Cerpen Much. Taufiqillah Al Mufti

Ada sebuah pesan masuk dari akun asing bernama Naya Melankonia di kotak pesan akun medsosku. Ia menyampaikan salam, dan menanyakan kabarku. Hah, kabarku?

Agak terkejut, karena aku tidak mengenal akun tersebut. Hanya, yang aku tahu Naya Melankonia itu penulis. Tapi, apakah akun itu memang milik penulis yang pernah kubaca cerpennya di rubrik Serat? Aku pun asal menjawab saja, bahwa kabarku baik. Kemudian aku melempar pertanyaan. "Siapa?"

"Aku Kania. Lupa?"

Oh, dia bukan penulis itu. 

Tapi tunggu dulu...

Kania? Nama itu terdengar tak asing lagi, bahkan amat akrab di telingaku. Namun aku tidak buru-buru menyimpulkan bahwa ia merupakan seseorang yang kukenal dulu. Orang yang tiap pagi menjadi embunku. Bunga yang selalu kurengkuh. Puncak yang hendak kucapai. 

"Kania Rahmawati?"

"Iya," balasnya sambil membubuhkan emoticon senyum simpul. 

Hatiku berdesir.

Rupanya benar, ia memang Kania yang kumaksud. Kemudian ia menjelaskan bahwa nama Naya Melankonia merupakan nama pena. Jadi, benar. Ia memang penulis yang cerpennya pernah kubaca di rubrik Serat. Diam-diam aku tersenyum sendiri, membayangkan sosoknya, dan kenangan-kenangan yang mengekorinya. 

***

Hari sudah malam, ketika aku menunggu Kania di sebuah kafe. Sudah sejam aku menunggunya, namun Kania tak kunjung datang. Aku memilih tempat di lantai atas yang langsung menghadap dataran, rumah-rumah, dan kerlap-kerlip lampu. Sembari menanti, aku membaca buku karangan seorang penyair dari Rembang. Pandangan mataku tertumbuk pada sebuah kalimat, selain melayat kepada keluarga orang yang meninggal, kita perlu melayat keluarga orang jatuh cinta.

Ting!

Ponselku berbunyi, kemudian aku merogoh dan mengambilnya dari kantong celana. Ternyata Kania yang mengirim pesan, "Lan, aku di bawah. Kamu di mana?

"Aku di atas, Kan. Ke sini ya."

Tidak sebentar aku berhubungan dengan Kania. Perempuan yang kukenal sejak kami beradu akting dalam pentas teater Damar Wulan dan Kencana Wungu. Saat itu sang sutradara menunjuk aku memerankan Damar Wulan, sementara Kania memerankan Kencana Wungu. Mungkin karena parasnya yang elok dan alis tegasnya yang membuat ia cocok berperan sebagai Ratu Kerajaan Majapahit itu. 

Hubungan kami berlanjut. Tak hanya saat pentas di atas panggung, tapi juga setelahnya. Kami kembali jadi diri masing-masing. Aku menjadi diriku, tak lagi berpura-pura sebagai Damar Wulan yang rupawan, kuat, dan sakti. Sedangkan Kania tak lagi berperan sebagai Ratu Kencana Wungu yang disegani rakyat Majapahit.  

Tak lama setelah Kania mengirim pesan tadi, ia muncul dari belakangku. Kedatangannya mengagetkan sekali, karena tiba-tiba ia menggoncang pundakku. Aku pun terperanjak, dan sejurus menoleh ke belakang. Tahu aku kaget, Kania tertawa. 

"Aku kaget!" kataku dengan geram bercampur gemas. 

"Ha ha ha."

Kemudian ia menggeret kursi agak ke belakang lalu duduk di depanku. Ia masih saja tertawa tak berdosa. Sementara aku memandanginya dengan bibir manyun. 

***

"Sejak kapan kamu menulis?"  tulisku dalam kotak pesan medsos. 

"Bukankah dari dulu aku suka menulis?"

"Menulis status di medsos?"

"Ha ha ha. Kamu tahu saja."

Masih seperti dulu, ia suka bergurau. Jarang bisa serius. Namun aku senang, meskipun berkebalikan dengan aku yang sukar bercanda. Walaupun sekali tempo ia pernah serius, bahkan keseriusannya melebihi aku. 

Selintas ingin kembali mengulang masa-masa itu. Mengeja waktu bersama, di mana tiada hari tanpa bercakap dengannya. Namun itu tak mungkin terulang, karena aku sudah bertunangan dengan Farida. Bagaimana mungkin aku mengabaikan tunanganku? 

Aku memandang secara bergiliran pada layar ponsel dan cincin yang sudah melingkar di jari manisku. 

*** 

Seorang pelayan datang menyodorkan buku menu. Kami pun memilih menu masing-masing. Setelah itu aku menyerahkan buku menu itu ke pelayan lagi. Aku memberi kode kepada pelayan dengan mengedipkan mata. Si pelayan mengerti dan mengangguk pelan. Kemudian ia berjalan, menuju ke lantai bawah. 

Setelah beberapa saat kami ngobrol, si pelayan sudah datang lagi. Ia membawakan pesanan kami. Namun tak terlihat pesanan yang aku minta. Kemudian aku memandangnya, si pelayan menuding ke arah belakang. Rupanya, ada pelayan lagi yang ia tugasi membawakannya yang sudah bersiap di pinggir pintu. Aku pun memberinya jempol dari balik meja. 

Ketika si pelayan berlalu, giliran pelayan yang satunya menyusul. Ketika ia sudah berdiri di samping kami, ia menawarkan segelas air putih kepada Kania. Kania pun tersenyum sembari mengatupkan kedua tangannya. 

"Aku tidak haus, Mas," ucap Kania. 

"Kata Masnya," ucap si pelayan sambil menoleh ke arahku, "Mbaknya kehausan."

"Iya, Mas," sahutku, "temanku memang lagi haus. Letakkan saja gelasnya di sini."

Kemudian Kania menatap aku dengan heran. Aku pun berpura-pura tak menyadarinya dan berlagak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan setelah si pelayan meletakkan gelas tulip itu, ia berlalu. 

"Aku tidak haus lho, Lan," sergah Kania. 

Aku diam, tak langsung menjawab. Kemudian ketika ia mulai memperlihatkan kekesalannya padaku, barulah aku berkata padanya. 

"Kan, coba kamu lihat isi gelasnya."

Lalu ia mendoyongkan tubuhnya sambil menggeser kursinya maju agak ke depan. Matanya membeliak, dan berbinar-binar. 

"Aaaaah!"

***

Seperti koin, aku dengan Kania sudah seperti dua mata sisi yang saling melengkapi dan mengisi. Aku sayang dan serius ingin menjalin hubungan dengannya sampai ke jenjang pernikahan. Hanya, ada sebuah kesalahpahaman yang membuat semuanya jadi berantakan. 

Tak ada lagi yang ingin kutanyakan padanya. Sementara itu, ia terus kelihatan sedang mengetik namun tak kunjung jua muncul pesan baru. Aku merasa cukup, setelah tahu bahwa ia dalam kondisi sehat, dan punya cita-cita ingin menerbitkan novel. Katanya, novel itu mengisahkan cinta sepasang aktor dan aktris. Mereka bertemu saat memerankan lakon Ramayana. 

Aku merasa tersindir mendengarnya. Dan dalam batin aku berkata, "Cinta yang tak seiman dengan kenyataan itu tinggal buaian." 

***

"Ini cincin siapa?" katanya sambil menjumput cincin dalam gelas tulip. 

"Untuk kamu, Kan," jawabku.

"Sungguh?"

Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia pun tiba-tiba berdiri lalu memeluk aku erat-erat. 

"Kan, banyak orang lihat," kataku. 

"Biarin!" tukasnya lalu tertawa. 

***

Kania itu perempuan yang penuh semangat namun perasaannya rentan berubah karena keadaan. Dulu, aku sering katakan ingin menjalin hubungan serius dengannya. Jadi, aku mohon padanya supaya ia memberi waktu padaku untuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Termasuk saat berumah tangga nantinya. Karena gajiku saat ini masih pas-pasan. Kania pun setuju. 

Aku mulai benar-benar fokus kerja, dan sering mengambil jatah lembur -- walau sebenarnya tidak wajib. Kalau sebelumnya aku bekerja 9-10 jam sehari, sekarang bisa 12 jam! Tentu, waktu ngobrol aku dengan Kania mulai berkurang. Rupanya, bukannya kian menyemangati, justru ia merasa bahwa aku meninggalkannya. Bahkan ia mengganggap aku telah mencampakkannya. 

Padahal aku mencurahkan pikiran dan tenagaku untuk membahagiakannya kelak. Tapi, oke, aku menerima anggapan tersebut. Terlebih aku memahami karakternya yang rentan berubah seiring keadaan. Namun aku mulai merasa terganggu ketika ia sering membicarakan aku pada orang lain. Termasuk pada temanku sendiri. 

Ia mudah membuka kedok perasaannya dan melontarkannya kepada siapa saja. Bahkan tak sadar ia telah bercerita pada orang yang benci padaku. Tentu saja orang itu senang, mengipas-ngipasi, dan memanas-manasi. Karena itu ia memperoleh kesenangan. Maka, sejak saat itu Kania mulai jarang berbalas-balasan dan saling mengumpan chat denganku.

***

Setelah Kania memelukku, kemudian ia duduk kembali. Ia menatap aku lekat-lakat. Aku pun merasa malu sendiri. 

"Kania," ucapku. 

"Apa, Lan?" 

"Maukah kau menikah denganku?"

Sejurus suasana yang sebelumnya penuh obrolan dan tawa menjadi hening. Hanya diam dan mematung. Itulah yang aku dan Kania lakukan. Walau sebenarnya, kami saling bercakap-cakap dengan bahasa bisu masing-masing. Bahasa yang tak satu penyair pun mengerti.

Dan aku pun melihat Kania memakai cincin itu di jari manisnya...

Semarang, 31 Agustus 2020

Sumber gambar: wallpaperbungahd.blogspot.com