Setelah bekerja delapan jam (plus satu jam istirahat), menyapa pelanggan seantero Indonesia, menyelesaikan puluhan kes, kadang mendapat pelanggan yang marah-marah, berkata kasar, tak mau menutup telepon, ngotot ingin bicara dengan atasan, belum lagi harus selalu berusaha lembut dan ramah, nah, pertanyaannya, ke mana melabuhkan diri ketika kepala sudah kemebul? Pada Tuhan? Tentu saja, tapi imanku masih cethek. Lalu? Yaaa... ke Warung Makan Bu Yani.

“Mas Alan,” sapa teman kerjaku, “bar online ayo mangan....”

Teleponku berdering.

Aku memberinya jempol tangan, lalu menyapa pelanggan, “Telkom, dengan Alan bisa dibantu?”

Selesai panggilan dan mengatasi keluhan pelanggan dari kejauhan terdengar suara, “Sif AZ, lembur satu jam ya kaaak.” Lantas aku melihat jam di pojok kanan bawah pada layar komputer yang menunjukkan pukul 02:32. Aku melihat temanku yang berada di depanku, ia juga melihat ke arahku, lalu ia menggelengkan kepala. Aku menutup semua aplikasi, menyimpan semua data percakapan pelanggan ke email, lalu aku melihat kanan-kiri, dan diam-diam menekan tombol “LOGOUT” pada Avaya (aplikasi telepon). Aku dan temanku pun ngaciiir....

 Meh kerja apa dikerjai?” ucap Riki sambil mengambil tas pada lokernya.

Iya ha-ha,” sahutku yang berada di sebelahnya persis.

Kami mengembalikan kunci loker ke satpam, si satpam tak menggubris, hanya melirik, lalu sibuk lagi dengan gawainya. Kami pun asal meletakkan kunci loker pada kotakan yang sudah terisi bejibun kunci dengan gantungan bernomor. Lalu kami mengambil motor masing-masing. Saat aku akan sampai ke depan kantor, si Riki sudah naik Jupiternya, dan ia langsung membandang motornya saat melihat aku keluar dari parkiran. Sejurus aku menyusulnya.

Di Warung Makan Bu Yani, kami langsung mengantri memesan makanan. Aku memesan nasi rames, sedangkan Riki memesan soto. Seorang perempuan paruh baya yang berambut sebahu menanyai kami, “Minumnya apa, Mas?”

“Es teh, Bu,” si Riki seketika menyahut. 

Perempuan paruh baya itu lalu melihat aku.

“Sama, Bu. Tapi, gulanya sedikit saja ya,” ucapku.

Kami menuju ke meja yang berada tepat di depan etalase. Sembari menunggu Riki menghunus sebuah batang rokok lalu menyalakannya. Pelan ia menghisap rokok dan menghembuskan asapnya. Sesaat asapnya mengawang di udara namun seketika terhempas ketika angin menerjangnya. Wus....

Tak selang lama, pesanan kami datang. Perempuan paruh baya itu yang mengantarkan nasi rames, soto, dan dua es teh kami. Aku mengambil mangkuk berisi sambel sedang Riki mengambil botol kecap. Hanya sedikit Riki menuangkan kecap, kemudian ia diam melihat aku menuangkan sambel ke tepi piring. Ketika aku merasa cukup lantas kuserahkan mangkuk itu ke Riki. Kami makan dengan lahap. Sesekali aku menjeda untuk minum, meredakan pedas yang menjilat-jilat, lalu lanjut melahap.

Di Warung Makan Bu Yani tak hanya kami karyawan yang makan, namun ada karyawan yang lain, dari yang paling junior sampai yang senior. Di warung tersebut, kami para karyawan bisa melepas penat semalaman kerja, melupakan kes, dan temuan dari kualiti. Walau begitu ada saja kes yang menyelinap di obrolan kami. Alih-alih mencari hiburan, nyatanya masih saja membahas kerjaan. Seperti Riki yang tiba-tiba marah karena ingat ada seorang pelanggan yang langsung memakinya. “Anjing kalian,” ucap Riki menirukan kata pelanggan.

“Masa tiba-tiba sekebun binatang keluar semua, Mas!” ujarnya meradang, “nggak ada salam, penjelasan, tapi aku langsung ia damprat.”

“Memang, masalahnya perihal apa?” tanyaku.

“Tagihan melonjak,” jawab Riki, “padahal sudah aku jelasin tagihannya itu sudah penuh, sementara tagihan bulan kemarin masih prorata.

‘Cek, berapa kali aku melapor. Kenapa itu tidak selesai-selesai?’

‘Iya, Pak. Sudah kami cek dan tagihannya sekarang sudah sesuai.’

“Tanyanya begitu terus dan jawabanku sama,” ujar Riki geram.

“Terus akhirnya bagaimana?” tanyaku.

“Aku mau buatkan laporan malah ia menyalak.

‘Ah, percumaaa laporan terus tapi tidak ada tindak lanjut.’

‘Kami prioritaskan, Bapak!’

‘Namamu siapa?’ tanya pelanggan.

‘Riki!’

“Lalu telepon mati. Pet.”

Apik ta! Ha-ha,sahutku.

Aku pun menimpali cerita Riki dengan cerita dari karyawan yang lain. Ada yang pernah mendapat telepon dari seorang polisi, ia mengeluh internetnya yang mati. Alih-alih memperbaiki, karyawan itu me-restart modem dari sistem, tetapi yang terjadi malah tambah parah. Si polisi memaki-maki karyawan itu, bahkan mengancam akan memenjarakan. Entah dengan pasal apa polisi itu bakal menjerat.

Kami tertawa.

Riki tak mau kalah menimpali cerita. Ia pernah mendapat telepon dari seorang tentara. Tentara itu mengancam, kalau masalah internetnya tidak segera selesai ia akan menembak. Sampai di sini aku tertawa, geli, membayangkan bagaimana caranya menembak sementara tentara dan Riki jaraknya jauh sekali. Mungkin bisa, kalau mau repot-repot menurunkan intel. Seperti fenomena petrus di masa lampau.

Indonesia saat ini mengalami resesi setelah dua kuartal minus pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan berdampak melonjaknya harga dan berbuntut PHK. Tak ayal, resesi ini nyaris mirip dengan krismon. Memang, sejak pandemi merebak seantero dunia membuat pergerakan ekonomi menjadi melambat. Perputaran uang pun tak sekencang sebelumnya. Bagaimana tidak? Nafsu berbelanja harus terkurung sementara karena pemberlakuan protokol kesehatan, seperti jaga jarak.

Tak urung, banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya. Apalagi kalau perusahaan itu menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Berbeda ceritanya dengan perusahaan tempatku bekerja. Alih-alih memecat karena tak sanggup bayar, perusahaan malah terus menambah karyawan. Memang, perusahaan tempatku bekerja merupakan salah satu perusahaan vital yang harus tetap beroperasi (Permenkes 9/2020 tentang PSBB).

Bayangkan, bagaimana mungkin perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi dan jaringan internet berhenti? Bisa jadi malah untung besar, karena tingginya permintaan.

Terbukti, PT. Telekomunikasi Indonesia tercatat mengantongi laba bersih senilai Rp 16,67 triliun periode Januari-September. Triliun ya, ingat triliun, bukan miliar, itu pun sudah bersih-sih!  

"Pencapaian ini tidak lepas dari kontribusi IndiHome yang menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan pendapatan Perseroan, selain bisnis mobile data yang tetap tumbuh dengan baik. Hal ini sejalan dengan fokus bisnis perusahaan pada tiga domain bisnis digital, yakni connectivity, platform dan services," Dirut Telkom Ririek Ardiansyah (diunduh 7/11/2020 dari www.cnbcindonesia.com).

IndiHome mengalami kenaikan pendapat menjadi Rp 16,11. Pun terjadi kenaikan jumlah pelanggan 752 sepanjang sepanjang tahun ini. Dengan demikian total pelanggan IndiHome terdapat 7,76 juta. Konon, tahun ini IndiHome menargetkan dapat 8 juta pelanggan.

Walau begitu, perusahaan gencar melakukan rapid test pada karyawannya. Mereka yang reaktif harus melakukan karantina mandiri di rumah atau kos masing-masing. Mereka juga menerima gaji setiap bulannya, walau tanpa tunjangan prestasi (tupres). Kalau pun ada tupres, apa prestasi yang cocok selain karantina yang baik. Untuk jaminan kerja, perusahaan tempatku bekerja tak perlu diragukan lagi.

Sekarang perusahaan sedang berusaha mendorong karyawannya bekerja dari rumah (WFH). Kebijakan ini sudah berlangsung beberapa bulan, karyawan bekerja dari rumah. Di row kantor beberapa komputer sudah tak kelihatan, sudah berada di rumah atau kos karyawan. Pun di kantor hanya segelintir karyawan yang bekerja, walau begitu tak sampai membuat sepi. Kendati ada beberapa karyawan yang kembali kerja di kantor (WFO), karena tak betah, atau memang terkendala secara teknis.

Wis, Rik,” kataku, “disyukuri wae, bethek-betheke perusahaan ya untung gedhe, sik sanggup menggaji. Mbuh iling apa ora karo karyawane ora penting. Ya, kan?”

Riki memandang ke arahku, mengangguk. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskannya.

Sampangan, 7 November 2020

sumber dan keterangan foto: Muhamad Ismail Hasan (temanku kerja). foto diambil saat aku tertidur menunggu telepon.