
Meski lewat sehari,
namun aura Hari Santri Nasional masih terasa. Kaum sarungan yang dulu
termarjinalkan dianggap kolot dan anti-kemajuan telah mendapat tempat istimewa di
republik ini. Walau sudah tak lagi mondok, namun saya masih merasa santri. Tak
ada yang namanya “mantan santri”. Tak ada. Pencarian ilmu harus terus, bila
perlu sampai ajal menjemput. Itulah yang saya lakukan setahun ini, nyantri atau
ngaji cerpen pada Gunawan Budi Susanto atau yang akrab disapa Kang Putu.
Seorang penulis, redaktur surat kabar, dan pengelola kedai kopi.
Meskipun Kang Putu
menyebutnya “Kelas Menulis Cerpen”, tapi saya nyaman dengan menganggapnya
pengajian. Bagaimana tidak bisa saya sebut sebagai pengajian, bila metode yang
Kang Putu terapkan kurang lebih sama dengan mengaji kitab. Di pesantren salaf
atau kuno ada dua metode pengajaran; bandongan dan sorogan. Metode bandongan
menitikberatkan pada penuturan guru, sementara santri menyimak dari awal sampai
akhir. Tak ayal, dalam metode ini santri kerap mengantuk bahkan ngiler (saya
termasuk yang sering tidur saat ngaji). Walau begitu, sengantuk-ngantuknya
santri saat mengaji tetap akan mendapat barokah. Barokah dari kiai, pun dari
kitabnya.
Sementara metode
sorogan lebih menitikberatkan pada santri. Santri yang membaca kitab, sedangkan
guru menyimak bacaannya. Kalau ada yang salah guru akan membetulkan. Kalau
benar biasanya guru cukup mengangguk atau menyahut “benar”. Kendati ada kamus
dan kaidah bahasa, tapi tidak sesuai dengan siya’ul
kalam atau konteks kalimat, maka akan salah. Saya yang paling sering
kepeleset-peleset masalah ini, untung guru saya cukup sabar. Nah, metode
sorogan inilah tak mungkin membuat santri mengantuk – apalagi tidur. Pikirannya
terus bekerja untuk memahami kalam demi kalam.
Di antara dua
metode pembelajaran pesantren itu, Pengajian Cerpen Kang Putu menerapkan metode
sorogan. Sebelumnya, saya tidak pernah mengikuti kelas menulis apapun kecuali
diklat jurnalistik di kampus – itu pun tak sampai rampung (haha). Saya tak
punya perbandingan dengan kelas menulis lain. Kalau pun toh ada metode lain, metode
sorogan yang Kang Putu terapkan saya rasa amat efektif.
Nah, emang
bagaimana sistem Pengajian Cerpen Kang Putu yang menerapkan sorogan?
Kang Putu
menganjurkan kepada peserta kelas untuk membawa cerpen, lantas meminta salah
satu peserta membacakan dan bersama-sama membedahnya. Walau pada pertemuan
pertama Kang Putu lebih banyak bercakap sekadar memberi pengantar supaya tak
kesasar. Setelah itu Kang Putu jarang sekali mendominasi kelas, ia menyimak
peserta membaca cerpen. Ia membiarkan antarpeserta mengomentari karya
masing-masing, lalu ketika perdebatan sudah meruncing ia mengambil peran
menengahi. Sesekali ia membuka buku tebal, tesaurus, dengan logo Djarum,
sebagai pijakan. Tak ada satu pun karya peserta yang menurut Kang Putu tidak
bermutu. Hanya, ia mengomentari pada tatabahasa dan nalar cerita. Dua hal itu
yang juga saya kepeleset-peleset.
Pengajian Cerpen
Kang Putu tak sesakral pengajian kitab di pesantren. Tak ada tawassul dengan pengarang cerpen yang
telah mendahului sebelum kelas berlangsung, semisal ilahadlrati ila ruhi Pramoedya Ananta Toer, al Fatihah.... Kang Putu pun tak berbusana ala kiai pada umumnya
yang bersahaja dan menebar aroma parfum melati. Kadang Kang Putu kaosan, kadang
sarungan, dan kadang pula pecian. Tak urung peserta pun tak tertuntut
berpenampilan formal. Hanya saya yang berlagak formal dan sok rapi, karena sekalian berangkat kerja. Walau tak sesakral
mengaji kitab sungguhan, tetapi nuansanya lekat dengan pesantren. Tidak ada
jarak antara kiai dengan santri, samahalnya Kang Putu tak berjarak dengan
peserta. Ia tak jaim dan jual mahal.
Apalagi Pengajian
Cerpen Kang Putu berlangsung di kedai yang ia kelola sendiri. Kedai yang
berbentuk tradisional, tak ada semen kecuali plesteran di lantai dan toilet di
pojok. Tiangnya terbuat dari bambu, atapnya dari rumbia, buah maja bergelantung
di atas, dan banyak lukisan tergantung. Kedai Kang Putu, begitulah namanya,
mengingatkan saya pada pesantren di Pare, Kediri. Asrama santri berbentuk gubug
yang sepenuhnya terbuat dari bambu. Saking tradisionalnya, tak tersedia toilet
untuk membuang air kecil dan ampas. Kalau sudah kebelet, bisa merapat ke sungai
dekat pesantren. Jujur saja, tak kurang dari seminggu saya sanggup bertahan
dengan siksa pedih itu. Eit! bukan lantaran
penyediaan sarananya, melainkan tubuh saya yang tak kuat menerjang demam.
Kondisi lingkungan
yang tenang, di mana lokasi kedai di Gunung Pati, jarang sekali lalu lalang
kendaraan, apalagi bentuk kedai yang tradisional, membuat suasana Pengajian
Cerpen Kang Putu kian khusyuk. Tempat juga tak perlu menyewa, apalagi membayar
mentor, membuat peserta bisa berjam-jam menghabiskan seluruh harinya menyuntuki
cerpen dan ngobrol ngalor-ngidul bersama
Kang Putu dengan segudang cerita proses kreatifnya. Saya acap kali larut dengan
cerita Kang Putu, terutama saat kuliah di Universitas Diponegoro. Lebih-lebih
kalau Kang Putu sudah bercerita mendiang Gus Dur, tentang pengalamannya meliput
acara NU dengan sambutan Gus Dur yang satir, dan sulitnya mencerna isi sidang NU
yang menggunakan bahasa Arab.
Muslih-Dwi Cipta-Kang Putu
Kalau boleh
menyebut sanad atau riwayat, saya mengenal Kang Putu dari teman saya bernama
Muslih, seorang pebisnis yang kini sibuk beraktivis. Di masa awal menjabat di
PC PMII Surabaya saya merasa butuh angin segar untuk organisasi, supaya lebih
tajam dalam gerakan. Saya mengontak Muslih yang kuliah di Jogja. Ia mengajak
saya menginap di kontrakannya. Ternyata kontrakan tersebut lebih tepat disebut
sebagai “kantor”. Di sana orang-orang Gerakan Literasi Indonesia (GLI)
menyibukkan diri, menjalankan roda organisasi. Muslih mengenalkan saya dengan
Dwi Cipta, tetua sekaligus senior di kantor itu. Ngobrol dengan Dwi Cipta saya
nyambung, kok menarik gagasannya.
Dari Dwi Cipta saya
baru mengenal dengan Kang Putu. Saat itu ia menunjukkan berkas lunak yang
berisi wawancara Kang Putu padanya. Dalam wawancara itu tertuang bagaimana
sosok seorang Dwi Cipta yang semula bergiat dalam dunia sastra kemudian nyemplung ke dunia gerakan. Dwi Cipta
menampik paham developmentalisme bahwa segala bidang tidak saling terkait harus
dilakukan sendiri-sendiri, sesuai porsinya. Misal, penulis ya tugasnya menulis
saja, sampai mati ya menulis. Baginya, manusia yang teranugerahi akal budi bisa
melakukan berbagai hal dan tak terkungkung satu bidang saja.
Mulailah saya
iseng-iseng cari nama Kang Putu di pencarian Facebook, ketemulah, dan saya add akhirnya. Tak perlu waktu lama dan
Kang Putu mengonfirmasi pertemanan. Setiap hari atau nyaris setiap hari saya
bisa membaca status Kang Putu di linimasa. Saat itu saya belum terbersit
menulis cerpen, apalagi mempelajarinya. Awal mula saya tertarik menulis cerpen
ketika menuntaskan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer. “Ini tulisan kok menarik sekali ya. Tokoh aku
berperan sebagai antagonis, tapi bisa dilematis sekali, tokohnya bimbang antara
baik dan buruk,” batin saya. Kemudian saya tahu Kang Putu acap mengadakan Kelas
Membaca Pram yang dulu, kalau tidak salah, ia gelar di Kedai ABG. Pengin ikut,
apalagi novel Arok Dedes yang dibahas. Apalah daya saya masih di Surabaya, kala
itu....
Kelas yang Didamba... Tiba!
Ketika saya sudah
di Semarang saya sudah beriktikad, pokokmen
ngopi dengan Kang Putu. Tapi saya tidak punya alasan, emang ngopi bahas
apa? Jadi saya urungkan niat. Ketika Kang Putu mengunggah gelaran diskusi di
kedainya barulah saya menemu alasan. Pada malam acara itu berlangsung saya membandang
sepeda motor ke kedai dengan penuh semangat. Saat sampai tepat di depan
kedainya perasaan berbalik malu, lha
mengko meh ngobrol karo sapa? karena tentu Kang Putu sibuk melayani. Saya
pulang sambil menertawakan diri yang pengecut.
Nah, ketika Kang
Putu mengunggah tulisan di linimasa Facebook bahwa ia membuka kelas cerpen, “lha iki sing tak enten-enteni,” batin saya. Saya pun mengisi kolom
komentar ingin ikut kelas. Beberapa hari kemudian Kang Putu mengumumkan melalui
unggahannya bahwa nama-nama berikut harap ke kedai. Saya jingkrak-jingkrak saat
tahu akun Facebook saya Kang Putu mention.
Pada pertemuan atau pengajian pertama Kang Putu mulai dengan pengantar tentang
menulis. “Seorang penulis harus punya komitmen, tak hanya menulis, namun
mencipta bahasa,” ucap Kang Putu pada peserta.
Di antara peserta
itu ada Mak Mugi, Mas Fahmi, Bu Santi, Bu Renyta, dan Pak Widodo. Mereka dengan
latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang mahasiswa, ibu rumah tangga cum saudagar, guru, dan dosen. Kelas
yang saya damba-damba akhirnya tiba. Apalagi sekarang bertambah dengan
kehadiran Bu Mega, Mas Andar, Mas Saiful, Sindi, Sofia, dan Tingkar. Kelas
semakin ramai dan tentu saja semakin kaya warna cerita. Tak hanya cerita asmara
berakhir horor ala Mak Mugi atau cerita melow
ala Mas Fahmi. Kadang juga cerita petualangan Mas Andar yang nganyelke. Sungguh mengasyikkan bertemu
dengan sesama penulis, orang yang masih percaya bahwa tulisan menyimpan
kekuatan dan – agak ndakik – daya magis.
Novel “Dendam” Masuk Nominasi
Komitmen
kepenulisan Kang Putu yang pernah ia sampaikan di awal kelas, ia buktikan sampai
sekarang. Pada 21 Oktober 2020 novel Kang Putu yang berjudul Dendam meraih
nominasi anugerah penghargaan Prasidatama yang Balai Bahasa Jawa Tengah adakan.
Anugerah Prasidatama penghargaan diberikan kepada pegiat bahasa dan sastra di
Jawa Tengah. Penghargaan yang setiap tahun Balai Bahasa adakan pada bulan
Oktober sebagai Bulan Bahasa. Novel Kang Putu terpilih sebagai salah satu
nominasi novel terbaik se-Jawa Tengah. Ya
nek gurune oleh penghargaan mesti muride melu seneng.... Pepatah guru
kencing berdiri, murid kencing berlari, agaknya relevan menggambarkan suasana
ini. Tentu dengan makna sebaliknya. Hahaha....
Pusporagan, 23
Oktober 2020
0 Komentar