Kalau menurut alamat rumah
yang tertera pada unggahan gambar facebook
Budi Maryono di bungkus paket kiriman Kiai A. Mustofa Bisri (Gus Mus) tak salah
lagi, “Ini pasti alamatnya,” batinku.
Sejenak aku mengingat gambar
halaman rumah yang pernah Pak Budi unggah. Dari alamat dan ingatanku ada yang
tak sesuai. Seingatku rumahnya mempunyai halaman yang terdapat dua kursi dan
meja, namun kalau menurut alamat nyatanya rumahnya tak ada halaman. Kursi yang
kubayangkan terletak di halaman rupanya berada di depan rumah, persis di tepi
jalan.
Di depan rumahnya terdapat
spanduk toko bertuliskan “Cucu Fatimah”. Ada etalase yang berisi barang
dagangan seperti bolpoin, buku tulis, dan di atasnya ada jajanan. Sementara di
depannya ada booth untuk menjajakan
minuman. Agak ragu benar atau tidak itu rumah Pak Budi, tapi aku beranikan
beruluk salam, toh semisal keliru juga tak masalah. “Namanya juga nggak tahu, kan manusiawi,” batinku
membenarkan diri.
Seorang anak laki-laki
menyambutku. Wajahnya tak asing, sering aku lihat di unggahan Pak Budi – kalau
tidak salah anak bungsunya. Ia menanyakan padaku, “Mau beli apa, Mas?”
“Beli buku,” jawabku singkat.
“Silahkan dipilih, Mas,”
ucapnya sembari membuka etalase yang terdapat buku tulis, “yang mana, Mas?”
Aku mengikuti pandangan anak
laki-laki itu yang tertuju pada sederet buku tulis. Aku menyapu pandangan ke
seluruh etalase, namun tak satu pun kutemukan buku Pak Budi. Pandanganku
berganti ke arah anak laki-laki itu.
“Kalau bukunya, Pak Budi, ada?”
“Oh,” ucapnya dengan air muka berseri-seri,
“sebentar ya, Mas.”
Lalu ia masuk ke rumah,
sebentar kemudian keluar lagi.
“Mas, namanya siapa?”
“Mufti,” kataku, “Taufiqillah
Al Mufti, lengkapnya.”
Sejurus anak laki-laki itu
masuk kembali, lalu keluar lagi.
“Sebentar ya, Mas, Bapak masih
di dalam,” ucapnya.
“Iya.”
“Mas, silakan tunggu, duduk
dulu,” ujarnya sambil menunjuk kursi hitam yang terbuat dari ban bekas di
samping booth.
Aku ragu-ragu melangkah, anak
laki-laki itu keluar dari balik etalase dan mengarahkan aku ke kursi. Aku pun
duduk dengan takzim, lalu meletakkan ransel ke bawah dan kusandarkan pada
kursi.
Sambil menunggu aku
membayangkan sosok Pak Budi, sejauh ini aku hanya melihatnya dari foto-foto
yang ia unggah di facebook. Pernah melihat
langsung saat ada seminar penerbitan di Kota Lama, cuma sekilas, tak sempat
berbicara langsung kala itu. Kagum mendengar penuturan Pak Budi tentang
penerbitan indie, pun kepenulisan, yang harus membumi (baca: realistis).
**
Sebelumnya aku mengetahui Pak
Budi dari jejaring pertemanan penulis-penulis Jawa tengah di facebook. Saat itu, pertama kali aku
mengenal Dwi Cipta, kemudian Gunawan Budi Susanto alias Kang Putu, dan akhirnya
merembet tahu namanya Budi Maryono. Saat itu, ia gencar mempublikasi karya
terbarunya Jetty Maika Bertahan di Ujung
Pointe.... Belum-belum aku sudah terkesima, “Keren sekali judul bukunya,” batinku,
walau sejujurnya tak tahu “pointe” itu apa.
Tak selang lama, entah
beberapa hari atau bulan setelah mengikuti facebook-nya Pak Budi, ia mengunggah bukunya Cara Keren Nulis Cerpen. Saat itu aku
masih benar-benar awam dan ingin banget-nget belajar menulis cerpen, maka kubeli
buku itu dari Pak Budi. Ia mengirim buku itu dari Semarang, ke Surabaya
tempatku studi kala itu. Begitu sampai, kubuka bungkusnya, dan aku tercengang. Kupikir
itu buku barunya, rupanya sudah cetakan ketiga! Padahal kalau kubaca
kalimat-kalimatnya biasa saja, tidak ada yang “wah”, namun kata-katanya
mengandung kekuatan.
Buku itu berjasa sekali
memberikan aku semacam panduan menulis. Aku akhirnya tahu, sebuah ide bisa berkembang menjadi cerita.
Hal-hal sederhana, peristiwa sehari-hari yang remeh-temeh, bisa menjadi
inspirasi mengarang. Pun membuat plot dan penokohan dalam cerita tak perlu
rumit-rumit, mendetail, karena cukup meminjam karakter-karakter dari orang
sekitar. Mengamati, mengolah, dan menyarikannya ke dalam cerita.
Saat skripsi mendesak harus kuselesaikan,
buku Cara Keren Nulis Cerpen nyaris
tak pernah kusentuh, padahal aku belum merasa bisa mengarang cerita. Belum satu
pun karyaku yang tembus media, kalau itu dianggap indikator “bisa”. Dan ketika
aku wisuda, buku itu juga tak pernah lagi kusentuh, malah saat aku pulang
kampung ke Semarang buku itu kutinggal di kantor PMII. Entah, bagaimana
nasibnya buku itu sekarang....
Nah, kunjunganku ke rumah Pak
Budi, tak lain dan tak bukan, membeli buku Cara
Keren Nulis Cerpen lagi yang tercetak
ulang kesekian kali.
**
Pak Budi keluar dari rumah,
berkaus dan bersarung, berjalan santai sambil menenteng sebuah buku bersampul
abu-abu. Aku pun berdiri menyambut dan menyalaminya. Lalu ia menyerahkan buku
itu kepadaku. Mataku berseri-seri melihatnya, sejenak bernostalgia dengan buku
yang terdahulu dengan sampul warna hitam.
“Kopi apa teh?” tanya Pak Budi.
“Kopi, mboten napa-napa.”
Kemudian ia masuk kembali ke
rumah, lalu keluar sambil membawa dua gelas; air putih dan kopi.
“Jenengan mboten ngopi?”
“Aku wis ngopi mau.”
Setelah menyeruput satu
tegukan sejurus aku merobek plastik pembungkus buku, membuka lembar pertama,
dan meminta tanda tangan pada Pak Budi.
“Jenengmu sapa?” tanya Pak Budi bersiap menulis.
“Much. Taufiqillah Al Mufti.”
“Kok angelmen!” sergahnya, “coba kamu tulis.”
Aku mengambil ponsel dan
mengetik nama panjangku di aplikasi catatan. Kemudian aku menyerahkan ponselku
kepadanya. Dengan hati-hati ia menulis sesuai yang aku ketik, lalu menyerahkan
kembali buku beserta ponsel kepadaku.
“Jenengmu ki kok kayake ana turunan yai,” ucapnya tiba-tiba.
“Mboten, Pak,” kataku sambil tertawa kecil.
Selanjutnya aku membuka daftar
isi buku itu dan mataku seketika tertumbuk pada bab Mengasah Mata Pengarang. Pada bab itu sebelumnya aku telah membaca.
Bab yang berbicara pada proses kreatif pengarang. Bagaimana memanfaatkan ide
dan gagasan yang muncul saat mengamati peristiwa sosial sehari-hari. Walau
begitu, rasanya kurang afdhal, kalau
pemahamanku atas bab itu tak mendapat tashih
langsung dari penulisnya hi-hi-hi.
Pak Budi menjelaskan bahwa manusia
mendapat tugas kenabian untuk menulis. Ide, gagasan, dan inspirasi merupakan given atau anugerah yang Tuhan berikan
kepada manusia. Manusia bertugas menuangkan ide yang ia dapat dalam tulisan.
Maka, manusia mesti pandai-pandai menangkap makna di balik peristiwa, sekalipun
remeh-temeh.
Seseorang yang mendapat
pencerahan lalu menuangkannya dalam tulisan, menurut Pak Budi, merupakan
sastrawan. Maka, segala bentuk tulisan merupakan karya sastra.
“Lo, resep dokter juga
termasuk karya sastra,” ucap pengelola kelas menulis (online) BudiMaryono WritingSchool.
Dikotomi karya sastra dan
ilmiah telah membuat jurang pemisah. Seolah karya sastra sepenuhnya fiksi dan
khayalan, tak memerlukan landasan ilmiah. Sementara karya ilmiah seluruhnya
fakta dan memiliki dasar logika, tak perlu sentuhan imajinasi. Padahal,
keduanya sama, sama-sama memiliki landasan logika dan imajinasi. Hanya,
perbedaannya terletak pada cara penyampaiannya.
“Menurut Pak Budi, bagaimana
dengan adagium durce et utile (benar
dan indah)?”
“Menurutmu, Qur’an itu puisi,
prosa, atau apa?”
“Ya, bisa prosa, juga bisa
puisi,” jawabku sekenanya.
“Yang jelas Qur’an itu benar
dan indah, kan?” kata Pak Budi, “bagaimana tidak indah, cara membacanya saja
bisa buat qiro’ pun bentuk hurufnya
bisa melungker dan modot (kaligrafi) begitu.”
“Iya, Pak,” kataku.
Selanjutnya Pak Budi
menegaskan bahwa proses kreatif bukan berarti sebebas-bebasnya. Proses kreatif
ada koridornya, sejauh masih bersentuhan dengan orang lain. Seperti halnya
ketika sebuah tulisan dimaksudkan supaya dibaca publik. Pertanyaannya, apakah publik
sanggup memahami, setidaknya mampu membaca, tulisan itu. Kecuali, bila menulis
untuk kepentingan pribadi atau bersifat rahasia, semakin tak dapat memahami semakin
bagus.
Misal, Pak Budi pernah menulis
novel remaja. Ia sempat berdebat dengan marketing
penerbit perkara yang cukup sakral, yaitu “judul”. Pak Budi dengan dasar
pemahamannya terkait tatabahasa dan sosio-linguistik mempertahankan judulnya.
Sementara marketing dengan
kemampuannya menangkap keinginan pasar menganggap judul novelnya tak laku.
“Kan tidak menggunakan nama
asli, Bapak,” ucap Pak Budi menirukan perkataan marketing, “aku tetap bersikukuh bahwa judulku layak.”
Ada dua novel teenlit yang Pak Budi tulis, Safa Gregetan dan Metamorforlove. Dua-duanya penerbit mayor yang mencetaknya, Elex
Media Komputindo dan Gramedia Pustaka Utama. Di novel tersebut Pak Budi
menggunakan nama pena, Nora Umres. Entah yang mana di antara novel itu yang Pak
Budi pertahankan judulnya sampai berdarah-darah. Atau, malah dua-duanya! Walau
demikian, Pak Budi pun tak menyangka hal yang terjadi setelah novelnya terbit.
“Gimana, Pak? Benar kan
novelnya laku,” ujar Pak Budi menirukan kata marketing saat novelnya laris di pasaran.
Aku tersenyum mendengarnya.
“Sama halnya ketika aku
menulis cerbung, harus efektif dan akhir cerita mesti sambung dengan cerita
selanjutnya,” kata mantan redaktur Budaya Harian Suara Merdeka itu.
Cerbung yang Pak Budi maksud
itu yang kini menjadi novel Jula-juli
Cinta Mini. Cerbung yang rutin ia tulis untuk koran Suara yang berdiri di
Hong Kong.
Sebagai penulis, Pak Budi tak
pernah membatasi diri menulis satu bentuk saja. Ia bisa menulis puisi, cerpen, novel
teenlit, bahkan skenario film. Hal
ini berbeda dengan penulis lain, semisal Joko Pinurbo yang mengatakan, “Urusan
saya dengan puisi belum selesai.” Walau begitu, Pak Budi tak melakukannya
dengan setengah-setengah, semuanya ia terjang sepenuh hati. Terbukti kumpulan
cerpennya, Ustad Salim Menangis, meraih
nomine anugerah Prasidatama dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Terakhir, aku ingin menanyakan
mengenai aliran atau ciri khas tulisan. Lalu seberapa pentingkah seorang
penulis mesti memiliki ciri khas? Sebagaimana brand produk yang lebih mahal ketimbang produknya sendiri. Pun aku
merasa, Pak Budi sudah memiliki ciri khas sendiri dan ia selalu menampilkannya
di tiap tulisannya.
“Pak Budi, apakah penulis
harus punya ciri khas?” tanyaku.
“Halah, itu hanya keresahan eksistensial
penulis” jawab Pak Budi, “ciri khas tak perlu kudu begini atau begitu alias bisa melalui proses nulis yang
terus-menerus hingga pembaca yang merasa atau menemukan ciri itu pada karya
penulis....”
Setelah itu, aku pamit pulang
dengan perasaan puas. Puas karena (merasa) telah mengkhatamkan buku Cara Keren Nulis Cerpen sekali duduk....
Pusporagan, 14 November 2020
Gambar: dokumen pribadi
0 Komentar