pustaherykurnia.wordpress.com

/1/


"Mak, Mbah Salimi apakah nenekku?"

Itu lah pertanyaan yang kulontarkan kepada Emak sejak aku kelas 5 SD. Namun hingga aku duduk di bangku kelas 3 SMA pertanyaanku itu tidak pernah dijawab dengan jelas. Emak selalu menjawab dengan ragu, alih-alih ingin bungkam dan berkelit.

Aku sendiri itu curiga, dari jalur Ibu aku punya nenek, dan dari jalur Bapak aku punya nenek pula. Lalu Mbah Salimi nenek dari jalur mana? Apakah Mbah Salimi istri kedua? Dari kakekku jalurnya siapa? Pertanyaan ini selalu menguntitku tatkala melihat Mbah Salimi duduk termangu setiap sore di teras rumah.

Entah apa yang ia lihat, matanya mengarah ke depan dengan pandangan kosong. Sambil ditemani segelas teh yang tergeletak di sampingnya ia bisa bertahan berlama-lama di sana hingga melebihi jam 6 sore. Di kala orang-orang sedang berjalan melangkah ke masjid dengan sarung dan mukena, Mbah Salimi tetap termangu.

Orang yang selalu mengingatkan Mbah Salimi kalau sudah petang agar bergegas masuk ke rumah, untuk sholat dan makan malam, adalah Emak. Dan kalau pada waktunya Emak sedang repot memasak, aku yang disuruh mengingatkan Mbah Salimi. Hanya, jika aku yang mengingatkan sangat besar kemungkinan tak digubris oleh Mbah Salimi.

Kalau sudah begitu, Emak yang akan turun tangan. Lalu berkata, "Bu, ayo masuk ke rumah. Masakannya sudah matang. Ayo makan. Jangan berlama-lama ngalamun. Nanti bisa kesirep!" Mbah Salimi enteng saja menanggapi ajakan setengah berseloroh itu dengan tersenyum lebar, sehinggga giginya yang ompong kelihatan.

Pada suatu malam, ketika aku sudah menginjak di bangku kuliah, kuberanikan bertanya sekali lagi pada Emak, "Apakah benar Mbah Salimi adalah nenek kandungku?" Emak menggelengkan kepala sembari mengucapkan dengan lirih, "Bukan", supaya tidak terdengar Mbah Salimi yang tidur di dipan ruang depan.

"Lalu, Mbah Salimi itu punya hubungan darah dengan kita, Mak?" Tanyaku sambil menyetrika baju Bapak yang biasa digunakan untuk mengajar.

"Jelas punya," kata Emak singkat sambil melipat ulang baju yang baru saja kusetrika.

"Mbah Salimi itu hubungannya apa dengan Emak?"

"Bulek."

Ternyata benar firasatku, memang Mbah Salimi itu bukan nenekku. Namun aku sengaja melempar pertanyaan pada Emak dengan kalimat; "Apakah Mbah Salimi itu nenek kandungku?", karena kalau toh bukan nenek kandung jadinya pertanyaanku tidak menyakitkan hati si penjawab. Yaitu Emak sendiri. Dan seandainya benar Mbah Salimi adalah nenek kandungku akan memuaskan buatku.

Emak akhirnya bercerita riwayat hidup Mbah Salimi. Sejak usia 25 tahun Mbah Salimi sudah ditinggal mati oleh suaminya yang meninggal pada saat berjualan koran di bawah lampu merah Jalan Yos Sudarso. Sebelum pergi meloper koran yang pada gilirannya mengakhiri hidupnya. Suaminya berjanji akan pulang sebelum matahari terbenam. Walau Mbah Salimi sudah tahu kebenaran suami yang ia cintai sudah terenggut nyawanya. Ia masih menanti.

"Memang Mbah Salimi tidak punya anak, Mak?" Tanyaku sambil berjalan ke lemari baju.

"Punya," jawab Emak sembari membukakan lemari, "Tapi sudah meninggal tiga hari sejak kelahiran."

Sesaat aku terperenyak mendengar jawaban Emak, kemudian tersadar setelah Emak menegurku. Lalu aku meletakkan satu per satu baju dan menatanya dengan rapi. Namun dalam pikiranku tergiang-ngiang seorang Mbah Salimi yang menjanda selama lima puluh tahun lebih dan setia menanti kedatangan suaminya.

/2/

Sejauh yang kuketahui Mbah Salimi sejak aku kecil sudah berdagang pakaian bekas. Usaha ini sudah dijalankan Mbah Salimi 52 tahun lamanya ternyata. Dan sampai sekarang belum berhenti. Pernah, aku bertanya mengapa Mbah Salimi tidak istirahat saja, seperti orang-orang sepuh pada umumnya. Ia lalu menjawab dengan nada lembut namun menyimpan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Lebih baik berdagang. Dapat uang hasil kerja keras sendiri daripada mengemis di jalan. Apalagi sampai mengharap belas kasihan orang lain," ujarnya saat kutanya ketika aku masih duduk di kelas 1 SMA.

Selama berdagang, ia lakukan dengan gembira sebenar-benarnya gembira. Pasalnya tidak sekali dua kali Mbah Salimi kena depak oleh Satpol PP ketika berdagang. Pernah ia berdagang di Pasar Klewer diusir pasukan hijau, pindah ke Pasar Gedhe juga diusir bahkan dagangannya berupa pakaian diangkut ke truk aparat dan tidak dikembalikan lagi. Pernah juga ia direlokasi di Pasar Gadhing, tapi tidak lama bertahan karena lelah harus naik tiga lantai menuju stan jualannya.

Sekarang Mbah Salimi sudah faham peta operasi Satpol PP yang tugasnya tidak lebih meneror pedagang daripada menertibkannya. Mbah Salimi memilih berdagang di Jalan Veteran. Hanya, ia selalu berangkat siang untuk menghindari kejaran Satpol PP. Walau tiap hari Mbah Salimi harus menempuh 3 km dari rumah menuju lokasi dagangnya, tak merisaukan baginya. Sungguh, pekerjaan yang tak mudah untuk seorang perempuan yang setua Mbah Salimi, ditambah statusnya yang janda dan tidak memiliki keturunan!

Meskipun lanjut usia dan hasil dagangannya tak seberapa. Mbah Salimi berusaha membelikan jajanan untuk cucu-cucunya, salah satunya aku. Walau itu sekadar gorengan, tempe, tahu isi, dan yang paling mahal adalah martabak. Apalagi saat daganganya sedang laris-larisnya, hampir setiap hari ia membawa buah tangan. Mbah Salimi selalu ingin berusaha memberi sesuatu kepada orang di sekitarnya dan menyedikitkan untuk menerima belas kasihan, apalagi itu dibalut dengan kepentingan.

/3/

Keesokan hari aku mendengar kabar Mbah Salimi diusir lagi oleh Satpol PP ketika berdagang. Sejurus aku menuju Jalan Veteran tempat ia berjualan baju bekas setelah ditelpon Emak. Tak menghiraukan dosen yang sedang menerangkan, aku minta izin dan pamit dari kelas. Sang dosen memberi izin namun dengan senyum yang ketus.

Sesampai di sana ternyata lokasi jualan Mbah Salimi sudah bersih dan tak berbekas. Aku saja nyaris tidak mengenali bahwa apakah di sini benar tempat Mbah Salimi berjualan baju bekas. Tempat yang menjadi saksi bisu dan pelajaran buat anak-anak muda seusiaku bahwa kemandirian itu suatu harga diri dan tak dapat ditawar-tawar lagi. Kini, Sang Guru pemberi teladan itu, Mbah Salimi, dimana engkau?

Aku mencoba bertanya pada seorang satpam yang berjaga-jaga di depan sebuah kantor. Wajahnya yang murah senyum membuatku berkeyakinan orang ini terbuka untuk ditanyai-tanyai. Sebagai satpam ia tidak berlagak sangar dan garang, tapi ramah dan penuh kewibawaan. Sehingga tongkat yang terselip di celananya itu tidak lebih dari alat untuk menjaga perdamaian bukan menebar teror.

"Bapak tahu nenek saya yang biasa jualan di situ?"

"Nenek-nenek?" Tanyanya penuh selidik sambil berkacak pinggang, "Oh ya yang biasa jualan di sana ya," ucapnya sambil menuding ke arah bawah pepohanan yang rindang.

"Betul," sahutku, "Bapak tahu kemana?" Tanyaku penuh harap.

"Sepertinya ikut digelandang ke mobil bersama Satpol PP. Coba ke Polres sekarang, Mbak."

Sejurus aku menarik gas sekencang-kencangnya menunu Polres. Ketika aku tiba di sana. Aku melihat Mbah Salimi sedang diinterogasi oleh seorang polisi. Segera aku mendekat, dan tak ragu-ragu aku mengaku sebagai cucu dari Mbah Salimi. Si polisi sempat terkejut saat aku mendadak datang dan memperkenalkan diri. Kemudian ia juga meminta aku duduk, bersebelahan dengan Mbah Salimi. Dari samping, aku melihat raut wajah Mbah Salimi tetap tenang dan teduh walau tadi dicecar pertanyaan oleh polisi.

Dari si polisi aku diberi tahu bahwa Mbah Salimi dituduh mencuri sebuah kemeja. Namun Mbah Salimi, dengan suara lirih, membantah tuduhan polisi tersebut. Ia menjelaskan, kemeja yang ia jual itu dibeli dari seorang tukang becak. Kemudian polisi tersebut bertanya, "Apakah seperti ini?", sambil menerangkan perawakan tukang becak tersebut. Mbah Salimi mengangguk. Tanpa ragu, polisi itu berkata, "Nah, itu pencurinya!

Aku terhenyak mendengar perkataan polisi itu. Sejurus aku berpaling ke wajah Mbah Salimi yang masih saja tenang dan teduh, tak ada sama sekali terlihat ketegangan. Mbah Salimi menoleh kepadaku, kedua mata kita bertemu. Ia bertanya, "Nduk, sudah jam berapa sekarang?" Kemudian aku menjawab, "Jam 4 sore, Mbah." Mbah Salimi pun memintaku pulang untuk menunggu suaminya di teras rumah yang barangkali datang saat itu.

Seketika aku menolak permintaan Mbah Salimi. Namun ia malah ingin mencium tanganku dan segera kutarik. Sekilas aku memandang wajah Mbah Salimi yang memelas dan berbeda jauh dari sebelumnya. Sebelum pulang, aku meminta kepada polisi itu untuk memperlakukan nenekku baik-baik, jangan sampai diperlakukan kasar apalagi sampai menganiaya. Polisi itu mengangguk dengan terpaksa. Dan dengan berat hati aku meninggalkan Mbah Salimi. Di perjalanan aku menitikkan air mata.

/4/

Sudah beberapa kali sidang kasus pencurian kemeja yang dituduh dilakukan Mbah Salimi digelar. Dan pada hari ini adalah sidang putusan vonis oleh hakim setelah mendengar paparan saksi, seperti Satpol PP, satpam kantor, tukang-tukang becak, dan termasuk aku. Selama Mbah Salimi menjalani penahanan di tengah masa sidang, aku yang menggantikannya duduk di teras rumah menunggu kedatangan suaminya. Walau aku sadar, ini hanya usaha yang sia-sia. Namun setidaknya inilah yang membuat Mbah Salimi tegar menghadapi proses hukum.

Sebenarnya banyak pakar hukum dan aktivis yang menuntut pembebasan tak bersyarat untuk Mbah Salimi karena tuduhan jaksa sangat tidak beralasan dan berlandaskan hukum yang jelas. Pasalnya, Mbah Salimi membeli kemeja itu dari seorang tukang becak dengan akad yang sah. Artinya, Mbah Salimi bukan pencuri melainkan si tukang becak itulah pencurinya. Namun para hakim tetap bergeming dan proses pengadilan terus berlangsung. Tidak terpengaruh tekanan dari luar.

Pada siang hari ini, waktu dimana Mbah Salimi berjualan baju bekas, tapi berganti dengan jadwal persidangan. Aku melihat di pintu dekat kursi panitera menyembul Mbah Salimi berjalan dengan dituntun dua polisi kemudian ia didudukkan di kursi yang berada di tengah-tengah, menghadap para hakim. Seperti biasa wajah Mbah Salimi nampak tenang dan teduh. Tak tergurat sama sekali raut kecemasan yang terpacak di garis mukanya yang sudah berkerut termakan usia.

Persidangan pun dimulai. Ketika ketua hakim hendak membacakan vonis terhadap Mbah Salimi. Dari luar ruangan terdengar rintik hujan yang jatuh dengan cepatnya, terdengar keras menghantam genteng dan mengguyur jalan. Angin bertiup kencang, dan sesekali kilat mengerjap-ngerjap. Ketika hujan mulai mereda dan angin yang bertiup kencang telah tiada, ketua hakim bersiap-siap kembali membacakan vonis. Saat vonis selesai dibacakan oleh hakim, tak terlihat sama sekali gerak-gerik Mbah Salimi. Sejenak aku mulai curiga. "Jangan-jangan," kata batinku.

Sejurus aku berlari dan melompat pembatas audien dengan forum sidang kemudian bergegas menghampiri Mbah Salimi. Kulihat wajahnya tetap saja tenang dan teduh. Hanya, matanya terpejam. Aku mengecek pembuluh darahnya, ternyata tidak berdetak. Lalu aku beralih mendengar degup jantungnya, sama. Tidak berdetak juga. Lantas aku berteriak, meminta pertolongan medis. Seketika Mbah Salimi digotong ke ambulan, setelah dipanggil oleh petugas. Dan dibawa menuju rumah sakit terdekat. Aku dan Emak berada di ambulan itu. Menemani Mbah Salimi yang sedang tidur dengan tenang.

Sampai di rumah sakit, Mbah Salimi segera dilarikan ke UGD. Aku dan Emak cemas dan berusaha mengusir bayangan-bayangan buruk yang bergelayut tentang kemungkinan nanti yang akan dialami Mbah Salimi. 3 jam kami menunggu, akhirnya dokter yang merawat Mbah Salimi keluar ruang ICU. Ia berjalan ke arah kami dengan muka yang murung. Sesaat ia bergantian memandangi aku dan Emak. Dan dengan pelan-pelan ia mengatakan. Kabar yang tak ingin kudengar. Kabar yang memekakkan telinga dan merongrong perasaanku.
"Apakah tidak bisa ditolong, Dok?" Tanyaku setengah menuntut.

Laki-laki yang berkalung stetoskop dan berjas putih itu menggelengkan kepala. Aku seperti terlempar ke pusaran air yang tak bertepi. Berputar-putar dalam gelombang yang tak sudah-sudah.

Takdir...

Itu lah yang kemudian terbetik di benakku setelah kematian Mbah Salimi. Tetangga, pedagang-pedagang kaki lima, dan tukang-tukang becak yang biasa berlangganan baju bekas milik Mbah Salimi berbondong-bondong datang dan membacakan doa kepadanya tiap selesai Isya di rumah kami. Mengharapkan yang terbaik di sisi Tuhan. Di antara mereka, tak satupun kudengar yang menjelek-jelekkan Mbah Salimi. Di situ aku berkeyakinan, Mbah Salimi akan disandingkan bersama para suhada.

Usai pengajian tujuh hari kematian Mbah Salimi. Terbesit pertanyaan yang hendak kulontarkan pada Emak setelah aku mengetahui bahwa Mbah Salimi bukan nenek kandungku, "Emak, apakah aku bisa menjadi cucu kandungnya Mbah Salimi?" Emak pun bertanya balik, "Mengapa begitu, Nduk?"

"Kalau jadi cucu kandung Mbah Salimi kan aku akan punya kewajiban selalu mendoakannya setiap selesai sembahyang. Dengan begitu amal baiknya Mbah Salimi akan terus mengalir, karena didoakan oleh anak keturunannya," kataku panjang lebar sambil merasai angin malam yang masuk dari teras depan tempat biasa Mbah Salimi menunggu suaminya. Hingga ia pun menyusulnya.

Semarang, 2 Februari 2020

Cerpen Much. Taufiqillah Al Mufti