“Masak Prabu
Yudistira ksatria berdarah putih berbohong?” gumam saya saat setelah membaca Dusta
Yudistira.
Bagaimana mungkin
orang yang jujur seperti Yudistira berbohong, rasa-rasanya tidak mungkin. Namun
dalam riwayatnya Yudistira pernah hampir melepaskan kebohongan dari mulutnya.
Saat Resi Drona menghampirinya untuk meminta kepastian, apakah Aswatama,
putranya, benar mati? Kresna, sang paman, dari kejauhan memberikan bisikan
berupa arahan supaya mengiyakan agar Resi Drona patah semangat. Yudistira
bimbang antara mengikuti saran paman atau kekeh pada pendiriannya. Pada puncak
kebimbangannya Yudistira malah mengangguk dan menjawab, “benar, estiTAMA
meninggal.”
Benar gajah yang
bernama Estitama telah meninggal, Bima yang membunuhnya, namun tidak untuk
Aswatama. Resi Drona kadung panik, ia tidak bisa mendengar jelas jawaban
Yudistira. Yudistira pun karena punya sikap pantang berbohong maka ia
mengeraskan empat huruf bagian akhir nama estiTAMA. Sepenggal cerita itu yang
menjadi pemantik dalam seikat esai Dusta Yudistira; Awas, Hoax Bertakhta di Media Kita karya Achiar M Permana. Media yang
tercitra bersih bak Yudistira ksatria berdarah putih yang pantang berbohong tak
lepas dari kemungkinan menyebar berita palsu alias hoax.
Achiar memberikan
contoh seperti Clifford Michael Irving, reporter investigasi yang cukup
terkenal di Amerika Serikat. Pada 1971 Irving pernah menulis autobiografi
Howard Hughes, seorang miliuner. Irving berhasil membujuk penerbit McGraw-Hill untuk
menerbitkan dan mencetaknya. Buku itu ketahuan hoax ketika Howard Hughes tidak pernah merasa bertemu apalagi
diwawancarai oleh Irving. Irving tak hanya ketahuan melakukan wawancara
imajiner pun memalsukan dokumen miliuner itu.
27 tahun kemudian,
masih di Amerika Serikat, Stephen Glass, seorang wartawan yang tak kalah
menghebohkan menulis berita hoax. Pada
1998 Stephen Glass termuda di New
Republic saat itu membuat berita fiktif. Tak hanya sekali, Glass berulang
kali melakukan aksinya hingga 27 berita yang ia tulis di New Republic semata-mata hoax.
Nama Glass terus terngiang di jagat media sebagai pembuat hoax yang membuat Lion Gates Film
mengangkatnya menjadi film berjudul; Shattered
Glass.
Dua tahun
setelahnya barulah keluar film The Hoax yang
mengisahkan Clifford Michael Irving. Rupanya, hoax bukan permasalahan sepele hingga perlu diangkat sebagai film. Film
bisa menjadi media pendorong melawan hoax
atau justru yang memantik inspirasi orang lain melakukan hal serupa.
Semisal ketika film Crows Zero keluar, tak sedikit anak muda yang ingin meniru potongan
rambut dan perilaku Genji si tokoh utama yang berangasan.
Pada tahun 2005 di
tanah air terdapat kasus hoax, tak
tanggung-tanggung, Jawa Pos yang melakukannya. Tentu saja bukan Jawa Pos yang
mendorong membuat hoax melainkan ulah
salah seorang wartawannya. Rizal Husein namanya, ia yang membuat wawancara
khayalan dengan Wan Nooraini Jusoh, istri seorang gembong teroris, Dr. Azahari.
Kepalsuan berita Rizal terungkap ketika seorang reporter televisi swasta
nasional berhasil mendatangi Wan Nooraini yang ternyata tak bisa bicara secara
jelas. Wan Nooraini menderita kanker thyroid
yang merusak pita suaranya. Saat wawancara itu Wan Nooraini hanya
berkomunikasi dengan tulisan, padahal Rizal mengaku mewawancarai Wan Nooraini
dengan sambungan telepon.
Tulisan Achiar
tidak hendak mendorong supaya tidak percaya kepada media. Hanya ia mengimbau
supaya meningkatkan kewaspadaan dan terus memverifikasi kebenaran suatu berita.
Fatalnya, masyarakat tak telaten untuk men-cross
ceck suatu kabar benar atau tidak. Sebagian masyarakat cepat luluh-lantah
oleh gegap-gempita yang dipantik berita. Lebih parah lagi, sebagian masyarakat
tak sedikit yang hanya membaca penggalan judul tanpa membaca isinya. Mereka
terkecoh karena clickbait. Media yang
nakal memanfaatkan hal tersebut untuk mendulang pundi-pundi click.
Masyarakat yang
terperosok dalam kubangan hoax tak
mengenal tingkat pendidikan, kepangkatan, dan kesenioran. Bayangkan, sekelas
Prabowo Subianto bisa mempercayai hoax. Bagaimana
tidak? ketika Ratna Sarumpaet mengaku dihajar seseorang hampir semua orang
percaya. Foto muka lebam Ratna yang viral
di jagat maya sebagai bukti andalan. Lalu ketika Ratna berterus terang
bahwa sebetulnya foto itu diambil setelah operasi sedot minyak semua orang
terkecoh.
Nah, di sini ada
yang menarik. Orang-orang yang turut bersimpati dan mendukung Ratna justru
dianggap penyebar hoax, tetapi media
yang ramai-ramai memberitakan tak dianggap media hoax. Kembali lagi, bahwa media bak Prabu Yudistira yang pantang
berbohong.
Ada adagium Jawa
yang lumayan terkenal, aja kagetan, aja
gumunan, lan aja dumeh. Maksud dari adagium itu untuk jangan mudah terkejut
ketika ada kabar seheboh apapun. Pujangga Ronggowarsito mengingatkan, di zaman edan yang selamat hanyalah orang yang tansah eling lan waspada. Fenomena hoax yang sampai sekarang menjadi momok
adalah bagian zaman edan, di mana nek ora melu edan ora keduman.
Tak sedikit media
yang menggunakan jurus clickbait, membuat
judul sensasional, dan membelah sebuah berita menjadi bagian-bagian kecil demi
keuntungan. Pun tak sedikit orang yang demi mendapat pengakuan ikut-ikut
menyebarkannya. Bagi saya, clickbait atau
hoax hampir sama. Bedanya, kalau hoax sepenuhnya bohong, tetapi kalau clickbait tidak. Clickbait masih
ada kebenarannya, hanya tujuan penulisannya yang amat privat. Kalau tidak untuk
memprovokasi ya sekadar mendatangkan pengunjung sebanyak-banyaknya.
Pada tahun 2017 Basuki
Tjahaja Purnama atau Ahok pernah mengeluarkan pernyataan yang menohok sebagian
orang. Ahok menyatakan bahwa sebagian orang Islam ada yang memanfaatkan ayat
Quran untuk kepentingan politik. Ia menerangkan mereka biasanya menggunakan
surat al Maidah ayat 51. Padahal maksud Ahok tidak untuk memojokkan orang
Islam, melainkan mendorong untuk menilai sesuatu dari kacamata yang objektif.
Ketika potongan video Ahok di kepulauan Seribu itu tersebar, banyak media
memberitakan. Nah, di situ jurus clickbait-nya
bermain. Seperti detikcom yang memuat berita dengan judul Hakim; Ahok Merendahkan al Maidah 51. Berita ini benar, tapi
membacanya bisa memantik kemarahan.
Nah, clickbait itu seperti jurus Prabu
Yudistira membohongi Resi Drona tanpa berdusta. Ketika Resi Drona bertanya atas
nasib Aswatama pada sang ksatria berdarah putih sebagai satu-satunya orang yang
bisa di percaya dalam perang Baratayuda. Yudistira pun tetap menjawab Estitama, dengan mengecilkan volume “esti”,
dan mengamplifikasi “TAMA”. Resi Drona pun menjadi kolaps kehilangan daya,
lantas kesempatan itu Drestajumna ambil untuk menghabisinya. Dan perang
Baratayuda pun berakhir dengan kemenangan....
Pusporagan, 27
Oktober 2020

0 Komentar