depan kepala sekolahnya. Pak Halim hanya melihat dan memberi isyarat kepadanya untuk duduk. Siswanya itu pun menggeret kursi agak ke belakang, duduk, kemudian menundukkan pandangannya. Lantas Pak Halim menghentikan tiknya di atas kibor komputer, lalu memandang Fajar dengan tatapan seorang bapak.
Lebih dari sekadar ingin menyidang, Pak Halim ingin tahu sesuatu yang melatarbelakangi Fajar nekat menyebar jawaban kepada temannya, padahal ia tahu bahwa ketahuan memberikan contekan bisa dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, Pak Halim juga tahu, Fajar salah satu siswanya yang tertib dan patuh pada aturan sekolah. Dari awal masuk sampai sekarang belum pernah ia terlambat datang, kecuali pada saat bapaknya kecelakaan, ia ikut mengantar sampai rumah sakit, dan setelah itu jam 10:00 ia baru tiba di sekolah. Itupun kalau ia tidak ditanya pasti sudah diseterap.
Mungkin, ada sekitar lima menit, keduanya cuma diam. Setelah itu Pak Halim membuka percakapan.
"Jar," ucap Pak Halim, "kulihat nilaimu dari beberapa kali try out ini selalu lulus."
"Iya, Pak," sahut Fajar masih menundukkan pandangannya.
"Aku mau bertanya," kata Pak Halim, kemudian memperbaiki posisi duduknya.
"Baik, Pak?"
"Apakah benar kamu memberikan contekan kepada teman-teman pada saat try out terakhir?"
Fajar mengangguk berat.
"Benar?"
Fajar mengangguk lagi.
"Kamu tahu memberikan contekan itu larangan keras sekolah?"
"Iya, Pak."
"Lalu, kenapa kamu memberikan jawaban kepada teman-temanmu?"
Mendengar itu, Fajar memandang kepala sekolahnya. Pak Halim pun terkesiap menantikan jawaban dari siswanya. Jawaban yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh Pak Halim diam-diam.
"Kita ingin lulus bareng, Pak."
Sejenak Pak Halim tertegun mendengar kata "kita" yang dilontarkan Fajar. Sebuah kata yang ringkas namun menangkup banyak sekali pengertian itu. Kata yang hampir tidak pernah terdengar oleh Pak Halim, apalagi pada rapat di dinas pendidikan beberapa waktu lalu. Kemudian Pak Halim pun tersenyum, sementara Fajar masih memandang kepala sekolahnya dengan tanda tanya.
Semarang, 23 Agustus 2020
Akhirnya Pak Halim tetap melaju, lurus, melewati pasar Krian. Pak Halim lupa bahwa jalan tersebut padat akan kendaraan, bus, truk, elf, mobil, dan motor. Sehingga ia terjebak macet yang tiada terkira panjangnya. Saat itu sudah sore, tak tahu jam berapa ia akan sampai di Jombang -- tempatnya tinggal. Padahal, selepas Magrib ia harus mengasuh pengajian di masjid di dekat rumahnya.
Masjid sudah riuh jamaah. Sebagian jamaah ibu-ibu mengibas-ngibaskan ujung jilbabnya karena panas berdesak-desakan. Sementara sebagian pemuda duduk di sekitar teras dan taman masjid sembari menyesap rokok. Ketika Pak Halim datang dengan setengah tergopoh-gopoh, riuh jamaah yang bagai suara tawon mendadak hening seketika. Di hadapan jamaah, Pak Halim memohon maaf atas keterlambatannya, karena tadi terjebak macet usai pulang rapat dengan kepala sekolah di Surabaya. Sebagian jamaah mengangguk, dan sebagian lainnya saling berpandangan lalu berbisik-bisik -- entah apa yang mereka percakapkan.
Usai memberikan ceramah dan pengajian kitab, Pak Halim pulang ke rumah. Ia disambut oleh Bu Farida, istrinya, yang sudah menyiapkan segelas teh hangat tanpa gula. Pak Halim tersenyum ketika Bu Farida mencium tangannya, kemudian mengelus-elus kepalanya. Kemudian Bu Farida mendongak dan menatap mata suaminya yang tak seperti biasanya. Ada gurat-gurat pada wajah suaminya yang membuatnya menaruh prasangka dan tanda tanya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang keluar, kecuali pelukan erat Bu Farida yang membuat dada Pak Halim bergetar.
"Matur nuwun, Dek," kata Pak Halim.
"Nggalih napa ta, Mas?" tanya Bu Farida.
Tak menjawab Pak Halim hanya tersenyum.
"Pasti karena rapat tadi, kan, Mas?" kejar Bu Farida.
Pak Halim masih diam, lalu perlahan melangkah menuju meja makan, dan duduk. Bu Farida turut mengikuti, duduk di samping suaminya. Pak Halim membuka penutup gelas, kemudian menyeruput teh hangat tanpa gula yang sudah disajikan untuknya selepas mengaji. Ada ketenangan ketika hangatnya teh terasa di dada, namun saat gelas itu ia letakkan lagi timbul kebimbangan yang menyeruak seperti riak teh yang samar.
"Kalau hasil rapat tadi baik," ucap Pak Halim, "insyaallah sekolah kita bisa mengikuti."
Dengan mencoba tenang, Pak Halim menjelaskan hasil rapat tadi dengan lebih rinci. Bahwa pemerintah pusat memberlakukan ujian nasional, dimana kelulusan siswa ditentukan pada hasil ujian tersebut. Pak Halim juga menjelaskan berapa standar nilainya, sistem penilaiannya, pelaksanaan ujiannya, soal ujiannya yang diacak, dan pengawas yang diambil dari luar sekolah. Mendengar penjelasan suaminya, Bu Farida sejurus menangkap kecemasan yang terpacak pada raut suaminya.
"Apakah murid-murid kita mampu, Mas?" tanyanya Bu Farida spontan.
Pak Halim tidak menjawab, diam, dan hanya tersenyum. Kemudian ia beranjak lalu berjalan menuju kamar. Dan Bu Farida menyusulnya dari belakang. Mereka berdua meneggelamkan diri dalam kehampaan, melupakan sejenak perkara dunia yang tak berkesudahan, dan supaya malam yang seolah tak memiliki ujung itu segera terlewatkan. Berganti pagi yang cerah, embun jernih di atas bunga yang merekah, dan burung-burung yang bersiul ramah.
**
Hasil try out sudah keluar, namun tidak ada separuh siswa yang memenuhi standar nilai. Bukan berarti mereka tidak belajar, tetapi pemahaman mereka yang terbatas -- untuk tidak mengatakan bodoh. Pak Halim sudah berupaya mengadakan jam tambahan untuk siswa kelas tiga, bahkan guru dari lembaga privat terkemuka sudah ia datangkan, tetapi siswa-siswinya masih belum mampu mengejar.
Tak henti-hentinya Pak Halim menasehati siswanya supaya belajar lebih giat, dari cara yang halus dan paling kasar. Tak tanggung-tanggung, Pak Halim mengeluarkan ultimatum kepada siswanya yang kedapatan bermain-main saat jam sekolah akan ia keluarkan. Kebijakan Pak Halim sempat ditentang oleh komite sekolah karena akan memperburuk mental siswa. Setidaknya, ada cara lain yang lebih baik dan mengena. Namun, Pak Halim tetap bersikukuh.
Pak Halim tidak ingin menyerah dan mengikuti pola sekolah-sekolah lain yang akhirnya menyerah pada keadaan, dimana sekolah tersebut lebih memilih mencari kunci jawaban -- baik dengan cara memesan pada lembaga privat ataupun membobol soal ujian sebelum dikerjakan siswa. Bagi sekolah tersebut, cara ini satu-satunya untuk menyelamatkan lembaga mereka dari kepunahan. Karena apa jadinya bila tersiar kabar bahwa di sekolah mereka terdapat siswa yang tidak lulus?
Apalagi sekolah yang dipimpin Pak Halim sendiri merupakan sekolah agamis, dimana nilai-nilai diajarkan dan diamalkan secara ketat di sana. Lantas, apa jadinya bila sekolah tersebut malah memberikan bocoran jawaban kepada siswanya? Bukankah itu jauh dari semangat nahi-mungkar yang acap Pak Halim dengungkan selama ini? Hanya, kian mendekati hari ujian nasional, bukan malah semakin siap, Pak Halim diam-diam menyimpan kebimbangan dan keraguan. Kebimbangan itu seperti ngengat yang semakin kesini, semakin menggerogoti kesehatannya.
Pada hasil try out terakhir masih tidak ada separuh siswa yang lulus. Hanya beberapa saja yang nilainya memenuhi. Pikir Pak Halim, kalau hal ini dibiarkan besar kemungkinan separuh bahkan lebih dari siswanya akan tidak lulus.
"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Bu Farida.
Pak Halim diam sejenak, kemudian berkata.
"Ada," kata Pak Halim, "aku akan mengeluarkan salah satu siswa supaya bisa memberi pelajaran pada siswa lain."
Bu Farida menatap cemas suaminya yang semakin kurus, pipinya terlihat kopong, dan urat-urat di tangannya mulai menonjol.
"Mas, kenapa kamu buru-buru bersikap seperti itu?" tanya Bu Farida, "aku melihat kamu itu terus-menerus berpikir. Makan semakin jarang. Kalau kamu tergesa-gesa seperti itu, bukan malah semakin tenang, kamu akan semakin cemas. Tambah sakit. Lama-lama tubuhmu digerogoti seperti yang ngengat lakukan pada kayu, kertas, dan pakaian."
Pak Halim hanya diam, menunduk, dengan dahi mengernyit. Sepertinya, ia merenung-renungi perkataan istrinya.
"Mas," lanjut Bu Farida, "perkara ujian nasional bukan untuk saat ini saja, tahun ini saja, tetapi tahun depan juga akan ada lagi. Apakah kamu akan terus-menerus cemas seperti ini?"
Kemudian Pak Halim mendongak dan memandang istrinya.
Benar kata istrinya, bahwa perkara ujian nasional tidak untuk tahun ini saja. Tahun-tahun besok pun ada ujian nasional, kecuali ada suatu keadaan darurat yang menimpa negeri ini entah perang entah wabah sehingga ujian nasional ditiadakan, tetapi tidak mungkin mengharap apalagi menunggu keadaan yang hampir tidak pasti itu. Ditambah, Pak Halim tidak menjabat kepala sekolah untuk satu tahun saja, masih bertahun-tahun lagi sampai ada guru yang mumpuni menggantikan posisinya. Hanya saja, bagaimana caranya mengatasi ini?
**
Di sekolah ada seorang siswa bernama Fajar. Ia seorang siswa yang cerdas, nilainya setiap try out selalu memenuhi standar. Kepada teman-temannya ia terbilang baik tetapi pendiam. Tidak sombong tetapi kurang supel. Pintar tetapi tidak mahir merangkai kata-kata. Pak Halim tahu, bahwa Fajarlah orang yang membantu teman-temannya bisa mengerjakan try out dengan hasil yang baik. Pendek kata, Fajarlah orang yang acap menyebar contekan kepada teman-temannya. Suatu sikap Fajar yang di luar dugaan dari perilaku sehari-harinya di sekolah.
Belum tuntas menemukan cara supaya siswa-siswinya dapat lulus semua, sekarang sudah bertambah masalah lagi. Terkadang Pak Halim merenung, mengapa orang seperti Fajar bisa berbuat seperti itu? Sempat terpikir dalam benak Pak Halim, mungkin temannya yang memaksa Fajar memberikan contekan. Kalau misal ini benar, Pak Halim tak akan menyeterap Fajar dan temannya. Atau, bisa jadi Fajarlah yang sukarela memberikan jawaban.
**
Selepas bel istirahat berbunyi, Pak Halim memanggil Fajar ke ruangannya. Ia hendak menyidang Fajar yang ketahuan dengan nyata telah memberikan jawaban kepada teman-temannya -- sesuatu yang menjadi larangan keras di sekolah apalagi bagi kelas III. Ketika Fajar tiba, ia membuka pelan-pelan pintu, kemudian berdiri di depan kepala sekolahnya. Pak Halim hanya melihat dan memberi isyarat kepadanya untuk duduk. Siswanya itu pun menggeret kursi agak ke belakang, duduk, kemudian menundukkan pandangannya. Lantas Pak Halim menghentikan tiknya di atas kibor komputer, lalu memandang Fajar dengan tatapan seorang bapak.
Lebih dari sekadar ingin menyidang, Pak Halim ingin tahu sesuatu yang melatarbelakangi Fajar nekat menyebar jawaban kepada temannya, padahal ia tahu bahwa ketahuan memberikan contekan bisa dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, Pak Halim juga tahu, Fajar salah satu siswanya yang tertib dan patuh pada aturan sekolah. Dari awal masuk sampai sekarang belum pernah ia terlambat datang, kecuali pada saat bapaknya kecelakaan, ia ikut mengantar sampai rumah sakit, dan setelah itu jam 10:00 ia baru tiba di sekolah. Itupun kalau ia tidak ditanya pasti sudah diseterap.
Mungkin, ada sekitar lima menit, keduanya cuma diam. Setelah itu Pak Halim membuka percakapan.
"Jar," ucap Pak Halim, "kulihat nilaimu dari beberapa kali try out ini selalu lulus."
"Iya, Pak," sahut Fajar masih menundukkan pandangannya.
"Aku mau bertanya," kata Pak Halim, kemudian memperbaiki posisi duduknya.
"Baik, Pak?"
"Apakah benar kamu memberikan contekan kepada teman-teman pada saat try out terakhir?"
Fajar mengangguk berat.
"Benar?"
Fajar mengangguk lagi.
"Kamu tahu memberikan contekan itu larangan keras sekolah?"
"Iya, Pak."
"Lalu, kenapa kamu memberikan jawaban kepada teman-temanmu?"
Mendengar itu, Fajar memandang kepala sekolahnya. Pak Halim pun terkesiap menantikan jawaban dari siswanya. Jawaban yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh Pak Halim diam-diam.
"Kita ingin lulus bareng, Pak."
Sejenak Pak Halim tertegun mendengar kata "kita" yang dilontarkan Fajar. Sebuah kata yang ringkas namun menangkup banyak sekali pengertian itu. Kata yang hampir tidak pernah terdengar oleh Pak Halim, apalagi pada rapat di dinas pendidikan beberapa waktu lalu. Kemudian Pak Halim pun tersenyum, sementara Fajar masih memandang kepala sekolahnya dengan tanda tanya.
Semarang, 23 Agustus 2020

0 Komentar