![]() |
Dok. Lampung Post |
Saya
terhenyak ketika menonton sebuah video singkat di salah satu grub WA, berisi
ceramah seorang lelaki berjenggot dan mengenakan baju hitam. Dalam video
singkatnya, lelaki berjenggot itu mengatakan Cina terkena hukuman karena
mengisolasi warga muslim Uighur. Selain
itu, ia juga mengatakan bahwa kedigdayaan Cina dengan kemajuan ekonomi dan kecanggihan
persenjataan militernya tak berdaya menghadapi virus Corona.'
“Sebagai
kaum muslimin, wabah ini jelas adalah takdir Allah Ta’ala, tetapi sebagai
muslim kita juga meyakini, bisa jadi ini adalah doa-doa orang yang terdzolimi kepada
pemerintah Cina, dimana Allah mengutus pasukan yaitu yang berwujud virus ini
untuk membungkam kesombongan Cina, dimana Cina melakukan penindasan kepada
saudara-saudara kita suku Uighur. Mereka disiksa. Mereka dipaksa meninggalkan
Islam,” secuplik perkataan lelaki berjenggot di dalam video
tersebut.
Tak berselang
lama pikiran saya mulai usil. Dalam video tersebut saya perhatikan, di pojok
kanan atas ada label bertuliskan “Taqwa Squad”. Sejurus kemudian saya masukan “Taqwa
Squad” ke dalam kolom mesin pencarian Google. Di tautan paling teratas muncul
link kanal Youtube bernama Taqwa Squad. Tak ambil pusing, walau HP tak terhubung
Wifi, segera saya klik tautan tersebut, dan... Lha dalah! Saya menemukan
video tersebut. Ternyata bersumber dari sini.
Tak berhenti
di situ saja. Saya mulai penasaran, sebenarnya siapakah lelaki berjenggot yang
mengatakan secara serampangan bahwa virus Corona yang menyeruak di Cina adalah hukuman dari Allah. Dalam keterangan video tersebut, tertera nama @ihsan_faruqi.
Mengamati penulisan namanya, sepertinya ini nama akun Instagram (IG). Nah! Ternyata
benar, ketika saya ketik di “pencarian” nama tersebut muncul akun IG ihsan_faruqi dengan keterangan nama “Cak
Ihsanul Faruqi”. Dengan jumlah follower 2.802, dapat dikatakan lumayan
sebagai influencer.
Hanya, setelah
saya amati akun IG tersebut agak geli ketika membaca keterangan: akun resmi
Ihsanul Faruqi (yang sebelumnya dibanned IG). Namun, kegelian saya berubah
menjadi sikap kritis. Saya mencoba melihat-lihat setiap postingan akun ini,
memastikan mengapa kok sampai akunnya di-banned IG. Tentu saja terdapat
postingan video tadi yang diberi keterangan (caption): di akun utama
@taqwasquad dihapus sama pihak IG. Ana posting ulang aja. Sejenak saya
kembali geli, tapi saya tak boleh terlena.
Ah, saya
ini memang aneh. Mengapa bisa geli pada orang bernama Ihsanul Faruqi karena toh
kalau saya ada di posisinya saya akan geli ketika menilai diri saya sendiri
dari kacamatanya. Baiklah, sekadar selingan. Kita lanjutkan lagi!
Sekilas,
apabila diamati dari seluruh postingannya dapat ditarik asumsi bahwa pemilik
akun ihsan_faruqi ini tergolong penganut Islam berwawasan keras. Banyak postingan
yang bernada tidak suka pada kafir – sebuah penyebutan yang hingga kini masih
multitafsir. Dan rata-rata menjurus ke arah perperangan dan pertumpahan darah
pada kelompok yang ia sebut kafir. Wajar apabila IG sampai mem-banned akun
tersebut karena kontennya rata-rata memantik huru-hara.
Kalau mengamati
cara bertutur dan materi perkataannya, si pemilik akun ihsan_faruqi atau Ustad
Ihsanul Faruqi ini dapat tergolong “da’i” atau penceramah. Dan dengan
mencermati materi ceramahnya yang terburu-buru menyimpulkan -- apapun --
sesuatu yang menyingung kaum Islam merupakan pelanggaran terhadap Allah. Suatu
cara berdakwah yang acap dilakukan penganut Islam berwawasan keras.
Jujur,
saya – yang walaupun awam perihal agama – miris melihat cara berdakwah yang
begitu. Kalau ada bencana dikatakan azab. Kalau ada yang berbeda aliran dikatakan
sesat. Kalau ada yang berbeda keyakinan dicap kafir. Dakwah model seperti ini bukan saja tidak menarik, tapi juga
menakutkan. Alih-alih mengajak pada kebaikan, tetapi dengan menebar teror. Yang
begitu-begitu tak mencerminkan visi Islam yang rahmatan lil a’lamin. Di
sini saya teringat meme; dakwah itu merangkul bukan memukul, dakwah itu
ramah bukan marah.
Setahu
saya, yang berhak mengklaim sesuatu sebagai “azab” itu hanya Allah. Karena azab
merupakan titahnya Allah. Kalau ada seseorang mengatakan suatu daerah atau kelompok
mendapat azab, berarti serampangan menyimpulkan kehendak Allah. Padahal musibah
itu terdapat dua kemungkinan; ujian atau hukuman. Ketika Ustad Ihsan Faruqi
mengatakan Allah mengutus pasukan yaitu yang berwujud virus ini untuk membungkam
kesombongan Cina, dimana Cina melakukan penindasan kepada saudara-saudara kita
suku Uighur, sama halnya mengatakan musibah yang menimpa Cina adalah
hukuman.
Saya kok
merasa cara berdakwah seperti itu mirip teroris. Bedanya lewat perkataan dan
lewat bom. Ketika ia mengatakan untuk membungkam kesombongan Cina seolah-olah
seluruh rakyat Cina bersalah. Padahal kalau lebih teliti mencermati ceramahnya,
kan yang dipermasalahkan pemerintah Cina karena merepresi muslim Uighur. Kenapa
hukumannya tidak dikhususkan kepada pemerintahnya? Kenapa ia dengan keras mengatakan
ratusan warga Cina terkena virus dan apakah dari sekian ratus warga itu tidak
ada yang muslim?
Sama halnya
dengan teroris, di awal 2000-an sering terjadi pemboman. Si pelaku bom
mengatakan alasannya melakukan aksi biadab itu karena kebenciannya terhadap
orang kafir, dalam hal itu terkhusus AS. Tetapi dari seluruh korban bom
tersebut juga terdapat orang Islam yang tewas. Maka ketika ia mengatakan Allah
mengutus pasukan yaitu yang berwujud virus ini seolah-olah Allah
digambarkan sebagai otak penyebaran virus yang telah ditetapkan WHO sebagai Public
Health Emergency of International Concern (PHEIC) dengan jumlah korban 490
jiwa per 5 Februari 2020. Padahal Allah me-rahmati seluruh makhluknya. Semisal Allah menghukum hamba-Nya, tentu dalam bingkai rahman-rahim-Nya.
Marilah
ganti cara berdakwah yang serampangan itu dengan tetap mengedepankan keimanan,
akhlaq, dan rasio. Segala sesuatu musibah yang masih sumir penyebabnya jangan
serta-merta disimpulkan sebagai hukuman Allah. Kalau pun toh yakin bahwa itu hukuman,
setidaknya mengedepankan akhlaq dan rasio untuk berhati-hati dalam mengambil
sikap. Tanpa itu penceramah tak ubahnya provokator. Sebagaimana kata Ibnu Rusyd, untuk mempengaruhi orang bodoh bungkuslah dengan agama!
Penulis; Much. Taufiqillah Al Mufti, alumni PMII dan Gusdurian
Penulis; Much. Taufiqillah Al Mufti, alumni PMII dan Gusdurian
2 Komentar
Enak diwoco lanjutan gus
BalasHapusMatur nuwun. Semoga bermanfaat Mas.
Hapus